Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Bukan Menggugat Agama, Apa Lagi Tuhan.


Tulisan ini hanya sekadar mengungkap satu fenomena, dimana agama selalu dijadikan kambing hitam, tameng pelindung, dan topeng yang menutupi kepicikan. Sejak dulu, agama memang disalahgunakan oleh kebanyakan orang.

Penyalahgunaan agama itu kerap kali dilakukan oleh orang yang dipandang paham agama. Ketika suatu kebenaran dibicarakan (misalnya), orang itu malah selalu mengatakan, "Ini firman Tuhan. Beginilah menurut agama," dan ucapan sejenis lainnya.

Tujuannya tak lain agar pandangannya diterima. Agar orang lain tak dapat membantah. Ya, jika mereka membantah tentu akan dianggap membantah agama dan melawan Tuhan. Orang seperti ini mengklaim Tuhan selalu berada di pihaknya.

Sebenarnya bukan agama dan Tuhan yang dibelanya, melainkan dia membela dirinya sendiri dengan membawa-bawa agama dan Tuhan. Coba perhatikan, apakah orang yang berseberangan dengannya adalah orang yang tidak mempercayai agama dan Tuhan? Tidak. Mereka sama-sama beriman.

Untuk membenarkan sikap arogansinya, dalil-dalil agama selalu menjadi pembenar. Mereka berkata, "Nabi membolehkan. Agama mengizinkan". Itu sebabnya anak-anak dipukul, istri disiksa, dan orang lain disakiti hanya karena sedikit perbedaan.

Coba perhatikan. Apakah benar agama demikian? Jika sebegitu buruknya suatu ajaran agama, lantas mengapa masih banyak orang-orang yang mempertahankan agama? Tentu jawabannya tidak. Agama tidak demikian. Agama selalu dipahami sebagai ajaran kasih dan sayang. Agama itu suatu rahmat bagi seru sekalian alam.

Tidak hanya itu, agama terkadang menjadi ladang basah dimana kekayaan dengan mudah didapat. Suatu praktek diada-adakan agar orang mengeluarkan uang dengan tujuan yang mulia kelihatannya. Tapi coba perhatikan. Adakah seremoni-seremoni keagamaan itu tercapai tujuannya?

Tidakkah cukup bukti dimana esensi agama diabaikan padahal begitu banyak perayaan diciptakan? Bukankah saat ingin meningkatkan kecintaan, di situ pula sering terjadi pengkhianatan? Tidakkah kau perhatikan di setiap perayaan itu selalu ada kemubaziran, perintah Tuhan diabaikan, dan sunnah-sunnah Nabi malah dipandang ke-Arab-Araban?

Lantas saat kita protes, mereka menuduh kita sebagai orang yang tidak cinta, tidak suka dengan agama. Ketika suatu pandanan yang menyamakan semua orang kita tawarkan, malah dituduh liberal, feminis, dan dicap dengan label-label negatif lainnya. Pada akhirnya, mereka hanya ingin di atas dengan segala pembenaran.

Nawa el-Sadaawi berkata, "Justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya adalah kepatuhan yang sempurna."

Ini bukan agama menurut pandangannya. Ucapan itu merupakan pandangan seorang perempuan yang ia kisahkan dalam novelnya. Perempuan itu pun tidak memandang agama demikian. Ia hanya menjelaskan apa yang dialaminya. Paman yang paham agama, suaminya yang juga mengerti agama, selalu memperlakukannya demikian rendahnya.

Sekali lagi, ini bukan menggugat agama, apa lagi Tuhan. Hanya orang bodoh yang menggugat pemilik dirinya. Hanya orang gila pula yang menggugat agama; jalan yang memberinya cahaya cinta. Tulisan ini hanya menyoal perilaku dan pandangan orang-orang yang membawa-bawa agama.
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.