Langsung ke konten utama

Ini Bukan Masalah Tafsir

qureta.com, 14/10/2016 -- Ahok tidak dapat disebut sebagai orang yang meyakini kebenaran al-Quran. Ahok bukan Muslim. Maka apa pun yang diucapkan dengan menyebut sebagian ayat dari al-Quran, itu hanya kutipan, bukan keyakinan yang dijadikannya sebagai hujjah atau bukti kebenaran. Posisi Ahok dalam hal ini jelas bukan sebagai orang yang berkompeten mengomentari keyakinan orang lain. Sebab, masalah perbedaan keyakinan, prinsipnya adalah “bagimu agamamu, bagiku agamaku”.
Berbeda dengan Muslim, ketika Muslim mengutip suatu ayat, itu tak lain untuk menguatkan atau membuktikan bahwa ucapannya adalah benar. Sebagai contoh, saya berkata bahwa kita semua pasti mati. Meski begitu banyak bukti, saya tetap bacakan ayat yang mengatakan bahwa setiap jiwa akan mati. Ayat itu adalah bukti bahwa ucapan saya adalah benar.
Video yang Diunggah
Video yang diunggah beberapa hari lalu disayangkan oleh banyak orang. Ada pihak bahkan melaporkan Ahok ke Polisi atas tuduhan menghina Islam (penistaan agama). Tapi hal itu disangkal oleh Ahok dan pendukungnya. Tidak ada ucapan Ahok yang secara jelas dapat dikategorikan sebagai penistaan terhadap agama menurut mereka.
Setelah melihat juga video itu, saya menilai bahwa yang dimaksud Ahok membodohi masyarakat bukanlah al-Quran dengan surat al-Maidahnya, melainkan orang yang menggunakan ayat itu yang disorot oleh Ahok. Tulisan ini pun akhirnya saya putuskan berangkat dari asumsi bahwa ucapan Ahok dimaksudkan kepada orang-orang yang sering memakai ayat untuk menyerang orang lain, membodohi orang lain, atau dapat disebut sebagai penjual agama.
Setidaknya, pernyataan Ahok dari asumsi ini hendak mengatakan bahwa ada orang yang pakai ayat 51 surat al-Maidah untuk membodohi umat. Ayat ini berbicara soal larangan mengambil "wali" dari kalangan Nashrani dan Yahudi. Dalam konteks pilkada, ayat itu dikutip untuk mengarahkan masyarakat agar tidak memilih Ahok karena ia dianggap Nashrani. Kalau pakai ayat lain, dilarang memilih Ahok karena ia dianggap "kafir”.
Kiranya penjelasan seperti inilah yang dimaksud Ahok sebagai kebohongan yang membodohi masyarakat. Tercium aroma bahwa Ahok mengklaim tafsir demikian adalah keliru. Yang benar adalah boleh pilih pemimpin Nasharani. Kata “wali’ dalam ayat itu bukan “pemimpin” artinya, melainkan “teman”. Tapi, kalaupun ada orang yang pakai tafsir demikian, lantas tidak memilih dirinya karena takut neraka (misalnya), itu juga tidak masalah bagi Ahok.
Terlepas dari mana yang benar, apakah penafsiran Ahok atau umat Muslim yang menafsirkan lain terhadap ayat tersebut, maka perlu ditanyakan kepada Ahok, apakah etis ia berkata demikian dalam kapasitasnya sebagai non-Muslim? Taruhlah Ahok mengerti al-Quran, tapi apakah dapat diterima penjelasan seseorang tentang suatu ayat yang ia sendiri tidak yakin terhadap al-Quran?
Di beberapa Youtube yang saya tonton, sikap demikian juga pernah dilakukan Ahok. Bahkan ke Kristen sendiri Ahok berkata bahwa Kristen itu konyol. Ahok sering kali merasa paling benar, bahkan ketika bicara soal agama orang lain. Parahnya, ia juga berani melawan Tuhan kalau Tuhan salah. Keangkuhan ini yang sulit kita benarkan pada diri Ahok. Tapi apa boleh buat, sikap demikian malah dibandingkan dengan orang lain yang korupsi, jelas tidak sebanding.
Problem Sebenarnya
Berbagai penjelasan dari Ahok dan pendukungnya memposisikan orang yang kontra terhadap pernyataan Ahok sebagai orang yang salah paham. Ahok berulang kali menjelaskan bahwa yang ia maksud bukanlah ayatnya, melain orang yang menggunakan ayat tersebut. Syukurnya, tulisan ini sesuai dengan maksud Ahok, tapi tetap menganggap pernyataan Ahok sebagai masalah dan menistakan agama.
Problem sebenarnya dalam kasus ini adalah ketika Ahok berlagak seperti ahli tafsir (mufassir), bukan pada tafsirannya. Kalau pun mau dipersoalkan tafsirannya, itu adalah masalah lain. Sikap Ahok seakan berkompeten ini diperparah ketika ia menguatkan pandangannya dengan menyebut almamater sekolahnya.
Pertanyaan pertama adalah, apakah di sekolah Islam Ahok belajar Islam, fiqih, tafsir, ushul fiqh, ulumul hadits, ulumul quran, ilmu tauhid, dll? Kalau pun iya, apakah selevel SMA memadai ilmunya untuk kemudian mengklaim tafsir orang lain sebagai kekeliruan?
Banyak Profesor yang mengarang tafsir, tapi tak sampai mengklaim kebenaran adalah miliknya. Meski terkadang ia menyatakan mana pandangan yang benar menurutnya, tapi tetap saja ia membuka peluang bahwa pandangan lain bisa saja lebih benar. Kalau pun ada yang seekstrim Ahok, itu tentu karena pemahaman yang lumayan dalam.
Jadi, bukan karena Ahok melecehkan al-Quran, tapi karena ia berlagak seolah mumpuni menafsirkan ayat al-Quran. Terus terang, saya saja tak berani menyalahkan pandangan orang lain meski punya pemahaman yang berbeda dengan orang itu. Status ini bahkan terlepas dari pandangan mana yang benar, apakah tafsiran Ahok atau orang lain. Keduanya punya peluang benar dan bisa juga salah.
Sekali lagi, ini semata-mata karena ulah atau pernyataan Ahok yang kelewat batas. Ahok sebaiknya berkata, "Kalaulah keyakinan bapak/ibu mengharamkan memilih orang Nashrani dan Yahudi, bagi bapak/ibu agama bapak/ibu sekalian. Saya tidak tahu dan tidak berkompeten mengatakan sesuatu terhadap keyakinan bapak/ibu." 
Kalau begini kan lebih enak. Ngapain maksa sampai menyalahkan orang lain karena meyakini hal tertentu. Kalau hal ini terus diurusi, ya nggak ada titik temu. Tuhan sudah ciptakan kita berbeda-beda; suku, agama, ras, bangsa, dll.

Komentar