Skip to main content

Serdadu Majene: Verra Selviana

Aku dan Verra di Toraja

Dia cantik, tapi kadang-kadang. Entah kenapa itu yang terpikir tentangnya. Sesekali aku menyukainya. Di beberapa foto ia memang terlihat manis. Tapi, cantiknya tidak selalu, hanya sesekali. Maaf untuk kejujuran ini. Meski pahit, kebenaran (jujur) itu mesti diungkap. Tentu tidak ada yang suka. Seperti obat, berkata jujur itu sesungguhnya untuk kebaikan.

Dialah Verra Selviana (double “r” atau bertasydid dalam istilah tajwidnya) yang cantiknya seperti kemunculan pelangi; sesekali ada, lebih sering tiada. Aku tidak tahu apakah berat badannya turun atau naik. Yang kutahu, cewek selalu lebih senang jika berat badan mereka turun. Tapi, di mataku ia terlihat lebih gemuk. Mungkin pengaruh pakaian yang semakin “syar’i”.

Verra itu tipe cewek setia. Ia memiliki sifat yang berlawanan denganku. Dia sangat peka, sedangkan aku sering divonis tidak peka. Padahal—sebagai anak hukum, lambang keadilan itu adalah cewek yang memegang timbangan dengan mata tertutup. Maksudku, anak hukum sebagai penegak keadilan seharusnya lebih peka. Mata tertutup itu sebenarnya simbol dari kepakaan, bahwa hukum yang tidak pandang bulu itu mesti adil. Nah, kepekaanlah (hati) yang menuntun mereka kepada putusan yang adil, bukan (mata) logika. Tapi apa boleh dikata, demikian aku di mata orang.

Verra juga pintar. Untuk soal menghitung, dia jagonya. Tapi, dia juga baperan. Sedikit saja ada hal yang sedih, mengharukan, dengan mudah air matanya mengalir. Bahkan, saat ketawa dia juga bisa nangis. Di satu sisi ia sangat matematis, logis, rasionalis, di sisi lain sangat cepat menangis. Aku tidak tahu apa ini dua kepribadian yang bertolak, atau justru paduan yang sering ada pada jiwa manusia.

Sangat senang bisa mengenalnya. Dia yang pernah membuatku cemburu (karena jarang ngobrol denganku), kini malah sangat dekat. Sudah seperti saudaralah kalau kata bang Haji Roma. Dia termasuk orang yang menganggapku tidak peka. Banyak perilaku dan putusanku yang dianggapnya jahat. “Kamu kok gitu sih Ril?” responnya suatu ketika. Respon ketidaksetujuannya terhadap ketidakpekaanku. Nanti akan kuceritakan bagian ini.

Verra jugalah orang yang pernah digosipkan “dekat” denganku. Beberapa foto kami, sempat disangka sebagai bukti kedekatan itu. Sebenarnya, dekat dengan Verra ya soal wajar. Kami satu penempatan dan sering ngumpul bareng. Dengan yang lain juga dekat. Tapi, tidak masalah mereka menyangka demikian. Dugaan-dugaan (nggak tahu baik atau buruk) itu semakin dimainkan dengan acting ala-ala. Akhirnya, sebagian orang percaya bahwa kami punya hubungan spesial. Ucapan selamat berdatangan. Sedikit heran. Mengapa musibah ini ditanggapi dengan ucapan selamat? He he he.


Btw, terimakasih sudah menerima kekurangan, kekonyolan, dan bersedia sabar menghadapi orang sepertiku. Tidak mungkin bisa kulupakan momen-momen di mana kita sempat sangat dekat (bukan berdua, tapi berdelapan). Terimakasih sudah mau jadi pacar pura-pura dan setidaknya mengusik dunia maya. Terakhir, semoga istiqamah dalam kebaikan.

Comments