Skip to main content

Serdadu Majene: Priena Mardiani Lestari

Baturaden Purwokerto
Kali ini tentang seseorang yang dipaksa, dicocok-cocokin, dan terus dijodohin denganku. Tapi, ia juga dijodohkan ke orang lain. Sampai akhirnya ia berkata, “Aku dijual oleh keluargaku (Serdadu Majene) sendiri”. Gadis Sumatera berdarah Jawa itu disebut genit oleh beberapa temannya. Emang terlihat demikian. Kami (bukan aku) punya foto-fotonya yang “genit” itu. Ia dianggap waras justru ketika marah, bukan di saat senang. Parahkan? Iya nggak sih?
Sebenarnya, ia memang sempat dekat denganku. Tunggu dulu! Dekat di sini tetap dalam arti sahabat. Seperti halnya Verra yang “r”nya bertasydid itu. Di awal-awal penempatan, di kota Majene, kami pernah berdua menikmati sore di pelabuhan. Pantai yang jernih, lukisan awan, perahu nelayan, dan semua yang ada di sekitar itu menjadi objek yang bisa kami abadikan. Tentu, kami juga mengabadikan diri dengan berselfi.
Priena juga orang yang pernah mengagumiku, meski beberapa jam di suatu hari. Ia pernah bilang, “Seneng deh lihat Ariel hari ini. Always be what you are ya! Dan serius deh, ini bukan basa basi. Ariel beneran keren hari ini”. Oke, aku terima pujiannya. Tapi, untuk permintaannya agar aku menjadi diriku sendiri, emang selain menjadi diriku, apa aku bisa jadi orang lain? Terus, kalau ternyata diriku buruk, masa harus dipertahankan? He he he. Sudah, nggak perlu ditanggapi.
Persahabatan kami agak sedikit merenggang karena “ego”. Perbedaan cara pandang yang mungkin akibat dari informasi yang kami miliki, atau sekuragn-kurangnya karena dia dan aku yang tidak bisa saling memahami menjadi faktor kerenggangan itu. Menurutku, dalam keadaan demikian satu di antara kami mesti mengalah. Sayangnya, aku dan dia tetap mempertahankan pendapat. Pertanyaan besarnya adalah, kenapa ke orang lain dia bisa klop (menyatu) seperti halnya aku yang juga bisa nyambung dengan orang lain?
Ini sebuah pengakuan. Dengan pengakuan ini semoga ia memaafkan. Aku pernah jahat ke dia. Alasannya hanya karena jengkel selalu ditanya soal bus yang akan mengantar kami ke Makassar pasca penempatan. Untuk kasus ini, Verra juga bilang ke aku bahwa perbuatanku itu jahat. Kami ditugaskan (berdua) mengurusi soal transportasi. Aku ingin mengurusnya jika urusanku sudah selesai. Karena terus bertanya, aku akhirnya sepakat untuk ke kota bersamanya. Semestinya aku berkata, “Tunggu di jalan poros, nanti kita pergi bareng ke Majene”. Tapi aku malah bilang, “Kita ketemuan di Majene aja”.
Di hari itu, aku malah pergi berdua dengan Verra. Dan itu semua karena aku begitu malas bertemu dia. Aku malas ribut, apa lagi dimarahi. Beberapa kejengkelan sebenarnya sudah mulai ada saat itu. Bahkan, ditugaskan dalam satu divisi itu bertujuan agar antara aku dan Priena membaik. Tapi, jika dibilang hubungan kami buruk, menurutku tidak juga demikian. Sejauh ini, aku merasa biasa dan nyaman saja dengannya. Justru ada rindu pada kemarahannya; rindu pada dirinya saat normal, he he he.

Terakhir kali bertemu Priena di nikahan Okky. Ketika itu dia tiba-tiba sakit. Tangan, kami, dan wajahnya kaku. Aku tidak bisa mengobatinya. Di situ aku mencoba menghibur dengan beberapa candaan. Tujuanku biar dia lebih tenang. Sebab, pikiran (menurut beberapa bacaanku) amat mempengaruhi kesehatan. Dengan berfikir positif, maka kerja tubuh akan lebih positif. Aku berhasil. Setidaknya dia tertawa lepas saat itu. Selebihnya, hubungan kami sekarang hanya via WhatsApp. Itu juga seputar kopi. O iya, ngomong-ngomong, dia termasuk orang yang juga suka kopi buatanku. Emang yang lain ada? Belum ada yang ngaku sih, he he he.
Astaga, hampir lupa. Nama orang yang kuceritakan ini adalah Priena Mardiani Lestari. Senang bisa kenal dia. Tapi, mungkin musibah baginya bisa ketemu orang seperti aku. Sebab mereka (termasuk dia) adalah orang-orang pernah bertanya, mengapa ada orang seperti aku? Mesti ada lah hikmahnya. Sekurang-kurangnya, sabar kalian terlatih dengan tingkah lakuku.

Comments