Langsung ke konten utama

Serdadu Majene: Ida Ayu Kadek Trisnanty

Ini bukan biografi seorang tokoh. Tapi, aku berharap nantinya catatan ini bisa menjadi referensi bagi orang lain yang ingin mengenal sosok yang akan kuceritakan ini. Dia adalah seorang gadis keturunan Bali yang tinggal di Cirebon. Cerita ini bagian pertama dari tujuh cerita tentang pribadi Serdadu Majene di mataku. Setidaknya, ini caraku mengingat mereka lebih dalam.
Dari seseorang yang ku kenal di kampus, kebetulan ia adik kelasnya Kadek Trisnanty di SMA, Galan namanya, ia menceritakan betapa pintarnya kawanku ini. Sebenarnya, tanpa cerita Galan, kecerdasan Kadek sudah tidak ku ragukan lagi.
Gadis mapan di usia muda. Punya pekerjaan dengan gaji yang lebih dari cukup. Kadek bahkan belum puas dengan itu. Sempat cuti satu tahun untuk mengabdi, tapi masih diterima di kantor lama. Ini menurutku karena Kadek sudah pada level orang yang dibutuhkan.
Selalu ada kesenangan dimana aku mengenal banyak calon dan bahkan banyak yang sudah menjadi orang hebat. Tapi, terkadang ada perasaan minder untuk sekadar bicara, apa lagi diajak makan bersama (bukber).
Kalau beberapa orang datang di acara seminar motivasi, membayar mahal untuk mendapatkan inspirasi, dan yang didapat hanya rangkaian kata nan bijak untuk penyemangat dalam tempo beberapa hari, aku sepertinya harus bayar lebih mahal dari itu ke Kadek. Aksinya bukan sekadar kata. Ada ketulusan di setiap ceritanya.
Dengan ilmu dan pengalamannya yang luar biasa, Kadek adalah tipe orang yang toleran. Dalam tulisan yang lain (Ilmu dan Toleransi), Kadek kujadikan sebagai salah satu contoh untuk membuktikan bahwa toleransi berbanding lurus dengan ilmu yang dimiliki.
Meski begitu, ada kesan di mana Kadek dan aku pertama kali bertemu. Kesan itu menurutku tidak sepatutnya ada. Tapi, itu merupakan spontanitas yang wajar dari seseorang yang mungkin terpengaruh dari isu yang menyebar. Aku awalnya dianggap sebagai sosok yang ditakuti karena latar belakang bahwa aku berasal dari Aceh, beragama Islam, dan kuliah pada jurusan hukum pidana Islam. Terlepas dari itu, yang pasti sekarang pandangan itu sudah berubah.


Komentar