Skip to main content

Memaknai Kegagalan

Photo by: Adil Ilham Arafah

Seseorang bertanya kepadaku, “Bagaimana Anda (Abang) memaknai kegagalan?” Pertanyaan ini murni menginginkan pendapatku; bukan makna sesungguhnya. Jika demikian, maka Anda boleh saja tidak setuju dengan pemaknaan yang kuberi. Sejauh ini, aku bahkan terus dalam rangka belajar, memahami, dan terus mencari arti dari segala hal.

Berangkat dari banyak pengalaman, seperti S1 yang kuharap selesai dalam tempo empat tahun, tapi nyatanya mencapai 9 semester atau empat tahun setengah. Berharap masuk final dalam beberapa ajang MTQ di level Provinsi yang tak pernah kunjung kuraih. Aku juga pernah bermimpi kuliah di Mesir dan belajar Islam (hukum Islam) dari para syaikh. Semua harapan itu hanya sebagian keinginan yang tidak kunjung kurasakan sampai saat ini. Keadaan yang beginian sering disebut dengan “kegagalan”.

Jika digeneralkan, diberi definisi dalam kalimat, maka gagal atau kegagalan menurutku adalah keadaan dimana seseorang (beberapa orang) tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika saya ingin selalu ranking satu di kelas, dan nyatanya saya hanya bisa meraihnya beberapa kali saja, dan selebihnya saya berada di peringkat dua, tiga, dan empat, berarti saya gagal untuk selalu meraihnya. Saya ingin ke puncak Gunung Sumbing, tapi nyatanya saya hanya sampai di pos empat, itu artinya saya gagal mencapai puncak.

Sesederhana itu? Ya, sesederhana itu menurutku. Hal ini sama dengan kesuksesan. Awalnya saya termasuk orang yang menghadirkan sukses dalam satu bentuk saja. Dari berbagai provokasi, saya bahkan sempat sependapat dengan orang-orang yang mencibir sarjana muda (orang-orang yang cepat lulus) dengan kata “Percuma”. Pencibir biasanya menambah kata “Percuma” dengan “ Tapi……..”. Mereka berkata, “Percuma lulus cepat tapi menganggur”. Sebagian membandingkan, “Mending aku yang belum lulus tapi sudah menghasilkan”.

Ini karena sukses diasumsikan dengan kerja. Sukses adalah ketika seseorang sudah punya pekerjaan. Kita dapat pula mengatakan, “Percuma punya kerja, tapi bodoh. Kuliah saja tidak lulus-lulus”. Akhirnya kita terjebak dalam pola yang kaku. Padahal, lulus cepat adalah kesuksesan tersendiri, di samping punya pekerjaan. Demikian pula halnya dengan kegagalan. Lulus lama, tidak punya kerja, dan hal lain yang tidak sesuai dengan keinginan mesti dianggap sebagai kekagalan. Hanya saja, satu kegagalan bukan berarti kita gagal seluruhnya.

Misal, saya gagal meraih beasiswa, apakah lantas saya harus gagal dalam melanjutkan studi? Padahal, untuk melanjutkan studi, kita bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk membayar spp. Atau, karena saya tidak bisa bahasa Inggris, dan itu adalah sebab megnapa saya gagal mendapatkan beasiswa, apakah lantas disimpulkan bahwa semua kegagalan meraih beasiswa karena ketidakmampuan berbahasa Inggris? padahal di luar sana ada yang gagal karena kualitas essaynya, jawaban interview yang tidak meyakinkan, dan banyak faktor lainnya.

Kita mesti mengaku bahwa kita gagal; gagal menjadi Polisi misalkan, gagal lulus cepat, gagal menikah, dsb. Tapi, kita tidak dapat mengatakan, “Aku gagal menikahimu”, lalu bunuh diri yang merupakan akhir atau menggagalkan diri dari segalanya. Selain tidak dapat digeneralisir; tidak dapat disamakan satu dengan yang lain; satu keadaan dengan keadaan yang lain, menurutku gagal juga tidak dapat dianggap sebagai akhir. Memaknai gagal sebagai akhir membuat orang putus asa bahkan cenderung mengakhiri; usaha, belajar, mencoba, bahkan hidup. Bukan demikian maknanya. Bahkan aku lebih setuju jika gagal adalah awal.

Sedikit cerita tentang Ibn Hajar (seseorang yang selalu gagal memahami penjelasan gurunya). Suatu hari pernah ia memutuskan untuk pulang dan tidak melanjutkan studinya karena selalu gagal. Ia pun minta izin dan pulang. Di perjalanan, hujan turusn dan ia berteduh lama sambil memperhatikan batu yang berlubang. Ia berpikir, “Jika batu yang keras bisa berlubang dengan sentuhan air hujan, masa sih otakku yang lembek tidak dapat menerima pelajaran?” batinnya.

Ia berbalik arah menuju ke tempat semula di mana ia menimpa ilmu. Ia yakinkan dirinya dengan satu hal, “Jika gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi, dst”. Seperti pola air hujan. Tetes pertama, batu biasa saja. Tetesan kedua, ketiga, hingga kesekian tak terhitung jumlahnya, batu yang keras berlubang jua. Banyak kisah serupa. Yang hendak kita ambil di sini adalah, bahwa gagal bukanlah akhir apa lagi untuk membuat kita berhenti/mengakhiri. Gagal justru seperti sebuah jeda dimana kita diberi kesempatan mempersiapkan segalanya, diberi kesempatan mencoba kesekian kalinya, untuk melanjutkan tujuan atau merubah tujuan yang mungkin lebih baik bagi kita.


Tapi, andailah kegagalan itu merupakan hasil akhir, dengan asumsi kematian adalah akhir perjalanan kita, maka gagal adalah ketika kita ingkar dan masuk neraka. Dengan demikian, sukses merupakan merupakan tercapainya predikat taqwa yang akhirnya menghantarkan seseorang ke dalam syurga. Asumsinya adalah, gagal dan sukses merupakan hasil akhir dan akhir itu adalah mati. Mengenai ini, semoga bisa saya tulis di lain kesempatan. 

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Sebenar ada komentar ucapan terima kasih...
      Cuma karena tentang kegagalan, jadi sayapun gagal juga berkomentar tentang kegagalan.
      Heheheehe.

      Thanks infonya admin, karena selama ini saya gagal memahami kegagalan. Sehingga sampai sekarangpun aku gagal untuk tidak gagal memahami..

      Ini pesannya.. karena berteletele, takut pula orang gagal memhami. Jadi terpakasa ku gagalkan untuk di baca orang lain..

      Hahahahaahaha...

      Salam | #Sikonyol

      Delete
  3. memaknai kegagalannya sudah bagus, hanya saja belum menemukan semangat untuk kembali menerjang gagal selain cerita syaikh Ibn Hajar....
    sukses terus bro.

    ReplyDelete

Post a Comment

Kalau sudah baca, mohon dikomentari ya. Terima kasih.