Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

AMYLC

Aceh - Malaysia Yout Leader Conference (AMYLC) merupakan wadah bertemunya pelajar dan pemimpin muda antara Aceh-Malaysia dalam bentuk seminar , persidangan dan dialog serta diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada generasi muda di Aceh dan Malaysia.

Itu yang tertulis di web-nya AMYLC tentang kegiatan yang berlangsung selama dua hari. Kegiatan ini menurutku sangat baik dan perlu dilanjutkan. Sebagai angkatan pertama, aku merasa amylc nantinya akan mampu memberi sumbangsih terhadap Aceh dan Malaysia, tentunya dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki daya saing tinggi, baik di Asia, bahkan dunia. Aku yakin itu.

Apa yang kudapat dari acara ini?

Mungkin tidak banyak, tapi, minimal ada seseuatu yang menarik untuk kubagikan kepada teman-teman (itu juga kalau berkenan membaca postingan ini, he he he). Pertama, aku mau bilang bahwa hampir di setiap pertemuan (seminar, conference, FGD, dsb), aku hanya bisa memahami maksimal 50% dari materi yang disampaikan. Itu semua, karena aku kesulitan dalam memahami bahasa Inggris dan juga ada bahasa Malaysia yang masih kabur dalam pikiranku, kira-kira maksudnya apa ya? Ini masalah kecakapan komunikasi.

Lantas, bagaimana mau bersaing di Asian Communiety jika tak mampu berkomunikasi? Seorang anak Malaysia memberi semangat kepadaku, "Bisa kok, Presiden Jepang (kalau gak salah), tidak bisa berbahasa Inggris, dia butuh transleter di setiap pertemuan Internasional", ujarnya. "Tapi, belajar bahasa Inggris itu penting, bahkan, gara-gara tidak bisa berbahasa Inggris, kita ditolak, padahal kita bisa dan ahli dibidang yang kita minati," tambahnya.

Ya, aku setuju itu.  Kedua, aku justeru menjadi merasa tersesat di dunia pendidikan, kiranya tidak hanya aku, tapi para pendidik juga, bahkan institusi pendidikanlah yang lebih tersesat. Ini butuh uraian yang panjang untuk melihat kesesatan yang kumaksud. Oleh karenanya, aku hanya ingin menyampaikan pendidikan yang ideal itu bagaimana (ini menurutku); Belajar mestilah untuk belajar, bukan bekerja. Semua ilmu itu sama, memiliki ujung yang sama, ilmu itu satu, berasal dari yang satu.

Ketiga, aku menemukan fakta menyedihkan dalam conferensi ini. Faktanya adalah, Aceh jauh ketinggalan, tidak hanya di Asia, di Indonesia Aceh juga tergolong ketinggalan dari rata-rata nasional. Coba bayangkan, jika Indonesia masih berada di bawah, dan Aceh berada di bawah provinsi lain yang ada di Indonesia, bisakah Aceh bersaing ditingkat yang lebih besar?

Jangan pesimis, usaha aja. Gak penting bisa atau tidaknya, yang penting adalah terus mencoba, biarkan Tuhan yang menentukan akhirnya. Buat target, tapi jangan yakini ia sebagai akhir dari perjuangan.

O iya, ini ada sedikit photo kegiatan AMYLC yang bisa kubagi:

Bersama Prof. Tansri (Presiden Persatuan Universitas Se-Dunia)

Sebelum balik ke Malaysia, photo dulu dunk ...
Hampir lupa, tujuan kegiatan ini adalah

  • Mempertemukan Pelajar-Pelajar Aceh dan Malaysia yang memiliki potensi sebagai pemimpin-pemimpin Aceh dan Malaysia di masa depan.
  • Melalui acara ini diharapkan pelajar Aceh dan Malaysia mampu menjadi pemimpin yang berwawasan luas  sehingga dapat membuat kemajuan besar bagi Aceh dan Malaysia
  • Merumuskan rekomendasi  dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia dan daya Saing Pelajar Aceh dan Malaysia di tingkat Internasional.
  • Mempererat hubungan dua negara  antara  Indonesia (Aceh) dan  Malaysia
Selamat Jalan Sahabat


Khairil Akbar, 07/10/2013
Mahasiswa Fakultas Syari'ah 
Jurusan Hukum Pidana Islam
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.