Langsung ke konten utama

Kacamata Zaman

Benar mesti dilihat dari kacamata zaman
Zaman dulu dengan paradigma dulu
Era ini dengan perspektif terkini
Sehingga yang ada adalah kebenaran di setiap prosesnya

Dulu khamar itu tidak haram, lalu turun ayat yang mengharamkan, apakah Tuhan ketika itu salah, lantas merevisi ucapan-Nya? Tidak, Tuhan maha benar. Dulu di zaman Nabi Musa, bunuh diri adalah cara tobat, sekarang, bunuh diri adalah dosa, apakah dulu Tuhan keliru? Tidak, Tuhan maha teliti. Seperti itulah kebenaran dahulu. Bukan menyatakan kebenaran itu relatif, ini hanya ingin mengataakan, zaman itu berbeda. Benar itu satu.
Di era ini, cara pandang salafush-shalih tidak selamanya cocok untuk dijadikan sebagai mindsite berfikir lurus dan benar, bahkan, paradigma lama itu justru mengarah kepada corak pemahaman Liberalis. Di masanya, para shahabat yang memang hidup di masa nabi kiranya tidak membutuhkan metode apa-apa, sampai Nabi wafat, sistematisasi pengetahuan seperti fiqh, ilmu kalam, dsb, sama sekali belum ada. Shahabat cenderung berijtihad sendiri, sesekali mengkompromikannya, juga terdapat beberapa perbedaan pendapat yang di antara mereka saling memegang pendapatnya masing-masing. Namun, perlu diakui bahwa merekalah generasi terunik yang dijanjikan Syurga.

Problematika yang muncul justru ketika cara pandang itu dibawa-bawa pada saat ini. Cara berfikir instan yang ada di masa mereka tentu akan berbeda jika dipraktekkan di masa ini. Bayangkan saja, apa jadinya jika seseorang yang membaca hadits dan terjemahannya, lantas menyimpulkan langsung hasil bacaannya? Inilah yang terjadi di Lawe Loning Aman, desa yang kucintai sejak aku mengenal cinta. Ketika itu, praktek ibadah yang ada, dengan serta-merta diubah tanpa pemberitahuan sebelumnya. Padahal, menurut Prof. Dr. Alyasa' Abu Bakar, M. A., Ibnu Taimiyah (Tokoh Salafis 'bukan Shahabat') sendiri sudah mensistematisasi pemikiran salafi sehingga mereka juga bisa disebut sebagai suatu aliran, atau madzhab.

Artinya, kita butuh ilmu yang memadai terlebih dahulu sebelum menyimpulkan suatu perkara. Jika semua hadits dicerna begitu saja, disimpulkan begitu saja, lantas berkata 'ini hadits lho' untuk menakuti seseorang jika dia hendak melanggarnya, maka pecahlah ummat kepada jumlah kepala masyarakat yang ada. Ya, hal itu karena mereka kurang ilmu, tidak bisa mengistinbathkan hukum, lalu menyimpulkan seenaknya. Untung jika benar, jika salah, bisa gawat ummat ini.

Metode da'wah di desa ini juga mengarah kepada pemaksaan paham yang dibawa da'i (ustadz) yang menyampaikan. Hal ini tidak baik dalam dunia akademis, karena para ulama tidak pernah mengklai pemahamannya adalah paling benar. Imam Syafi'i dan juga senada dengan imam madzhab lainnya berkata, "jika ada haditz shahih, itulah madzhabku". Ini menunjukkan bahwa, mereka senantiasa menyampaikan pendapatnya tanpa pengklaiman, yang sekiranya masyarakat menemukan sesuatu yang lebih benar, maka ikutilah yang lebih benar itu. Jika ada hadits, jangan  ikuti pendapat yang menyelisihinya.

Tidak mungkin bagi kita mengikuti gaya berfikir mereka (para shahabat), oleh karenanya, perlu diperhatikan beberapa hal berikut:

1. Mereka hidup di masa Nabi, sehingga tau persis proses islamisasi itu terjadi, asbab an-nuzulu/al-wurud ayat dan hadits mereka juga menguasainya dengan baik. Bahasa arab mereka tentu menjadi bahasa arab yang antara maksud nabi dengan arti yang mereka buat adalah sama karena mereka berdialektika langsung dengan nabi. Bisa dipastikan, keislaman mereka sangat komprehensif.

2. Kita tidak tahu persis keadaan dahulu, sehingga cara yang mungkin mencari kebenaran adalah melalui cara yang sesuai zaman kita. Perjalanan sejarah tidak membuat kita atrik mundur dan terkagum-kagum dengan  mundurnya langkah kita, melainkan menjadi pembelajaran agar kita menjadi lebih baik. Setidaknya, jika dulu kita berunta, sekarang kita bisa berkereta yang dari sisi waktu tentu akan membuat amalan kita jauh lebih banyak dari orang yang menggunakan unta karena waktu mereka habis diperjalanan.

3. Satu-satunya yang bisa kita ikuti dari gaya mereka adalah semangat mereka dalam berfastabiqu al-khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Seperti Umar yang sempat membantah kebijakan Abu Bakar dan hendak mengubah kebijakan yang menurutnya kurang tepat.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan terus akan berkembang, kebenaran terus akan dicari, sampai yang hakiki, akan terbuka tabirnya nanti. Nabi pernah berkata, orang yang hari kemarin lebih baik dari hari ini adalah celaka, orang yang hari ini sama dengan hari kemarin adalah merugi, dan orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin baru tergolong kepada orang yang beruntung.

Kita tidak bisa terjebak dengan 'jaminan syurga para shahabat', sama halnya dengan kita tidak boleh diam begitu saja atas ucapan para ulama. Slogan 'Ulama tidak mungkin salah' semestinya tidak membuat kita jumud dan berhenti pada pemahaman mereka. Kita mesti  mencari, seperti pencarian Syafi'i yang tidak puas atas pendapat gurunya, Haanbali atas pemahaman gurunya, begitulah seterusnya. Sehingga, satu-satunya kebenaran yang mesti kita yakini adalah bahwa kita kebenaran ada dalam proses pencarian, bukan di saat kita berhenti belajar. Jika taqwa adalah tujuan seluruh ibadah, maka taqwa adalah proses dari upaya kita menjauhi larangan Allah dan munjunjung tinggi perintahnya.

Allahu a'lam. Salam Pembelajar. Fastabiqu al-Khairat.

Komentar