Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Toleransi antar Organisasi Sunni

Lucu gak judulnya? Anggap saja lucu, atau tidak. Begini, aku bukan yang tahu segalanya, namun, dari realita yang kulihat, judul ini akhirnya kuanggap tepat. Kalian percaya tidak, dengan keyakinan yang berbeda, untuk sementara mereka diimami oleh orang yang sama? Tidak percaya? Jangan berhenti baca ya!


Suatu hari, saya pernah ke Banda dengan sopir yang ternyata turun di Pidie. Ada beberapa penumpang pula yang juga turun karena tujuan mereka memang sampai di Pidie. Dari Pidie ke Banda, akhrinya saya disopiri dengan orang lain. Pergantian sopir ini biasa saja dan tidak ada masalah sama sekali. Kisah ini persis dengan realita di salah satu desa di Kecamatan Meureubo Aceh Barat. Bahkan, kisah di atas kujadikan sebagai qiyasan (analogi) dari kisah yang relevan dengan maksud judul di atas.

Sebenarnya aku hanya mau bilang bahwa di salah satu desa di Kecamatan Meureubo itu, terdapat dua populasi (komunitas) yang memiliki kiblat dan keyakinan yang sedikit berbeda. Jika diperbesar, perbedaan itu sebenarnya sangat khas dan menjadi topik tahunan di setiap ramadhan, sebut saja persoalanan tarawih. Namun, di desa itu, toleransi terjalin rapi dan saling menghargai. Kurang lebih begitulah.

Menurut Imam Mesjid, sebenarnya masyarakat yang sudah maju ini, cenderung mempertahankan prinsip, yang ke Labuhan haji ya tetap saja ke sana, dan yang ke Mekkah (Muhammadiyah) juga tetap saja ke kiblat mereka. Ups, sorry, pak Imam tidak menyebut Muhammadiyah, yang dia maksud memang itu, tapi penyebutannya terhadap dua kelompok ini adalah "Kaum Tua" sebagai kelompok pertama dengan kiblat Labuhan haji, dan "Kaum Muda" dengan kiblat Mekkah (Muhammadiyah) sebagai kelompok ke-dua. Filosofis bukan? Kalian akan dapat makna dibalik penyebutan pak imam setelah habis membaca tulisan ini, insyaa Allah. Pak imam sendiri adalah kaum muda yang di satu sisi harus menjadi kaum tua, dan di sisi lain juga harus kembali menjadi muda. Dalam hal ini, pak imam ingin merangkul keduanya.

Nah, ketika mengimami jama'ah shalat tarawih, maka 1-8 raka'at para makmum harus bersatu dalam shaf yang rapi. Untuk itu, pak imam diminta untuk mengimami mereka seperti imam yang shalat tarawihnya 20 raka'at. Tapi, tujuan pak imam dan sebagian makmum, tetap saja sampai di raka'at delapan. Adapun yang ingin lanjut, maka ada imam penggantinya. Persis seperti mobil dengan penumpang yang berbeda tujuan, disopiri oleh sopir yang sama terlebih dahulu, baru diganti dengan sopir lain.

Apa hukumnya? No coment ajalah. Ini hanya opini saja kok. Yang pasti, kedua jama'ah tersebut telah bercampur gaya shalatnya.  Kaum muda untuk sementara harus mengikuti kaum tua, dan kaum tua untuk sementara harus diimami oleh kaum muda dengan gaya kaum tua. Kongkritnya, Muhammadiyah untuk sementara mesti bershalawat dan do'a jama'ah, dan Perti mesti pula menjadi makmum yang  imamnya tidak meyakini shalawat dan do'a dengan praktek mereka sebagai ibadah, bahkan dalam pandangan garis keras, praktek tersebut mengarah ke bid'ah yang pelakunya diancam dengan Neraka. Kita berlindung kepada Allah.

Terlepas dari bagaimana semestinya, apa hukum sebenarnya, dan pertanyaan-pertnyaan yang jawabannya mengarah kepada keangkuhan pendirian, maka aku angkat jempol sebagai tanda salut terhadap fakta ini. Dan terbukti, "pake me-pake" atau hujat menghujat, khusus di Mesjid ini, tidak ada sama sekali. Persoalan agama juga disampaikan dengan hikmah dan jauh dari persoalan khilafiyah, minimal yang dianggap khilafiyah.

Kaum mudan tidak menyalahkan kaum tua karena kerentaan dan keklasikan cara berfikir mereka, kaum tua juga tidak bisa men-judge pemahamannya sebagai pemikiran terbaik, bahkan di satu sisi, mereka harus mengakui bahwa kaum muda lebih kuat, tarawihnya singkat tapi padat, dalilnya kuat dan memang benar sunnat, jama'ahnya juga ramai meski sedikit lambat dan tidak terburu cepat.

Begitupun dengan kaum muda, mesti mengagumi kegigihan kaum tua yang bertahan sampai 20 raka'at, meski cepat-cepat, dibarengi shalawat, do'a jama'ah di setiap empat raka'at, dan banyak yang jatuh sakit alias kumat dan mundur tidak lagi sanggup shalat, mereka tetap saja punya niat, baik dan ikuti sunnat, minimal mereka telah berbuat.

Kerukunan antar organisasi sunni ini setidaknya bisa diteladani dari sisi rukunnya mereka berdampingan, dari sisi lain, nilai sendiri ya! He he he. O iya, aku menyebutnya dengan organisasi sunni karena keduanya memang sunni, yaitu orang-orang yang ketika perpecahan antara genk Muawiyah dan kelompok Ali terjadi, mereka tetap berada dalam jama'ah. Bukan muslim yang meyakini i'tikad 50, atau sependapat dengan Maturudiyah, bukan pula orang yang menafikan penyifatan itu. Bukan itu, makna sebenarnya mesti diluruskan menurutku.

Rekomendasi:
-Perlu dibahas secara khusus persoalan di atas dengan  mengaitkan konsep ibadah "lakum dinu kum, wa liya din"
-Lantas, bagaimana semestinya kondisi ini terjadi?
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.