Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Islam di Lawe Loning Aman (Antara Muhammadiyah dan Salafiyah)


Oleh: Khairil Akbar

Lawe Loning Aman merupakan salah satu desa di Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara. Wilayah desa ini kini telah terbagi. Sejak masih bersatu, desa Lawe Loning Aman juga dihuni oleh kaum Nashrani di samping dominasi Muslim di desa ini. Namun, kini desa Lawe Loning Aman hampir bisa dipastikan 100% Muslim dengan berbagai latar belakang suku. Dikatakan di beberapa pidato pejabat yang mengunjungi desa ini, Lawe Loning Aman merupakan desa dengan jumlah suku paling banyak di Agara, berkisar 23 suku mendiami desa ini. Keterbukaan masyarakatnya membuat lawe Loning kian berbaur dengan banyaknya pendatang baru.


Sedari kecil, desa ini belum pernah disibukkan dengan perdebatan kuno yang tak berakhir. Sekte-sekte telogi maupun madzhab-madzhab fiqih tidak pernah terdengar di telinga masyarakat yang majemuk ini. Bukan tidak ada yang pakar, bahkan tokoh Muhammadiyah dan al-Washliyah di desa ini konon sering berdiskusi. Hal ini hampir sama dengan pergejolakan antara NU dengan Muhammadiyah. Tapi, perdebatan itu tidak memecah masyarakat, tidak membingungkan masyarakat, tidak pula membuat masyarakat berkelompok-kelompok.

Praktek ibadah di desa ini sejatinya cenderung mengarah kepada prakteknya Muhammadiyah. Konon, Imam Mesjid disebut-sebut sebagai tokoh Muhammadiyah. Sekiranya ada yang berdo'a secara jama'ah, dzikir berjama'ah, shalawat di sela-sela raka'at tarawih, nyaris dipastikan bahwa praktek ini tidak menjadi tradisi yang mengarah kepada bid'ah, pelakunya juga oknum yang oleh masyarakat tidak menaruh perhatian lebih terhadap persoalan ini. 

Seiring pergeseran waktu, diikuti oleh maraknya pendatang yang berdakwah, maka corak keislaman di desa ini kian mencuat. Pemerangan terhadap praktek bid'ah kian digencarkan seakan penduduk desa ini memang ahlu al-bid'ah. Mungkin di beberapa praktek iya, tapi tidak bisa digeneralisasi, apalagi persoalan yang dipusatkan monoton kearah itu (persoalan bid'ah). Imbasnya adalah, jama'ah menjadi dua kelompok, antara masjid bawah dan masjid atas (masjid besar). Terlepas dari faktor sebenarnya yang melatarbelakangi kejadian pisah masjid ini, ada hal menarik yang ingin saya kritisi, atau masih dalam tahap mempelajari dari fenomena yang terjadi.

Antara Muhammadiyah (tajdidiyah) dan Salafiyah

Sulit untuk membedakan antara kedua paham ini, bahkan beberapa literature menyebutnya sama. Alyasa' Abu Bakar sebagai pimpinan wilayah Muhammadiyah Aceh pernah mengupas dan memilah dua corak ini dalam website pribadinya. kendati demikian, beliau juga mengakui tentang adanya kesamaan antara dua paham ini. Hal yang paling ekstrim dan memang memiliki kesamaan adalah konsistensi dalam beramal (beribadah), yang menjadi tolak ukur ibadah kedua model paham ini adalah kualitas ibadah, bukan kuantitas, sehingga, perkara yang memang tidak memiliki dalil tidak akan mereka lakukan dengan alasan apapun. Untuk persoalan ini telah dibahasa dalam hampir di setiap pengajian di desa ini, juga di grup fb ini.

Di saat saya perhatikan, perubahan-perubahan yang terjadi mengarah kepada pola pemahaman salafiyah yang sangat tekstual, sehingga dalil-dalil yang sifatnya berskala zaman, tempat dan sebab akan selalu dimaknai secara umum, dan dianggap bagian dari Islam. Pola pemikiran seperti ini kiranya akan menghilangkan budaya setempat yang masih bisa dipertahankan.

Muhammadiyah berjenggot? Waduh, bagaimana dengan yang tidak memiliki jenggot? Bukan Muhammadiyah dong? Mau tidak mau, seperti inilah perkembangan dan paradigma masyarakat terhadap Muhammadiyah. Atau jangan-jangan, ada udang di balik batu? Ngakunya Muhammadiyah, tapi ekstrim dalam praktek. Tapi, bisa saja anggapan-anggapan kolot seperti ini adalah bentuk serangan terhadap dakwah yang mereka lakukan agar masyarakat tidak mau mengikuti, atau bisa jadi memang seperti itu adanya. Allahu a'lam.

Masih banyak keanehan-keanehan yang menurut saya keanehan itu seharusnya tidak terjadi, ada metode yang salah dalam dakwah ini, sepertinya begitu. Saya mendengar bahwa diharamkan memajang photo, bahkan ayat-ayat yang terpajang, waduh, segitunya ya? Jika benar begitu, maka, atas keawaman ini, saya akan bilang/katakan ke penghuna grup ini bahwa Muhammadiyah tidak pernah melarang hal ini, Muhammadiyah tidak mengharuskan berjenggot, tidak mengharuskan memakai celana di atas mata kaki, muhammadiyah tidak memahami sesuatu dengan kaku. Maka, tulisan ini sejatinya ingin mengoreksi sekaligus bertanya kembali, apakah tokoh Muhammadiyah di desa ini mengerti tentang Ormas besar ini dengan baik dan benar, atau karena kesamaan, lantas memanfa'atkan Muhammadiyah sebagai kekuatan dakwah?

Dan sebagai informasi di akhri tulisan ini, maka ada beberapa hal yang mesti dipahami jika terjadi kesulitan dalam memilah istilah-istilah dalam tulisan ini.

Muhammadiyah adalah ormas Islam amar ma'ruf nahi munkar, corak karakter pemahamannya adalah tajdidiyah (pembaharuan).

Salafiyah, sebagaian menyebutnya sebagai fase sejarah, bukan madzhab maupun gerakan. Di Indonesia, penyebutan ke mereka adalah wahhabiyah yang oleh 'awam dan tradisionalis menganganggap mereka sesat. Arti salafi itu sendiri klasik, kuno, lawan dari modern. 

Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.