Langsung ke konten utama

Bid'ah Kok Hasanah?



Barang siapa yang berbuat suatu amalan (ibadah) yang tidak ada perintahnya dari Kami (Allah dan Rasul), maka ia (ibadah itu) tertolak. Al-Hadits.

Kisah berikut ini bukanlah sebuah true story. Ini hanya analogi pribadi yang metode dan pemahamannya bisa saja tidak sesuai atau tidak benar. Dan pada dasarnya, apapun yang saya tulis, bukanlah kebenaran yang muthlaq. Ini hanya pemikiran pribadi.

Suatu hari, seorang anak yang sakit mendatangi Dokter dan mengeluhkan sakitnya yang semakin bertambah. Parahnya, penyakitnya itu semakin menjadi-jadi setelah si-anak meminum obat yang diberi oleh Dokter. "Bu Dokter, kenapa sakit saya semakin parah?" keluh si-anak tak menerima kondisinya.

"Apa adik sudah minum obatnya? Berapa kali sehari?" tanya bu Dokter kembali.
"Sudah, saya minum empat kali sehari bu." jawab si-anak mantap.
"Yang saya sarankan berapa kali dik?"
"Tiga kali sehari bu, tapi bukannya empat lebih baik?"

Kiranya, kita mau membuka pikiran lalu mencermati sikap kita. Beginilah kita saat diingatkan tentang larangan berbuat bid'ah atau diperintahkan untuk beribadah. Ada saja alasan untuk pembenaran sebuah penyelewengan.

Di beberapa diskusi yang membahas tentang ibadah dan bid'ah, baik formal maupun non-formal, saya kerap kali mendengar istilah bid'ah hasanah. Sebelum meranjak ke sana, mendefenisikan bid'ah terlebih dahulu adalah langkah penting menurut saya.

Kata bid'ah berasal dari kata "bada'a" yang berarti memunculkan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya (Al-Atsariyah.Com), sebagaimana dalam firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala-:

بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

Artinya: “Allah menciptakan (membuat bid’ah) terhadap langit dan bumi”.(QS. Al-Baqarah: 117 dan Al-An’am: 101)

Penggunaan kata "Badi'u" dalam ayat ini memberi pemahaman bahwa langit dan bumi diciptakan tanpa ada contoh. Dahulu, langit dan bumi belum ada, sehingga Tuhan menciptakkannya. Berarti Tuhan telah berbuat bid'ah dalam hal ini. Defenisi ini masih seputar defenisi secara bahasa.

Secara istilah, “Bid’ah adalah suatu ungkapan untuk semua jalan/cara dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syari’at dan dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”. Al-Imam Asy-Syathiby dalam kitab Al-I’tishom (1/50). (Al-Atsariyah.Com).

Simpelnya, bid'ah merupakan amalan (menyerupai) ibadah yang tidak memiliki contoh, tidak ada perintahnya dari Syari' (Allah dan Rasul). Perbuatan ini sering dianggap mendatangkan pahala, sementara Tuhan tidak pernah menjanjikannya, justru mengecam pelakunya dengan ancaman neraka. 

Dalam perjalanan studi saya, saya kerap kali menedengar tentang terbaginya bid'ah kepada dua jenis; bid'ah hasanah dan sayyiah, baik dan buruk. Adapun sepanjang bacaan saya, Nabi secara tegas bersabda bahwa bid'ah secara keseluruhannya tertolak. Kullu bid'atin dhalalah, al-Hadits. Entah dari mana asalnya pembagian tersebut, yang pasti, semua pelaku bid'ah kerap kali mengait-ngaitkan amalannya kepada sunnah. Saat kesepakatan bahwa amalan itu tidak ditemukan dalam sunnah, maka pelakunya akan mengelompokkan ibadahnya kepada bid'ah hasanah. Saya khawatir, jika disepakati bahwa tiada bid'ah yang hasanah, mereka juga akan tetap mempertahankan amalannya dengan alasan yang mendukung amalan tersebut. Bisa jadi, mereka akan berkata "ini persoalan muamalah".

Bid'ah sering kali terjadi karena seseorang menganggap suatu perbuatan itu mendatangkan pahala, sementara ia tidak punya ilmu tentang itu. Baik buruknya kembalikan kepada penilaian Tuhan. Karena, kerap kali kebaikan yang kita anggap justru buruk hakikatnya. Begitupun sebaliknya, buruk menurut kita bisa jadi baik hakikatnya. Dalam sebuah kajian yang diadakan ORALEXISMUQ (Organisasi Alumni dan Eks-Santri Madrasah Ulumul Qur'an), saya bertanya, "Bagaimana dengan perbuatan yang tidak ada perintah, juga tidak ada larangannya?". Seorang teman juga bertanya tentang suatu perbuatan yang tidak ada perintahnya, "Bagaimana jika perbuatan itu ada mashlahahnya?". Syaikh (namanya saya lupa) menjawab dengan tepat (menurut saya), "Pada dasarnya ibadah itu haram hukumnya, terkecuali ada perintahnya". Ini adalah kaedah ushul yang tidak dipertentangkan. Artinya, jika suatu perbuatan yang memiliki unsur ibadah seperti, adanya lafadhz-lafadhz tertentu, dilakukan karena suatu sebab, dilakukan di hari-hari tertentu, dan dengan cara-cara tertentu, maka perbuatan itu haram hukumnya sekiranya tidak ada dalil yang menyuruhnya.

Bisa saja perbuatan memang mendatangkan mashlahah, dan itu pula tujuan ibadah, sehingga tidak ada ibadah yang luput dari mashlahah, tapi Tuhan tidak melihat hal itu. Mengapa Nabi memerintahkan kita shalat sebagaimana ia shalat? Itu karena beliau tidak menghendaki adanya praktek yang berbeda. Kemurnian yang diinginkan.

Aku punya tawaran, mengapa tidak kita optimalkan saja perkara wajib, lalu kita tambah dengan sunnah? Bukankah, sekiranya sunnah mau kita lakukan, maka ia tidak akan habis sekalipun kita sangat rajin? 

Berikut adalah pesan terakhir dari tulisan ini, dan ini merupakan kutipan dari status FB saya:

Terhadap ibadah yang tak ada tuntunannya, tidak ada larangan maupun perintah-Nya, Tuhan tidak menanyakan tentang mafsadah dan mashlahahnya, yang Tuhan tanya adalah 'mengapa kamu mengada-ada?'.

Komentar