Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Madzhab Saifiyah (Salah Satu dari 4 Madzhab Jomblo)


Sepintas Tentang Saifiyah

Saifuddin tidak mendirikan madzhab ini, tetapi pengikutnyalah yang memperjuangkannya. Entah karena apa, dan memang tidak ada alasan yang jelas, madzhab ini berdiri di atas asas netralitas. Netral berarti kecenderungan yang tak memihak. Saifuddin sebenarnya pernah bercinta, tapi kini beliau jomblo dan tak pernah lagi berbicara tentang cinta. Tidak menyukai wanita/lelaki bukan berarti mereka homo/lesbi. Mereka seperti kehilangan rasa. Seperti hambar, atau air tawar yang tidak memiliki kecenderungan rasa. Rasa mereka adalah tidak merasa suka terhadap laki-laki/wanita. Madzhab ini lebih baik dari dua madzhab sebelumnya karena jomblonya mereka bukan atas dasar kekecewaan yang berefek pada frustasi (Khairil Akbar: Perbandingan Empat Madzhab Jomblo, 24/01/2013).

Netralitas
Bukan tiada rasa
Bukan tiada cinta
Kesendirian bisa berarti bahagia
Tergantung paradigma memahaminya

Kata "seperti tiada rasa" dalam tulisan sebelumnya memberi pemahaman bahwa madzhab ini masih normal. Madzhab ini mengakui tentang adanya fithrah saling menyukai atau mencintai. Dengan demikian, kenetralan yang dimaksud oleh madzhab ini bukan suatu keabnormalan. Hal ini terlihat jelas dari ungkapan Saifuddin berikut:

"Tingkat RASA kesenangan ssorang itu berbeda.Ada yang senang ngibul,,ada yang senang berantam, ada yang senang ngopi,,sehingga dari ksenangan mereka itu rasa kesenangan brcinta itu luntur secara perlahan." (Saifuddin, 08/02/2013).

Dari ungkapan di atas, kejombloan yang berdiri di atas asas Netralitas ini bukanlah karena sebab "tiada rasa kepada wanita/lawan jenis", melainkan karena kesibukan pada hal lain (yang mereka anggap lebih penting) yang menyebabkan mereka "seperti tiada rasa". Dapat disimpulkan, Jomblo dalam defenisi madzhab ini adalah sikap apatis terhadap cinta. Apatisme itu sendiri mereka batasi pada persoalan cinta.

Sekian, dan tulisan ini masih dalam penelitian, bukan suatu konklusi dari Pemikiran Saifuddin sebagai Imam Madzhab Saifiyah yang didirikan oleh pengikutnya.


Kesendirian bisa berarti kebahagiaan . . . Saifuddin.
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.