Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Aku dan Syukri

Bukan ingin membandingkan antara kekuranganku dengan kelebihannya. Bukan pula sebagai perbandingan antara keberuntungannya dengan kesialanku. Bukan juga ingin menghinanya lalu memuji diriku atau sebaliknya. Bukan, bukan untuk itu. Tulisan ini hanya ingin mengenang kegilaannya bersamaku. Berikut ku sertakan profilnya.

Syukri di Sabang Island, keren kan?
Namanya Syukri. Umur 22 tahun. Lahir di Takengon pada tanggal 28 Agustus 1991. Ini nama FB-nya Syukray Mj Aray. Orangnya ganteng, ya begitulah lebih kurang. Perkenalanku dengannya tepat pada tahun 2003 dengan tanggal, hari dan jam yang berbeda. Kamar kami bersebelahan ketika dia masuk ke BTN (nama asrama di pondok pesantren modern, keren dan beken, Bustanul 'Ulum Langsa). Aku di BTN 21 dan dia di BTN 20. Sejak itu, aku dan dia tidak akrab. Ya, semua nggota BTN-nya menganggap kami sebagai anak culun, terlalu putih, bersih, dan manja tentunya. Penilaian yang bagus sih, tapi penuh dengan penghinaan, pelecehan dan peremehan. Padahal di BTN-ku ada Okta Minanda yang kuat (juara panco se-Aceh), ada Muhammad Iqbal yang jago ceramah (ketika itu sebagai wakil seksi dakwah seingatku), ada Arif Maulana yang maco (aku terpaksa mengakuinya, he he he), ada Syahril (sang pengedar rokok. Di pesantren, rokok itu seperti ganja, sama-sama haram dan ada sanksi jika kedapatan). Juga ada Annur yang suka nyanyi. Aku yakin, tanpa stik, tangannya cukup kuat untuk memukul drum (pengalaman memukul meja  kali ya), he he he.

Kembali ke Aku dan Syukri. Bahasa yang sering ku gunakan ketika berkomunikasi dengannya adalah bahasa Tengah, Aceh Tengah maksudku. Tentunya aku sering mencampur bahasa karena tidak terlalu cakap berbahasa Gayo (bahasa Tengah yang ku sebut sebelumnya). Tapi, dalam Blog ini, aku tidak boleh melanggar sumpah, karena aku sekarang adalah Pemoeda (Pemuda). Dan sebagai Pemuda, kami punya sumpah yang disebut dengan Sumpah Pemuda. Salah satu butirnya sumpah itu adalah "Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia". Aku jadi bingung, ketika aku tua, aku pakai bahasa apa ya? Karena masa kecilku juga punya bahasa yang berbeda; bahasa alay namanya. Mana = Ana, Atrik = Atek, Kiri = Ili, Kanan = Anan, Susu = Cucu. Itulah beberapa vocab bahasa alay (bahasa kecilku) yang ku ingat.

Aku dan Syukri sama-sama hobi akting. Pernah ketika aku pulang dari acara kampus (Trainging of Trainer, Penguatan Wawasan Syari'at Islam Berbasis Humanis) yang dibuat oleh HMJ SJS, Syukri menyambutku dengan akting sebagai pengemis.

"Dari tong sampah mana tu nasi? Aku sudah keliling warung nasi padang, tapi semua jatah yang ada di tong sampah sudah habis diambil musuh," ujarnya serius. Awalnya aku kebingungan, tapi akhirnya nyambung juga.

"O o o, kebetulan tadi, tong sampah kampus gak masih banyak yang tersisa, bahkan belum dimakan. Kayaknya nasi ini masih bagus deh," jawabku.

"Emang gak ada musuh lain di sana?"
"Ada sih, aku bahkan sempat dicakar kucing garong. Tapi aku bisa menghadangnya. Tu kucing akhirnya nagis dan mengadu ke mamanya,"

"Terus keluarganya datang?"
"Mungkin, tapi aku sudah pulang. Udahlah, ngapain mikirin kucing, toh mereka tidak memikirkan kita."

"Apakah setelah ini, kita masih bisa makan seenak ini? Aku khawatir kalau ini menjadi makan terakhir kita,"

"Tenang Bro, Tuhan maha kaya,"

"Dan manusia maha miskin, ha ha ha ha."

Kami juga pernah akting menjadi Pengusaha. Membicarakan tentang produk kopi 4 in 1 nya kopi Malaysia. Terus masalah prospek kopi Gayo. Bahkan masalah cinta. Sekian dulu. Nanti ku sambung lagi.

He he he.... Mau makan sekarang, laper.


Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.