Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Aku dan Sejuta Kegagalan

Sekedar Pengantar
Ini kisah nyata perjalanan hidupku
Semoga bermanfa'at . . . . .

Kenangan . . .. 
Tak banyak yang ku ingat dalam perjalanan hidup ini. Sebisa mungkin, aku mencoba memutar kembali memori kenangan itu. Setidaknya, di saat aku benar-benar lupa, aku bisa membaca kembali tentang diriku yang dulu. Ya, aku ingin tersenyum atas kesuksesanku jika memang dulu aku seperti itu, atau menangis karena kejahatanku. Tulisan ini sengaja ku ketik untuk itu. Aku tak ingin seperti daun yang jatuh menjadi tanah, lantas lupa bahwa dia adalah daun yang rindang/teduh dulunya. Aku punya sejarah, meski tak indah. Aku punya kenangan, meski tak layak dikenang.

Dulu, hobiku adalah makan ice cream, cokelat, dan semua yang manis-manis. Di Jakarta, tiap kali jalan-jalan aku dan adikku Rahayu Afrianti selalu dibelikan ice cream. Mungkin inilah sebabnya mengapa dulu gigiku ompong. Nenekku (Ibu dari Mamaku) menjadikan ini sebagai lelucon, beliau menyanyikan lagu itu untuk menghiburku. "Pong aik aik, si ompong bau taik," hanya itu lirik yang selalu diulangnya.

Tapi, itu dahulu. Adapun aku yang sekarang bergigi jarang, sensitif dan memiki berat badan yang mudah tumbang. Aku kurus tinggi. Temanku menyebutku galah (alat menjolok sesuatu yang tinggi, seperti buah di pohonnya). Mereka yang tidak pernah melihatku dalam jangka waktu 4-6 tahun akan terkecut dengan kecepatan pertumbuhanku ini. Banyak yang berubah, termasuk cara pandangku.

Di Jalur Pendidikan Umum
Sejatinya aku tidak memisah-misahkan hal ini.

Ketika aku masuk TK (Taman Kanak-Kanak) di Desa Lawe Sigala-gala, banyak yang menggangguku karena kediamanku. Dulu aku sangat lugu, polos dan terlihat baik. Hal yang paling ku ingat adalah ketika aku meloncat dari ayunan besi karena temanku malah mengayun kencang padahal aku minta berhenti. Darah di kepalaku lumayan banyak, dan bekas itu masih ada, mungkin. Aku juga sering menangis. Tapi dulu, di TK itu, aku sempat naksir kepada cewek. Sampai sekarang cewek yang ku taksir itu masih cantik dan punya karir yang bagus. Kekayaannya menurunkan semangat juangku. He he he.

Setelah lulus TK, aku melanjutkan pendidikan SD di SDN 1 lawe Sigala-gala. Di kelas tiga pada ujian catur wulan dua kalau tak salah, aku gagal meraih ranking 1. Irwana Fenata menggesarkanku ketika itu. Lalu, Lia yang juga baru beberapa bulan pindah ke kelasku ikut-ikutan menyingkirkanku. Aku akhirnya harus rela berada pada perngkat dua, lalu tiga, dan yang terakhir peringkat ke-empat setelah Sri Wahyuni (Noni) menyusul menghancurkan nasibku. Untuk pertama kalinya jatuh, aku menangis karena takut dimarahi mamak. Aku pernah dimarah hanya karena nilai 8 (delapan). Aku juga dimarah hanya karena tak belajar malam atau belajar tapi telat tidur. Dulu hidupku sangat teratur.

Meski berada di peringkat empat, oleh dukungan teman-teman aku diutus bersama Irna dan Lia mengikuti cerdas cermat tingkat Kecamatan dan kami memang. Sayangnya, di tingkat Kabupaten aku tidak ikut, dan kami kalah (bukan karena kau tak ikut). Selain gagal mempertahankan ranking 1, aku juga gagal mempertahankan posisi ketua kelas ketika itu. Irna (Irwana Fenata nama lengkapnya) boleh berbangga atas ketidakmampuanku ini. Emansipasi telah terjadi sejak aku SD ternyata, tapi materi gender baru ku dapat di kelas 3 'Aliyah/SMA.

Di Tsanawiyah, aku gak pernah dapat ranking bagus. Semuanya di atas angka 10. Di 'Aliyah aku berada pada putaran ranking enam dan lima. Aku selalu gagal meraih ranking 1.


Di Dunia MTQ

Selain uraian di atass, kegagalanku juga merambah ke dunia MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an). Mulanya di tingkat Kabupaten Aceh Tenggara. Aku dikalahkan, dan ketika itu aku memang tak yakin menang. Tapi, aku terheran karena namaku juga disebut sebagai juara haparan 1 atau juara 4. Ntah kenapa, pada seleksi Provinsi, aku lewat dan ikut MTQ tingkat Provinsi di Singkiil untuk pertama kalinya. Aku gagal di Singkil, bahkan utuk sekedar meraih hadiah hiburan aku tak dapat. Sebelum ke Singkil, aku juga berangkat ke Banda Aceh untuk ikut MTQ tingkat sekolah. Aku kalah, tak ada juara. Bahkan uang saku kami dipotong oleh Koruptor Agara dengan alasan Kabupaten tidak mendanai keberangakatan kami. Lalu, mengapa pergi dan setelah kami dikasih duit saku, duit itu diambil dengan alasan konyol itu? Aku tak boleh berprasanka, bisa jadi mereka memang benar. Ampuni aku Tuhan.

Masuk ke MTs. S Bustanul 'Ulum Langsa, job MTQ seakan ladang duit bagiku (begitulah pikiran orang-orang yang ikut MTQ pada umumnya). Mewakili Aceh Timur aku ikut STQ di Banda, aku berjumpa Munzir yang punya prestasi MTQ sampai tingkat Nasional. Tapi, aku juga tidak dapat apa-apa selain ilmu/pembelajaran dan pengalaman. Sampai di sini, bidang yang ku tekuni adalah tilawah (seni qira'ah).

Sepulangnya dari Banda Aceh, Aceh Timur mengadakan MTQ tingkat Kabupaten, aku mendapat TV sebagai hadiah juara 1 untuk bidang Hifdzhil 1 Juz kategori putera. Di Provinsi yang diadakan di Langsa sebagai tuan rumah, lagi-lagi aku gagal. Anehnya, di Medan (Asrama haji Medan), aku meraih juara 2 dua se-Sumatera yang diadakan oleh PTPN 2 Tanjong Morawa. Aku mewakili PTPN 1 Langsa. Di Aceh hanya ada 1 PTP. Sampai di sini kegagalanku di bidang hifdhzil qur'an.

Di hari-hari berikutnya, aku berpindah bidang ke bidang Syarhil. Tingkat Kota Langsa (setara Kabupaten), aku dan dua teman lainnya gagal meraih juara satu. Kami berada di peringkat dua. Sebelumnya di tingkat kecamatan Langsa Timur meraih juara satu. Di bidang yang sama, aku gagal dan tak meraih juara pada tingkat Kabupaten Aceh Timur. Di Kabupaten Aceh Tenggara kami meraih juara 1 di bidang Syarhil. Dan aku juga pernah meraih juara dua untuk bidang ini di Kabupaten Aceh Tenggara. Di bidang Syarhil, mewakil Aceh Tenggara (karena sebelumnya dapat peringkat 1), kami berangkat ke Bireun untuk tingkat berikutnya. Pada tingkat Provinsi, kami kalah lagi.

Lalu aku beralih ke fahmil qur'an, dan untuk pertama kalinya, kami malah menang dan dapat juara 1. Tapi kami gagal ke tingkat Privinsi. Akhirnya, aku beralih ke bidang pertama, yaitu seni qira'ah. Aku ikut dengan kategori remaja putera. Di Langsa Lama mendapat peringkat 3 kalau gak salah, kemudian di Langsa Barat dapat peringkat 1. Tapi di tingkat Kota Langsa aku gagal meraih juara 1, 2 atau 3. Aku dapat juara 4 (harapan 1). Terakhir, aku ikut MTQ di Takengon. Tingkat Provinsi dengan bidang seni qira'ah, lagi-lagi aku gagal. Sekarang MTQ benar-benar hilang dari hidupku.

Di Bangku Kuliah

Bagian ini ku tulis khusus karena unik menurutku. Aku kuliah di Jurusan Jinayah wa Siyasah. IPK-ku sampai sekarang tidak pernah mencapai 4.0. Selalu di bawah itu. Hingga saat ini IPK-ku adalah 3.8 ke atas. Di jurusan pidana dan politik  ini, aku belajar banyak hal. Prestasi formal yang tinggi ku dapatkan adalah pernah mengikuti Kompetisi Debat di Tingkat Nasional yang  diadakan oleh Mahkamah Konstitusi RI. Awalnya aku gagal di Regional 6, kami hanya meraih 4 besar dan berangkat ke Jakarta untuk diadu lagi. Di Jakarta kami gagal lagi.

Photo Bareng Debator Lainnya,,,,......
Keunikan seperti yang ku sebut di awal bagian ini adalah, di bangku kuliah aku belajar gitar dan sekarang lumayan bisa. Bahkan aku punya dua lagu ciptaan sendiri. 1 lagu lumayan banyak penggemarnya, berkisar 10 orang, ha ha ha. Di bangku kuliah juga aku mulai bekerja. Menjual es buah dan jus, menjadi pelayan di Warnet, menjadi guru ngaji di TPA, juga mengajar di SMA (ekstra kurikuler). Semua itu ku lalui penuh warna. Tapi, aku gagal mempertahankan sesuatu yang menjadi kewajiban, aku gagal mempertahankan yang telah ada. O iya, untuk saat ini, aku juga pernah tampil stand up comedy dua kali di dua Acara.

Aku gagal menulis beberapa tulisan walau hanya satu buku. Tulisanku hanya dimuat di Blog pribadiku, di Gema Baiturrahma, di Catatan FB, dan yang terakhir di dua buku Antologi Cerpen dengan judul "Sang Juara" dan "Kami Tak Butuh Kartini Indonesia". Tapi judul cerpenku adalah "Membunuh Takdir" dan "Namaku Bukan Amy/Namaku Aminah". Juga di Blog HMJ-SJS, di Blog KP2A yang ku kelola, jadi gak perlu dibanggain. He he he.

Pastinya, sangat banyak kegagalan yang ku alami. Sampai saat ini, kegagalan itu menghantui dan ingin mematahkan kaki. Gagal menginginkanku pincang; tak bisa berjalan. Aku gagal memaknai proses ini, dan aku suka kegagalan itu. Yang jangan, aku masuk ke lubang yang sama. Mottoku adalah:

"Sesungguhnya Kegagalan tak Pernah Ada, Kitalah Yang Gagal Memaknai Prosesnya"

Terimakasih, sekian dan nantikan omelanku lainnya, He he he......................

Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.