Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Perbandingan Empat Madzhab Jomblo


Semua insan memiliki cinta
Tapi, tak semua cinta dirasa di dunia
Ada alam fana, ada pula alam baqa di sana
Di manakah cinta kita berada, Tuhan Maha Tahu Atas Segalanya

Pendahuluan

Tuhan menciptakan manusia berpsang-pasangan. Hal ini memberi indikasi bahwa manusia sejatinya memiliki kekasih. Namun, apakah perjumpaan selamanya terjadi di dunia? Tidak, faktanya tidak semua manusia menikah. Mungkin ini karena alam juga terbagi dua. Dan hanya Tuhan yang lebih tahu siapa pasangan kita sesungguhnya. Karena ke-Jahil-an inilah manusia dituntut mencari dan dilarang berdiam diri. Tugas kita hanya usaha, dan ketentuannya bagi yang berusaha akan menuai hasil dan yang bermalas akan menerima ganjaran pula. Tentunya hal yang positif akan berdampak baik dan yang negatif akan berefek buruk. Ini ketentuannya.

Dari fenomena yang ada; bahwa manusia ada yang tak menemukan cintanya di dunia, atau bertemu tapi tak bisa bersama dan alasannya lainnya, maka terciptalah satu kosa kata bagi mereka yang hidup sendiri yaitu Jomblo. Jomblo adalah lawan dari berpasangan. Kata ini kerap ditujukan kepada orang yang tidak berpacaran. Tapi, merujuk pada makna sesungguhnya, jomblo berarti satu posisi kesendirian yang dialami oleh lelaki atau wanita. Ternyata kondisi ini tidak sekedar fenomena, jomblo ternyata kian menjadi trend bahkan gerakan. Sebagian orang mengatasnamakan diri sebagai jomblo sejati atau sebutan lainnya yang memberi isyarat tentang kebanggaannya menjadi jomblo.

Tunggu dulu! Kita harus menyepakati arah tulisan ini agar tidak terciptanya tuduhan/tudingan-tudingan miring. Ini hanya bermaksud menghibur. Sesuatu yang berkenaan dengan privasi seseorang sesungguhnya adalah kebetulan-kebetulan belaka. Tidak ada unsur ingin menggiring pembaca kepada satu pemikiran gila yang kerap terjadi di dunia dan Indonesia pada khususnya. Tulisan ini hanya menghibur dan maaf jika pembaca tak terhibur.

Empat Madzhab Jomblo

1. Zawiliyah

Zawiliyah diambil dari nama seorang jomblo (seperti imam dalam madzhab sesungguhnya) yang bernama Zawil Kiram. Dan madzhab-madzhab berikutnya juga merupakan penisbatan terhadap pendirinya masing-masing. Sebut saaja madzhab Saifiyah yang berasal dari nama Saifuddin. Sehingga pada tataran berikutnya, penjelasan tentang asal penamaan madzhab ini tidak perlu lagi kita bahas. Belum ada sistemasisasi yang jelas tentang ajaran ini. Namun, bisa dijelaskan tentang penyebab mengapa jomblo ini bertahan hingga sekarang dengan pemikirannya yang juga kian berkembang.

Madzhab ini meyakini tentang adanya jodoh di tangan Tuhan. Namun, karena pengalamannya berupa usaha mendapat cinta di dunia tidak pernah terwujud, maka Zawil menyimpulkan bahwa menjadi jomblo lebih baik ketimbang selalu hidup dalam kesia-siaan usaha. Konklusinya adalah, dia jomblo karena memang tidak ada yang menghendaki dirinya untuk dijadikan pasangan yang hidup di atas nama CINTA. Asas yang mendasar dalam madzhab ini adalah asas Frustasi. Di mana para pencari cinta yang putus asa dan tak ingin lagi berusaha mencari cintanya, berkumpul dalam madzhab ini. Tapi ini bohong. Sekedar lelucon. He he he.....

2. Madzhab Akmaliyah

Akmalul Riza merupakan pendiri madzhab ini. Hampir mirip dengan madzhab sebelumnya, maka asas yang juga popular dalam madzhab ini adalah asas frustasi. Namun, madzhab Akmaliyah lebih baik setingkat ketimbang Zawiliyah. Hal ini karena frustasinya madzhab Akmaliyah bukan tak pernah mendapat cinta. Akmal sendiri pernah bercinta, tapi kandas karena diputusin sepihak oleh pasangannya. Artinya, tingkat kekecewaan dalam madzhab ini lebih baik setingkat dari yang pertama. Ini juga bohong.

3. Madzhab Saifiyah

Saifuddin tidak mendirikan madzhab ini, tetapi pengikutnyalah yang memperjuangkannya. Entah karena apa, dan memang tidak ada alasan yang jelas, madzhab ini berdiri di atas asas netralitas. Netral berarti kecenderungan yang tak memihak. Saifuddin sebenarnya pernah bercinta, tapi kini beliau jomblo dan tak pernah lagi berbicara tentang cinta.

Tidak menyukai wanita/lelaki bukan berarti mereka homo/lesbi. Mereka seperti kehilangan rasa. Seperti hambar, atau air tawar yang tidak memiliki kecenderungan rasa. Rasa mereka adalah tidak merasa suka terhadap laki-laki/wanita. Madzhab ini lebih baik dari dua madzhab sebelumnya karena jomblonya mereka bukan atas dasar kekecewaan yang berefek pada frustasi.

4. Madzhab Khairiyah

Dari namanya dan tingkatannya, maka madzhab ini memang lebih baik. Pengaruh terbesar tercptanya madzhab ini adalah imajinasi yang menuntut kesempurnaan diri dan pasangan. Tapi, hal ini pula yang menjadikan mereka tidak pernah mendapatkan pasangan yang cocok. Mungkin standar yang mereka bangun dalam imajinasi tentang pasangan yang ideal, tidak pernah ada di dunia ini. Sehingga, bisa disimpulkan, mereka lebih mencinta diri sendiri ketimbang yang lain.

Perfectionitas atau kesempurnaan menjadi asas gerakan ini. Memilih untuk jomblo juga karena mereka tidak akan bisa memberi kesempurnaan kepada pasangannya yang merupakan dampak dari tuntutan logika. Logika bahwa mereka tidak mungkin memberi lebih kepada pasangannya sementara diri mereka lebih mereka cintai dari pada pasangannya.

Pendiri madzhab ini bernama Khairil Akbar. Pengikut setia madzhab ini adalah Via Nurjannah yang juga memiliki beberapa karya dan pandangan tentang cinta dan jomblo pada khususnya. Sekali lagi, ini hanya lelucon belaka. He he he....

Hal yang menarik dari ke-empat madzhab ini adalah, para pendiri merupakan sahabat akrab yang juga sering bahkan hampir setiap saat selalu bersama. Sesuai dengan urutannya, maka pendiri terganteng adalah madzhab ke-empat. Dengan urutan terjelek adalah madzhab pertama. Wakakakakaka . . . 
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.