Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Pemberontakan Dalam Islam (Studi Analisis Tafsir Siyasah)

PEMBERONTAKAN DAN PERDAMAIAN

ÉOó¡Î0 «!$# Ç`»uH÷q§9$# ÉOŠÏm§9$#
bÎ)ur Èb$tGxÿͬ!$sÛ z`ÏB tûüÏZÏB÷sßJø9$# (#qè=tGtGø%$# (#qßsÎ=ô¹r'sù $yJåks]÷t/ ( .bÎ*sù ôMtót/ $yJßg1y÷nÎ) n?tã 3t÷zW{$# (#qè=ÏG»s)sù ÓÉL©9$# ÓÈöö7s? 4Ó®Lym uäþÅ"s? #n<Î) ̍øBr& «!$# 4 bÎ*sù ôNuä!$sù (#qßsÎ=ô¹r'sù $yJåks]÷t/ ÉAôyèø9$$Î/ (#þqäÜÅ¡ø%r&ur ( ¨bÎ) ©!$# =Ïtä šúüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÒÈ $yJ¯RÎ) tbqãZÏB÷sßJø9$# ×ouq÷zÎ) (#qßsÎ=ô¹r'sù tû÷üt/ ö/ä3÷ƒuqyzr& 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# ÷/ä3ª=yès9 tbqçHxqöè? ÇÊÉÈ
TERJEMAHAN
 Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil ۝ Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat ۝ (al-Hujarat ayat 9-10).
TAFSIR KATA
-          In bermakna jika, menunjukkan bahwa pertikaian antara mukmin jarang terjadi.
-          Iqtatalu terambil dari kata qatala yang berarti membunuh, berkelahi, atau mengutuk.
-          Thâifatâni: dua kelompok
-          ash-lihũ terambil dari kata ashlaha asalnya adalah shaluha. Antonim dari kata fasada (rusak) yang berarti (manfa’ah). Berarti ash-lihũ bermakna perintah untuk mendatangkan manfa’at atau melakukan perbaikan; tentunya hubungan antara yang bertikai.
-          Baghat terambil dari kata baghâ pada dasarnya berarti kehendak, namun berkembang pada makna melampaui batas.
-          al-Muqshithîn terambil dari kata qisth yang biasanya diartikan dengan kata ‘adl. Namun ada yang mengartikannya  bahwa qisht adalah keadilan yang diterapkan kepada dua belah pihak sementara ‘adl menempatkan sesuatu pada tempatnya walau tidak menyenangkan satu belah pihak.
ASBAB AN-NUZUL
Al-Bukhari berkata: Musaddad menceritakan kepada kami; Mu’tamir menceritakan kepada kami, ia berkata: aku mendengar ayahku bahwa Anas r.a berkata: “Ada yang berkata kepada Nabi saw. ‘Sekiranya engkau mendatangi ‘Abdullah bin Ubay,’ Nabi saw. lalu bertolak kepadanya dengan mengendarai keledai dan kaum Muslimin juga bertolak berjalan bersama beliau di sebuah tanah lembab dan asin (yang tidak dapat digarap). Tatkala Nabi saw. mendatanginya, ia (‘Abdullah bin Ubay) berkata, ‘Menjauhlah dariku, demi Allah bau busuk keledaimu telah menggangguku.” Maka salah seorang Anshar dari mereka berkata, ‘Demi Allah, sungguh keledai Rasulullah saw lebih harum baunya daripada kamu.’ Lalu salah seorang dari kaumnya marah untuk (membela) ‘Abdullah, sehingga keduanya saling mencaci dan diikuti oleh kemarahan para sahabat kedua orang itu. Sehingga terjadi saling pukul antara keduanya dengan pelepah kurma, sandal dan tangan. Kemudian sampailah (berita) kepada kami bahwa telah turun ayat: ‘Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara kedunya.’”[1]
TAFSIR POLITIK
Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa kalau dua golongan kaum mukmin bersengketa hingga menimbulkan perang, maka kewajiban bagi orang Islam untuk mendamaikan dengan segera kedua golongan yang berperang itu.[2] Dengan demikian, maka perdamaian merupakan tujuan dalam Islam. Bukankah makna Islam adalah damai? Pada ayat berikutnya akan terlihat jelas bahwa kecondongan berdamai Allah memakai kata as-silmu yang kata Islam juga terambil dari kata itu. Namun damai dalam ayat berikutnya bukan bermakna Islam secara institusional agama, melainkan bermakna umum yaitu ‘damai’.
Hal ini juga terlihat dari penjelasan Prof. Hasbi ash-Shiddieqy bahwa: “Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bagaimana para mukmin mendamaikan dua golongan yang bersengketa dan menyuruh para mukmin memerangi golongan yang kembali membuat aniaya (zalim) sesudah diadakan perdamaian, sehingga dengan demikian mereka bisa kembali kepada perdamaian yang mereka langgar. Perdamaian, sebagaimana wajib kita lakukan antara dua golongan yang bermusuhan, begitu pula antara dua orang bersaudara yang bersengketa. Pada akhirnya Allah menyuruh kita bertaqwa kepada-Nya dan mengakui hukum-Nya.”[3]
Ternyata, perintah mendamaikan antara yang bertikai tak semata mendamaikan kedua kelompok mukmin saja. Kata ikhwah dalam al-Qur’an yang hanya terulang tujuh kali dalam al-Qur’an ternyata berbeda maknanya dengan kata ikhwah dalam al-Hujurât ini. “Hal ini agaknya untuk mengisyaratkan bahwa persaudaraan yang terjalin antara sesama Muslim, adalah persaudaraan yang dasarnya berganda. Sekali atas dasar persamaan iman, dan kali ke-dua adalah persaudaraan seketurunan, walaupun yang kedua ini bukan dalam pengertian yang hakiki. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memutuskan hubungan persaudaraan itu”.[4]
Nah, adapun penggunaan bentuk dual pada kata akhawaikum di sini memberi arti bahwa jangankan antara banyak orang, dua pun, jika mereka berselisih harus di-ishlâh-kan. Sehingga harmonislah hubungan mereka. Oleh karena semua dipandang bersaudara, maka “damaikanlah di antara saudara-sauramu yang se-agama itu, sebagaimana kamu mendamaikan saudaramu yang seketurunan”.[5] Quraish-Shihab menutup tafsirannya terhadap ayat ini dengan penekanan bahwa Islam jelas-jelas menuntut terbentuknya kesatuan dan kesatuan, bukan sebaliknya. Problem jika ada yang mengkhianati, maka perangilah, namun dengan tujuan agar mereka kembali, bukan membasmi apalagi melakukan pelanggaran-pelanggaran berat yang sering terjadi dalam peperangan seperti genosida dan sebagainya. Islam memiliki ketentuan-ketentuan hukum dalam hal ini.
HUKUM POLITIK
-          Perintah untuk melakukan ishlâh jika ada pertikaian antara kedua kelompok mukmin.
-          Perintah memerangi orang-orang yang mengingkari janji damai sampai surut kembali ke-jalan (perintah) Allah
-          Perintah untuk melakukan ishlâh secara adil seadil-adilnya
-          Penegasan bahwa mukmin itu adalah satu kesatuan ummat
-          Perintah bertaqwa karena tujuan hidup yang di dalamnya terdapat aspek politik, tak boleh terlepas dari nilai ibadah. Menurut Bapak Hasanuddin Yusuf Adan “Siyâsah adalah ‘ibâdah).

* bÎ)ur (#qßsuZy_ ÄNù=¡¡=Ï9 ôxuZô_$$sù $olm; ö@©.uqs?ur n?tã «!$# 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# ãLìÎ=yèø9$# ÇÏÊÈ
TERJEMAHAN
Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (al-Anfal ayat 61)
TAFSIR KATA
-          Janahu: condong atau cenderung; baik dalam genjatan senjata atau perjanjian tidak saling menyerang.[6] Berasal dari kata janâh yang berarti sayap, hal ini berkaitan dengan burung yang menyondongkan sayapnya kea rah yang dituju.
-          Li as-Silmi: Untuk berdamai, bukan untuk masuk agama Islam, karena terkadang kata Islam juga bisa berarti Islam dalam arti agama.
-          tawakkal: berserah diri dan percayakan segala urusan kepada-Nya.[7]
ASBAB AN-NUZUL
 Kami tidak menemukan asbab an-nuzul ayat ini.
TAFSIR POLITIK
Dalam Islam, perang bukanlah tujuan, melainkan media dakwah terakhir setelah berbagai upaya ditempuh. Artinya, peperangan itu sendiri sesunguhnya sangat dibenci oleh Islam sehingga dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Muslimin agar mengikuti perdamaian kendatipun hal itu permintaan dari musuh. Quraish Shihab menjelaskan dalam tafsirnya bahwa pengertian izin melakukan perdamaian ini hanyalah bagi kelompok-kelompok tertentu bahkan ada pula yang membatasinya hanya dalam jangka waktu sepuluh tahun tidak boleh lebih karena Nabi dalam perjanjian Hudaibiyah melakukan perjanjian dengan tempo sepuluh tahun. Beliau menambahkan bahwa hal ini tak sepenuhnya didukung oleh Ulama kontemporer.
“Perdamaian adalah dambaan setiap manusia, selama perdamaian itu adil. Karena itu pula tidak ada halangan bagi kaum Muslimin bukan saja menerima tetapi juga menawarkan perdamaian selama ada kemashlahatan yang dapat diraih.”[8] Penjelasan ini member pemahaman bahwa perdamaianlah yang mesti diutamakan bukan perselisihan, peperangan dan sebagainya.
Problem selanjutnya adalah apakah ayat ini telah di-nasakh-kan? Ibn ‘Abbas mengatakan, bahwa ayat ini telah di-nasakh-kan dengan ayat “Kamu perangilah orang Musyrik”.[9] Namun para Mujtahid mengatakan ayat ini tetap muhkamat. Berkaitan dengan hal ini, kiranya pendapat Ibn ‘Abbas memang lebih tepat. Ayat ini bukan hukum final. Dan bagi orang-orang yang mental dan pikirannya tertekan dengan realitas sekarang tidak perlu mentakwilkan dengan takwilan yang keliru. Ayat ini memiliki kesinambungan munasabah dan terkait muqayyad dengan ayat lainnya yakni surat Bara’ah. Karena pada anggapan yang mengatakan bahwa hukum ini muhkamat dan final lalu menafsirkan ‘kecondongan untuk berdamai’ dengan  pemungutan pajak jizyah sangat tidak relevan.
“Pendapat ini tidak sesuai dengan realitas sejarah, karena hukum-hukum jizyah itu turun di dalam surah Bara’ah pada tahun 8 Hijrah. Sedangkan ayat ini turun pada tahun 2 sesudah Perang Badar, dan pada waktu itu belum ada hukum tentang jizyah”.[10] Kemudian dalam menyikapi pendapat orang yang menafsirkan perdamaian dengan jizyah, Sayyid Quthb berkata: “Semua itu dimaksudkan untuk sampai pada kesimpulan bahwa jihad dalam Islam itu adalah semata-mata untuk melindungi orang-orang Islam dan Darul-Islam semata”.[11] Seolah-olah Islam tidak punya hak untuk menuntut terhadap orang lain. Sedikit terkesan menentang, tetapi dalam lanjutan tulisannya beliau meminta agar hal ini diperjelas oleh si-Pemberi pendapat.
Berbeda pada ayat  sebelumnya, maka kata-kata condonglah di sini karena perdamaian ini bukan antara mukmin yang harus diperbaiki hubungannya. Ayat ini bercerita antara Muslim dan Kafir. Nah, walaupun demikian, tetap saja, keadaan untuk berdamai mestilah diutamakan. Berkaitan dengan kepicikan kafir terhadap Muslim, setidaknya kata condonglah juga member kesan kehati-hatian. Artinya, kita mesti mengikuti prosedur yang ada namun tanpa melupakan sikap antisipasi. Sebagai mukmin, mestilah bertawakkal agar Allah senantiasa membantu dalam setiap pergerakan kita. Allah melindungi orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya seperti halnya Allah menaungi Nabi dalam lindungan-Nya.
Di akhir ayat ini, Allah memerintahkan Nabi untuk bertawakkal. Dan beginilah sikap yang anggun yang semestinya kita ikuti. Nabi Muhammad saw. sebagai uswah melakukannya. Namun memang sedikit terjadi kekeliruan bagi orang-orang yang  enggan berusaha. Orang-orang malas ini akan menjadikan tawakkal sebagai alasan untuk tidak melakukan upaya. Padahal disetiap perintah tawakkal tentu ada perintah lain sebelumnya. Maknanya adalah, upaya mesti terus ditingkatkan dan Nabi memang mena’ati perintah Allah untuk berdamai karena kecondongan musuh untuk berdamai.
Quraish-Shihab menafsirkan maksud dari tawakkal ini dengan menyerahkan segalanya kepada Allah. Beliau menambahkan “Bertawakkal mengharuskan seseorang meyakini bahwa Allah yang mewujudkan segala sesuatu”.[12] Dengan demikian keimanan yang sempurna inilah yang menaungi Nabi di dalam lindungan Allah. “Allah melindungi beliau dari tipu daya mereka”.[13] Hal ini selaras dengan sambungan ayat ini bahwa “Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin”.
HUKUM POLITIK
-          Perintah untuk condong kepada perdamaian, kendatipun itu permintaan musuh.
-          Perintah ber-tawakkal kepada Allah namun setelah melakukan berbagai upaya.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas, dalam ideolopi politik Islam, perdamaian merupakan hal yang utama, bukan pemberontakan. Justru, pemberontakan merupakan hal keji dan pemerintahan wajib menumpas kaum pemberontak ini. Seperti perintah-Nya untuk memerangi mereka yang mengingkari perdamaian, jelaslah bahwa pengingkaran juga termasuk dalam rangkaian pemberontakan yang harus diperangi. Inilah ajaran yang lurus, selamat dan menentramkan. Adapun tuduhan kafir bahwa hukum Allah adalah hukuman yang kejam, haruslah memiliki referensi yang representative. Dan, penegasan yang Allah ucapkan dalam ayat ini masalah perdamaian terulang dua kali pada ayat 9 surat al-Hujurât dan 1 kali pada ayat 10 nya. Nah, penegasan kedua memang tidak langsung dengan kata ishlâh, tapi setidaknya juga memberi makna agar Islam lebih condong kepada perdamaian. Karena damailah keadaan yang harus diupayakan bukan kerusuhan yang dilakukan pemberontak maupun musuh.
END NOTES


[1] Muqbil bin Hadi, Shohih Asbabun-Nuzul, Meccah: Depok, hlm.387
[2] Abdul Halim Hasan, Tafsir Ahkam, Kencana: Jakarta, 2006, cetakan ke-1, hlm.568
[3] Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir an-Nur, Pustaka Rizki Putra: Semarang, 2000, jilid 5, hlm.3919
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Volume 13, Lentera Hati: Jakarta, 2007, cetakan ke VIII, hlm.248
[5] Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir an-Nur, Pustaka Rizki Putra: Semarang, 2000, jilid 5, hlm.3919
[6] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Volume 5, Lentera Hati: Jakarta, 2007, cetakan ke VIII, hlm.487
[7] Ibid
[8] Ibid, hlm.487-488
[9] Abdul Halim Hasan, Tafsir Ahkam, Kencana: Jakarta, 2006, cetakan ke-1, hlm.464
[10] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Dhzilalil-Qur’an, Gema Insani: Jakarta, 2003, jilid 5, hlm.227
[11] Ibid, hlm.228
[12] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Volume 5, Lentera Hati: Jakarta, 2007, cetakan ke VIII, hlm.488
[13] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Dhzilalil-Qur’an, Gema Insani: Jakarta, 2003,jilid 5, hlm.230
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.