Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

1 Identitas Yahudi dan Nashrani yang Tak Pernah Mati


“Dan tidak akan pernah ridha Yahudi dan Nashrani kepadamu sehingga kau mengikuti ajarannya”
(al-Qur’an)

 Suatu ketika, seorang bocah meledek bocah lainnya dengan hinaan bahwa si bocah yang diejeknya adalah orang jahat, suka memukul yang padahal bocah itu tak pernah melakukannya. Lalu bocah yang diledek pun menjawab, “Lo yang jahat, suka hina orang, suka fitnah orang, suka mukul orang  juga.” Balas si bocah tapi disertai dengan pukulan.

Teman, perhatikanlah cerita di atas. Jika di hayati, dongeng di atas sama halnya dengan kondisi Islam sekarang. Hanya Islam satu-satunya agama di sisi Allah. Islam agama yang lurus dan benar. Tapi para Muslimlah yang membengkokkan ajarannya. Sikap kita cenderung meng-iya-kan tuduhan orang. Di saat dunia mengecam Muslim is Theroris semakin banyak pula para Mujahidin jadi-jadian mengebom Gereja, Hotel dan tempat  umum lainnya. Begitupun halnya dengan boca yang dihina di atas. Saat dibilang bahwa dia tukang pukul lalu sibocah marah dan memukul. Mungkin sikap ini wajar tapi bukankah masih ada cara yang lebih benar?

Aku heran dengan dunia; penuh benci, dendam dan perang. Padahal hidup itu indah. Ku temui bahwa Islam adalah ajaran kasih. Tapi aku  seolah berdusta karena ucapanku simpang siur dengan realita. Realitanya adalah, hampir setiap Muslim tentu membenci Yahudi, Nashrani dan mungkin setiap agama yang berbeda dengannya. Jangankan beda agama, terkadang hanya karena aliran yang tak sama, mereka saling hina bahkan menghilangkan nyawa. Dalam perbedaan pendapat saja, buku yang dianggap sesat akan dimusnahkan begitu saja. Ya, sikap itu menurutku adalah perilaku tak bertanggungjawab yang dalam hal ini sama saja dengan ulah Amerika yang membunuh “Osama” namun menghilangkan nyawa dan jasadnya. Tindakan seperti ini tentunya telah melangkahi nilai keadilan. Dalam legal formal, bersalah dan tidaknya seseorang mestilah melalui pengadilan yang berimbang, adil tanpa penindasan.

Teman, dan siapa saja yang membaca tulisan ini. Dengarkan ini: Jika Yahudi dan Nashrani tak pernah ridha, haruskah kita membencinya? Itu hanya akan menjadikan kita sama dengan mereka. Sama-sama saling benci sampai ego diri terpenuhi. Katakan ini teman “Cukup bagiku Islam yang mendamaikan, rahmat bagi seluruh ‘alam”. Menurutku, beginilah seharusnya Muslim. Bukan seperti ikan yang dipancing lalu memakan pancingan.

Ingatkan firman Tuhan, yaitu perkataan ar-Rahman yang penuh kebenaran? Allah berkata bahwa “tidak akan pernah ridha Yahudi dan Nashrani kepadamu sehingga kau mengikuti ajarannya.” Nah, penyakit hati ini (kebencian) ini sebenarnya adalah sifat yang identik dengan Yahudi dan Nashrani. Lalu, dengan berbagai ulahnya, mereka juga mencoba menularkan virus ini. Mereka mengebom rumah-rumah  Muslim di Palestina, mereka merusak generasi muda, bahkan membunuh bocah dan melecehkan keyakinan kita. Tapi oleh para Da’i, virus ini kian disebarkan lalu tertanam pula di dalam jiwa Muslim suatu kebencian bagi Yahudi dan Nashrani. Lihatlah ucapan mereka, boro-boro untuk menciptakan perdamaian dunia, para Da’i juga seperti kompor gas yang siap meledakkan kemarahan Muslim.

Lalu apa beda kita dengan mereka? Tanyakan lagi Sobat.

Memang benar bahwa idealita kerap kali berbanding terbalik dengan  realiita. Namun mengupayakannya agar sejalan adalah  tugas kita teman.  Usahlah kita meributkan  persoalan yang ringan jika masih ada persoalan besar di hadapan. Kita malah lebih suka mempertahankan Muslim adalah syarat Pemimpin lalu mengabaikan bahwa keadilan adalah syarat terpenting. Sehingga Ibn Taimiyah menurut saya sedang menyindir kita akan suatu hal. Yaitu sesuatu yang membuat kita sering lupa diri. Padahal kita tak perlu risau karena Muslim sejatinya adalah  ‘adil dan jika harus berhadapan dengan Non-Muslim di suatu pesta  demokrasi maka Muslim adalah figure yang menenggelamkan pengaruh lawannya. Tapi kita lebih suka menggunakan cara mereka ketimbang jurus sendiri. Kita juga menggunakan politik belah bambu agar terpilih secara aklamasi dengan menjadikan Islam adalah syarat Pemimpin yang akan di pilih. Tidak salah, namun bagaimana jika posisi Negara ini bukan Negara Islam? Atau justru di sebuah Negara dengan Kristen adalah mayoritas penduduknya? Lalu Ibn Taimiyah pun berkata “Pemimpin kafir yang adil lebih baik ketimbang Pemimpin Muslim yang dhzalim” yang sebenarnya ingin menegaskan bahwa yang  adil seharusnya Muslim bukanlah kafir.

Masalah remeh lainnya jugasering diperdebatkan oleh banyak orang ketika mengkritik saya lalu menuduh saya sebagai Liberalis. Ketika itu saya mengatakan bahwa hanya taqwalah pembeda manusia. Lalu mereka menyodorkan pertanyaan “apakah anda juga akan mengatakan semua agama itu sama?” Padahal, untuk menjadi taqwa seseorang mestilah Islam karena ber-Islam adalah perintah. Kita  kan ngerti  bahkan hafal defenisi taqwa, kok malah berlagak bodoh? Kita kian membeda-bedakan ciptaan-Nya dengan menjadikan diri kita  adalah manusia dengan kasta tertinggi. Jika pun benar, dan Islam bagiku memanglah benar, apa harus menyalahkan orang? Apa harus merendahkan orang?

Kok malah lari  ke yang lain ya? Nggak apalah, seebagai contoh. Sebenarnya tulisan ini hanya sebatas mengkaji ulang sikap kita. Nah, kayaknya cukup deh. Semoga  tulisan ini mampu menyadarkan kita yang sebenarnya Yahudi dan Nashranilah yang tak pernah ridha kepada kita, bukannya kita yang selalu membenci mereka. Kita ini beriman yang hatinya tentram, tenang, nyaman tanpa ada penyakit hati  yang  ku sebut sebagai sebuah "kebencian".
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.