Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

KEDAULATAN PETANI


Pernahkah kita berterimakasih. Kepada para petani penanam benih? Keramahan yang putih. Ketulusan yang tak pernah menagih. (D. Zawawi Imron)
KEDAULATAN PETANI HARGA MATI
Oleh | Khairil Akbar

Masalah demi masalah tak kunjung usai dari bumi Aceh. Jika hal ini pertanda bahwa Aceh kian bertumbuh patutlah diacungkan jempol. Namun, apakah harapan itu terwujud? Di satu sisi mungkin iya, tapi bila kita melihat lebih dalam Aceh justru jauh merosot. Betapa tidak, beberapa tahun pasca MoU kekhususan Aceh semakin terlihat dengan ditanda tanganinya MoU dan pengesahan UUPA. Namun untuk sebuah realisasi, Aceh justru jauh dibawah standart. Terror yang belakangin pernah terjadi, bukankah atas dalih (alasan) kesejahteraan yang tak merata? Lalu apa yang sebenarnya terjadi  di Aceh?


Mau tidak mau kesemua bentuk kekacauan ini bermuara pada satu titik problema. “Dunia ini cukup bagi seluruh kita, tapi tidak bagi seorang yang  rakus atau serakah,” demikianlah sepintas makna dari sebuah ungkapan bijak Gandhi. Saya pikir cukup dalam menggambarkan maksud saya di atas. Satu titik saklar itu adalah perut. Panasnya perpolitikan di Aceh karena perut. Penembakan dan terror di sana-sini sejatinya adalah karena perut. Memang ini bukan konsekuensi langsung dari kelaparan, namun perlu kita pahami bahwa semua yang dicari berujung  pada kepuasan perut.

Semoga Semua Petani Sejahtera
Tertarik dengan berita yang menyedihkan beberapa bulan lalu, dan ini saya pikir jarang menjadi bahan kajian kritis bagi kita yaitu masalah perang sengit hewan liar yang menyebabkan tewasnya beberapa Petani di Aceh. Hal ini merupakan konflik yang aneh karena yang berperang bukan antara manusia dengan manusia lain atau kelompok satu dengan lainnya, melainkan ini adalah konflik hewan liar dengan  manusia khusunya  Petani. Inilah sebabnya mengapa saya menulis judul tulisan ini dengan “Kedaulatan Petani Harga Mati.” Dan ini akan saya kupas secara lugas insyaallah.

Idelanya hidup bukanlah untuk makan, namun untuk sebuah tujuan hidup (ibadah) maka makanan adalah kebutuhan pokok yang tak bisa ditinggalkan. Bayangkan, apa jadinya bila perut kosong? Jangankan untuk rutinitas kerja kita, tidur saja kita tak  akan nyaman. Dengan demikian kita mesti sepakat bahwa pangan memiliki urgensitas yang sangat butuh perhatian. Nah, jika hal ini kita setuji, langkah utama yang mesti dilakukan oleh Pemerintah adalah mensejahterakan Petani sebagai penyedia kebutuhan tersebut.

Penyebab Konflik

Seperti di awal tulisan ini, maka sebab utama konflik sebenarnya adalah perut. Perambahan hutan yang dilakukan Petani disebabkan karena tidak tercukupinya kebutuhan sehari-hari mereka. Untuk memulai bertani kembali terkadang mereka harus menunggu tanam serentak atau mencari musim yang cocok yang untuk waktu sementara akan menjadikan mereka sebagai Penganggur baru. Pikiran pendek kita saja akan menolak akibat ini, makanya mereka dengan minimnya keterampilan tani akan mengambil jalan yang justru membahayakan mereka.

Pahlawan Penabur Benih
Apakah hanya itu penyebab konflik ini? Tidak, saya secara terpaksa harus mengatakan tidak, karena hal ini juga terjadi karena terancamnya hidup hewan liar oleh ulah manusia. Seperti pemutusan mata rantai kehidupan mereka misalnya, ya naluri siapa saja akan tetap mempertahankan hidup begitupun dengan hewan. Contoh kasus bisa kita ambil di wilayah Barat Selatan yaitu di kawasan hutan rawa gambut (jenis hutan yang hanya ada di Aceh). Karena ulah investor tambang, dengan izin Pemerintah tentunya, secara perlahan hutan ini rusak sedikit demi sedikit. Namun yang mereka lakukan juga membahayakan kehidupan makhluk tak berakal di wilayah itu. Adapun cara yang mereka lakukan yaitu dengan memetakan garapan mereka yang memutuskan dan mencengkram hewan yang berada dalam lingkaran kawasan mereka. Untuk akses ke hutan jalan hewan ini benar-benar terhenti karena mereka seolah memagari jalan dengan garapan mereka.

Nah, alhasil, ternyata hewan pun dengan nalurinya akan rela mati-matian bertarung dengan yang namanya Petani karena terganggunya kehidupan mereka. Setelah politik adu domba yang dimainkan Penjajah di Negeri ini ternyata Pemerintah kita justru lebih kejam dengan kebijakan-kebijakannya yang justru tidak bijak.

Kedaulatan Petani Harga Mati

Coba kita perhatikan, apakah langkah-langkah untuk mensejahterakan Petani sudah dilakukan? Jika iya mengapa persentase kemiskinan didominasi oleh Petani di Negeri ini? Bahkan untuk membuat surat miskin jika orang tua kita adalah Petani, maka Petugas dengan segera mengeluarkan surat itu karena mereka yakin bahwa Petani itu miskin. Ini merupakan pandangan realistis namun tidak serta merta menjadi patokan idealis. Petani selayaknya adalah manusia paling kaya, karena tanpa mereka pengusaha bukan siapa-siapa dan pemerintah tiada artinya. Pernah terfikir di benak saya, andai Petani menyetop suplai hasil pertanian ke pasar apa jadinya hidup ini? Semua kita kelaparan dan tentunya akan mati berangsuran.

Ternyata, boro-boro untuk mensejahterakan Petani, Pemerintah malah mengadu domba Petani dengan Binatang liar di hutan-hutan. Anehnya, Petani pula yang menjadi bulan-bulanan penyalahan mereka. Dengan seenaknya mereka malah berkata “Inikan salah Petani, mengapa hutan dirambah juga?” Sungguh sikap yang mengecewakan, ketimpangan terlihat jelas. Pemerintah kita malah mendukung para Penguasa Kapitalis, modal besar penguasa pasar, jika pasar dikuasai maka semua sendi hidup ini akan mudah diatur sesuka hati.

Memang, Petani terkadang juga merupakan perambah hutan, namun pernahkah kita bertanya mengapa perambahan itu mereka lakukan? Terlepas dari minimnya pemahaman terhadap pentingnya perlindungan hutan, ini justru karena ulah  Pemerintah yang mendukung pengrusakan itu sendiri. Jika demikian, berarti dalang sebenarnya adalah Pemerintah itu sendiri. Mengapa sih terlalu mudah mengeluarkan izin kepada Pengusaha tambang? Yang lebih menyakitkan lahan pertanian menjadi bahan eksploitasi besar-besaran yang membuat Petani harus mencari lahan lain demi keberlangsungan hidup mereka.

Di samping itu, kacau balaunya harga bahan pokok kerap kali merugikan Petani. Inflasi pasar terkadang tiba-tiba terjadi dan tak heran bila Petani harus mengutang ke sana-sini untuk memulai kembali bertani. Petani tidak memiliki jaminan dalam bercocok tanam, inilah sebabnya mengapa kemiskinan Petani justru cenderung merupakan kemiskinan structural yang memang menjadi sasaran Pemerintah. Lalu pantaskah Petani mendapatkan semua itu?

Kedaulatan Petani harga mati. Ya, dalam hal ini tiada tawar-menawar untuk tidak mensejahterakan Petani. Upaya demi upaya memang sudah dilakukan, seperti adanya UUP Agraria yang pro Petani, tapi apakah realisasi dari UU ini sudah terwujud? Yusliadi seorang Aktivis SULoH (Lembaga Advokasi kebijakan tani) mengatakan “Jika dipersentasikan, capaian dari Undang-Undang Pokok Agraria tidak akan mencapai pada angka 10%.” Bukankah ini merupakan angka yang sangat jauh dari harapan?

Dalam tulisan ini Penulis berharap agar Petani seharusnya menjadi pusat perhatian utama Pemerintah, karena merekalah penyedia kebutuhan sekunder kita. Tanpa mereka akankah kita merasakan kenyamanan hidup? Mungkin agak terlalu jauh penalarannya. Begini, kebijakan, perbuatan, amalan atau apalah namanya hanya akan baik jika perspektif atau paradigm kita juga jernih, dengan ini berarti pikiran sangat  mempengaruhi apa yang  akan terjadi kedepannya. Jika pikiran jernih berada dalam jiwa yang sehat, berarti sehat harus complete secara pangan. Terpenuhinya makanan merupakan syarat kesehatan. Nah, bukankah hal ini juga berarti bahwa “Mapan Pangan Merupakan Syarat Keadilan?” Lalu untuk kemapanan kebutuhan pokok ini apa yang  semestinya dilakukan? Pertanyaan semacam inilah yang nantinya akan menjadi solusi kita bersama.

Bukan Politisi, bukan pula Ekonom dan sebagainya. Petanilah yang semestinya harus benar-benar berdaulat, sejahtera dan mandiri tanpa ketergantungan melainkan kita yang menggantungkan hidup kepada mereka. Sejahterakanlah Petani untuk kesejahteraan bersama, hargai mereka sebagai balas jasa kita, keringat mereka adalah pahlawan bagi kita karena keberlangsungan hidup ini tergantung pada Petani, bukan yang lain.

Jika ini terwujud, insyaallah kita akan hidup sejahtera dalam keadilan dan adil dalam kesejahteraan. Amin dan partisipasi masyarakat saya pikir akan sangat mendorong dan mendukung gagasan ini dalam membangun Aceh yang makmur tanpa intimidasi apalagi konflik yang tak wajar terjadi  malah terjadi di Negeri yang subur ini. Kepada Penegak keadilan, mimpi anda hanya akan terwujud jika Petani sejahtera, ketimpangan yang selama ini terjadi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan peri keadilan.

Benih yang Kau Tabur, Kurang Pandai Kami Bersyukur
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 155)Semoga kita terjauh dari cobaan ini karena niat tulus mensejahterakan Petani. Amin.  Wassalam.

Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Fokus pada kajian Politik Islam
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.