Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

PENERUS ATAU PENGUBAH?


“Terus-terus”
“Lho, jalannya terputus,”
“Udah teruskan saja”
“Baiklah, akan ku teruskan.”
Burrrrrr, “Aku mati” sambil memberi tahu si Pemerintah.

Hal ini sering terjadi dalam kehidupan kita bukan? Generasi penerus dan penerus, itulah yang sering di dengung-dengungkan. Atau kisah diatas masih terlalu sulit dicerna? Baiklah, mari ikuti yang ini.

Al-Kisah
“Nak, kamu harus rajin belajar ya, kau adalah penerus bagi keluarga kita,” ucap seorang ayah kepada anaknya.

“Lho, ayah kan koruptor, terus sebentar lagi ayah dihukum mati, apa ayah mau kalau saya meneruskan perjuangan ayah lalu mati konyol seperti ayah?” jawab sang anak penuh rasa heran dengan keinginan ayahnya.

Mendengar jawaban anaknya, si ayah langsung mencaci dan mengutuk ucapan anaknya. Dan tak lama setelah itu, ayahnya pun mati ditiang gantungan karena korupsinya yang menjadi-jadi.

Teman, dalam keluarga, hal ini sering ditanamkan kepada kita. Tapi, al-hamdulillah ayah dan ibu saya tak pernah menginginkan saya menjadi generasi penerus mereka. Alasan yang tak terungkap oleh mereka terbaca oleh tersiratnya keinginan mereka, saya rincikan menjadi tiga dalil:

Pertama: Karena mereka ingin anaknya memiliki pendidikan yang jauh lebih tinggi, dan sekarang aku lebih tinggi ketimbang pendidikan ayah dan ibuku. 
Kedua: Mereka ingin aku lebih baik dari mereka, dan itu belum terwujud menurutku, karena mereka bagiku jauh lebih baik.
Dan ke-tiga: Mereka ingin aku menjadi diriku, bukan bayangan dari hasrat mereka. Dan itu terbukti dengan kewenangan yang mereka berikan dalam penentuan pilihan. Dan aku bahagia dengan pilihanku untuk tidak merokok, kuliah di jurusan hukum, tidak pacaran sebelum waktunya dsb.

Teman tahu kondisi Negara kita saat ini? Semua orang akan berkata Indonesia ini buruk, terpuruk dan cercaan lainnya. Mau tak mau kita memang harus mengaku. Indonesia memang Negara pencetak generasi penerus, wajar jika pembantaian korupsi merupakan pekerjaan yang sia-sia. Dulu saya juga pernah bercerita tentang boboroknya system di lembaga pemerintahan kampus. Itu karena korupsi, tipu menipu dsb diajarkan di dalamnya. Gak percaya? Buktiin aja sendiri. dan itulah yang diteruskan.

Saya justru kagum dengan Israel saat ini. Amerika saja tunduk terhadap mereka, konon lagi Negara-Negara kecil lainnya. Al-hamdulillah Iran merupakan salah satu Negara yang tidak memiliki rasa takut terhadap mereka. Kekaguman saya kepada Israel sama seperti kekaguman saya terhadap Iran. Walau Israel itu Negara yang sangat ku benci, tapi hal yang mampu ku pelajari dari mereka adalah “Perubahan”. Sehingga mereka tak akan mencetak generasi penerus melainkan mereka akan senantiasa melahirkan generasi “Pengubah”. Pertanyaannya, apa untungnya dari dua tipe generasi ini? Jelas berbeda, karena penerus akan meneruskan sementara pengubah akan merubah.

Kalau yang diteruskan adalah suatu kebaikan kita patut bersyukur, namun itu pun belum cukup, karena meneruskan belum tentu member kemajuan, dan akhirnya akan ketinggalan zaman. Lebih parahnya jika generasi ini tumbuh di Indonesia, maka akan ada sang penerus koruptor dan penerus kejahatan lainnya.

Teman, Iran dulu bukan Negara yang terpandang, apalagi Israel yang dulu justru tidak memiliki tempat di Dunia ini. Tapi dengan Generasi Pengubah mereka mengubah keadaan. Iran kini maju dibidang Nuklir, Israel juka tak kalah di bidang Industri dan Ekonomi. Dan kini, Cina megikuti jejak mereka, Cina juga merambah dan ingin menjajah pasar dengan produk-produknya. Lalu, apakah kita masih juga ingin menjadi penerus?

Sebagian orang akan mengatakan “Iya”, kolotnya lagi orang ini akan berkata “Kita ini adalah penerus perjuangan Nabi, Ulama dsb.” Saya berani katakan bahwa orang ini belum mengerti masalah. Bukankah kita dan khususnya Mahasiswa merupakan Agen of Change? Jika ia, mengapa harus meneruskan? Bukankah kita harus merubah? Dan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak siap akan perubahan, diam dalam kemalasan dan tradisi lama yang meninabobokkan.

Bicara konsep Islam, saya tidak ragu, namun saya meragukan orang-orang yang berdiri diatasnya. Karena teori sudah benar, namun bangunannya kok hancur-hancuran? Tidak salah jadi penerus, tapi teruskanlah sesuatu yang baik dan itu belum selesai. Namun jadilah generasi Pengubah dengan mengubah kemalasan kita ingin menjadi sukses, ketakutan ingin menjadi Ulama dan ketidak bertanggungjawabnya  kita terhadap sesuatu yang telah kita perbuat.

So, Penerus atau Pengubah?
Ubahlah Keburukan, Teruskanlah Kebaikan.

Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy

Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.