Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

TUHAN TAK PERNAH MARAH


Tragedy tragis 26 Desember 2004 lalu merupakan sebuah bahan renungan atas apa yang terjadi selama ini dalam kehidupan sehari-hari. Surutnya tsunami seharusnya memberi bekas mendalam tentang makna sebuah kehidupan dan ayat (tanda) kasih Tuhan. Betapa tidak, Tsunami kian memikat perhatian dunia untuk sebuah misi kepedulian sosial. Bahkan triliunan uang membanjiri kota yang penuh kenangan ini. Namun, apa hikmah dibalik musibah menjadi tanda tanya besar yang memunculkan kontraversi di kalangan umat dan para tokoh masyarakat.

Ada yang meyakini bahwa tsunami merupakan musibah bagi orang yang beriman, bala bagi mereka yang senang berma’shiat, hingga ada pula yang meyakini tsunami hanyalah sebuah bencana alam dan tak memiliki kaitan sama sekali dengan maksud Tuhan. Kali ini, penulis hanya sekedar memberi analisis tentang anggapan bahwa Tsunami sebagai wujud marahnya Tuhan kepada kita yang penulis yakini sedikit keliru.

Minimal ada tiga alasan untuk membantah perspektif tersebut. Arvan Pradiansyah dalam karangannya yang berjudul ‘You Are Not Alone’ menegaskan bahwa keyakinan dan anggapan bahwa Tuhan telah marah sangatlah tidak bertanggung jawab, karena tuduhan sinis dengan mengkambinghitamkan Tuhan sebagai biang keladi sebuah kejadian ini merupakan tindakan yang mengembalikan tanggung jawab kita sebagai khalifah kepada Allah yang telah memberi tanggung jawab itu.

Mengapa demikian? Ya memang begitulah faktanya. Sesuai janji awal di atas, maka alasan pertama yang penulis maksud adalah Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan demikian batallah anggapan ‘Tuhan telah marah’ dengan sendirinya, karena hal ini sangat bertentangan dengan sifat Tuhan sendiri. Ke-dua, jika pun Allah memang marah, kemarahan yang tepat mestilah dijatuhkan bagi para perusak ulung, seperti koruptor, penzina dan sebagainya. Realitanya adalah mereka justru tipe manusia yang banyak diselamatkan oleh Allah. Justru mereka yang benar-benar disayangi oleh Allah dicabut nyawanya dalam pertempuran menyelamatkan diri dari cengkraman Tsunami.

Ke-tiga, Allah tak pernah sama sekali menympan rasa dendam, apalagi mendhzalimi hamba-Nya. Kasih dan Sayang Allah itu tak membutuhkan balasan dari makhluk-Nya, karena Allah Penyayang dengan sendiri-Nya, Besar dengan sendiri-Nya dan seterusnya. Jadi, apapun yang kita tuduhkan kepada Allah hanya merupakan kepicikan pikiran kita yang tak ingin mengakui dosa dan kesalahan kita. Lalu apakah makna sesungguhnya dari bencana Tsunami? Pertanyaan inilah yang muncul kemudian karena makna keliru dari musibah ini telah terbantah dengan sendirinya. Baiklah, penulis mencoba mendeskripsikannya kepada pembaca sekalian:

Tsunami merupakan salah satu cara Allah ingin dikenali, agar kita mau berkomunikasi setelah sekian lama kita membangun tirai yang tinggi untuk membatasi antara kedekatan kita dengan Allah. Seberapa bencinya pun kita karena kehilangan sanak keluarga bahkan semua orang yang tercinta, Tsunami tetap saja menjadi bukti bahwa Allah itu sangat mencintai hamba-Nya, Allah tak pernah marah kepada kita.

Analogi sederhananya adalah, lobang galian yang sudah diberi tanda larangan atau berhati-hati agar pelintas jalan tidak masuk kedalmnya. Bagi mereka yang tak peduli dengan tanda ini akan masuk ke lobang galian tersebut. Pertanyaannya pantaskah kita menyalahi lobang atau bahkan menyalahi pembuat lobang tersebut? Tentu tidak, karena tanda-tanda telah diberikan, kitalah yang kurang peka terhadapnya. Begitupun Tsunami lalu, jika kita tak mampu membaca tanda yang terlalu halus, mengapa tanda yang begitu nyata yaitu surutnya air laut malah membuat kita sibuk dengan memilih ikan yang berserakan? Marahkan Allah pada kita ketika itu? Renungkanlah kembali jika kita masih memiliki keyakinan seperti itu.

Dalam tulisan ini jelaslah bahwa Allah bukanlah sosok pemarah yang pernah tergambarkan oleh pikiran kita. Justru sebaliknya, Allah adalah Tuhan seru sekalian alam yang memiliki sifat Rahman dan Rahim yang tiada tara. Tsunami sebagai bukti stateman ini, bukan bahan untuk mencaci dengan berbagai prasanka buruk terhadap Ilahi Rabbi. 

Selanjutnya, bagi kita yang pernah terbuai dan ikut serta dalam menyanyikan lagu artis papan atas Sherina yang berjudul ‘Tuhan marahkah Kau pada ku’ selayaknya berhenti untuk terus berprasanka buruk terhadap Allah. Karena kita tidak memiliki alasan sama sekali untuk hal itu, dank arena Allah memang tak pernah marah kepada kita.

Marilah kita kembali membenahi diri untuk menjadi manusia yang siap dan sigap dengan segala apa saja yang diberi tanpa harus menghindari tanggung jawab ini dan melimpahkannya kembali kepa Allah. Kekhalifahan yang telah diberi untuk kita jalani dan kita rawat sebaik-baiknya dalam lingkup syari’at. Dengan demikian, kita akan menjadi manusia yang benar-benar memiliki tingjatan spiritualitas yang tinggi dan rasa cinta yang tiada tara baik kepada Allah maupun sesame. 

Penulis adalah Jurnalis Gema Baiturrahman, Mahasiswa Jurusan Syari’ah Jinayah wa Siyasah IAIn ar-Raniry.
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.