Langsung ke konten utama

MEMBUMIKAN TAFSIR HIJRIYAH



Oleh|Khairil Akbar

Penanggalan hijriyah merupakan sistem kalender Islam yang menjadikan peredaran bulan sebegai acuannya. Dikatakan hijriyah karena di dalamnya terdapat peristiwa penting yang sangat erat kaitannya dengan peradaban umat Islam. Pada peristiwa inilah Nabi memulai dakwahnya di Madinah dengan hasil terbentuknya masyarakat madani yang sejahtera, damai dan aman. Perintah hijrah itu sendiri merupakan bagian dari strategi dakwah dan bukan merupakan keinginan semata dari Nabi Muhammad Saw. 

Namun ada sedikit kejanggalan dalam masyarakat modern dalam memaknai tahun baru hijriyah. Hal ini terlihat dari model dan bentuk perayaan hingga pada apatisme masyarakat yang cenderung tidak tahu kapan tahun baru hijriyah itu datang. Mereka yang keliru dalam memperingati hari besar ini ditandai dengan hal-hal berlebihan yang mereka anggap biasa, sementara para apatis malah berdiam tanpa tahu sama sekali tentang hijriyah. Menurut penulis hal ini terjadi karena Indonesia dan Aceh khususnya masih mengesampingkan pemakaian kalender hijriyah dengan menjadikannya sebagai waktu pengingat momen-momen ibadah belaka, bukan bagian dari sebuah sistem penanggalan yang digunakan sehari-hari. Bilapun ada yang tahu tentang hiriyah tapi kebanyakan dari mereka tahu karena menghapal nama bulan-bulannya saja, sementara kapan 1 Muharaam itu tiba mereka sama sekali awam tentangnya. 



Di sinilah letak urgensitas dari penanaman makna sebenarnya dari hiriyah itu sendiri. Dalam haditsnya Nabi Saw bersabda “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.” Hadits ini memberi penjelasan kepada kita agar pada setiap pergantian waktu mestilah kita meningkatkan kebaikan-kebaikan demi terwujudnya iman dan taqwa dalam jiwa setiap kita. 



Hal yang senada juga telah terlukis indah di dalam al-Qur’an yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjuang di jalan Allah, merekalah (orang-orang yang) mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al Baqarah : 218). Makna perpindahan dalam kedua nash di atas tidak sebatas pada perpindahan tempat saja, tetapi penekanannya lebih tertuju pada perpindahan manusia dari keburukan menjadi baik, dari yang bathil menuju yang haq dan inilah yang disebut dengan hijrah sesungguhnya. Adapun pada masa Nabi kedua makna hijrah ini terangkum sekaligus karena secara fisik Nabi dan Sahabat memang berpindah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah sekarang) dan secara nonfisik nilai-nilai keislaman semakin kuat dan ajaran Islam kian berkembang dibanding ketika mereka berdiam di Mekkah. 


Dan sudah sewajarnya bila Aceh mengurangi penggunaan kelender Masehi dalam kehidupan sehari-hari sehingga masyarakat lebih peka terhadap sistem penanggalan Islam tanpa harus menghilangkan Masehi yang menjadi kiblat waktu di belahan dunia pada umumnya. Tafsir hijriyah ini selayaknya dipahami oleh masyarakat umum dan tidak semata pada penyambutannya saja, tetapi mestilah selalu mengaplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita seolah selalu termotivasi untuk selalu berbuat baik dan meningkatkan kebaikan itu secara continu. Dan penanaman makna ini berlaku bagi semua golongan masyarakat, baik itu para elit yang sedang bertikai untuk lebih mengedepankan persatuan ketimbang perpecahan, para bisnisman yang idealnya lebih mengutamakan konsumen ketimbang produsen, dan seterusnya. 

Bila pemahaman ini kian mengakar dalam jiwa kita, penulis berasumsi bahwa kita akan senantiasa berada dalam leingkran yang bebas; bebas dari provokasi nafsu, bebas dari ancaman-ancaman luar, dan terutama yaitu bebas dari dosa. 


Penulis adalah Mahasiswa Syari’ah Jurusan Jinayah wa Siyasah (Pidana dan Politik) di IAIN ar-Raniry.

Komentar