Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

PEMIRA


PEMIRA
(Pentas Memanipulasi Rakyat)

Oleh|Khairil Akbar

Lho, singkatannya kok diubah? Pertanyaan ini tentu menjadi pertanyaan pertama ketika kita melihat judul dari tulisan ini. Tenang, untuk hal ini saya sudah menyiapkan segudang alasan dengan barang bukti berupa fakta dan realita. Ya, karena hanya itulah yang saya punya. Jangan salah, fakta dan relaita itu saya jamin akan mendapat pembenaran dari mahasiswa yang terbuka matanya melihat fenomena kampus kita sekarang ini.

Emang ada apa sih dengan syari’ah? Belum sadar juga ya! Ok lah, saya mencoba menjelaskannya. Begini lho, teman pernah dengar janji-janji kandidat yang ketika itu ia sampaikan bak puisi demi memikat hati? Terus, apakah aplikasi dari janji itu ada saat ini? Maaf, dengan sangat kecewa saya harus mengatakan janji itu diingkari teman. Jangankan berharap bukti sebagai implementasi dari janji-janji, visi dan misi yang terpajang  pun tak akan kita dapatkan sekarang ini. Kok bisa? Ya memang bisa, karena Pemira bukanlah Pemilihan Raya. Karena esensi dari pemilihan raya adalah memilih generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Tapi kali ini esensi itu dibalik. Nggak percaya? Coba lihat syarat calon Gubernur Syari’ah. Dalam syarat itu tercantum minimal semester Tujuh dan maksimal semester Sembilan.

Sepintas syarat ini memang bagus, dengan alasan pemimpin yang lebih pengalaman akan menjadikan pemerintahan syari’ah jauh lebih bagus, ya karena pengalaman. Saya bukan menafikan pengalaman sebagai salah satu factor pendorong dari sebuah integritas kepemimpinan, tapi kita harus cerdas dalam menanggapi permasalahan ini. Syarat ini secara jelas melarang orang pintar dengan segudang prestasi menjadi Gubernur Syari’ah. Hal ini karena mereka yang pintar akan lancar baik secara nilai Indeks Prestasi maupun secara administrasi perkuliahan. Orang-orang ini biasanya akan selesai 4 tahun atau 8 semester. Nah karena masa jabatan Gubernur di fakultas Syari’ah adalah setahun, secara otomatis bilapun gubernur ini cerdas dia hanya akan bisa selesai pada semester Sembilan. Bila tidak selesai? Wah bisa lebih parah lagi dunk karena Syari’ah dipimpin oleh orang-orang─yang ibarat kata bila dalam sekolah dasar─yang tinggal kelas. Bukankah ini sebuah pembodohan?

Kita benar-benar ditipu, penipuan ini kasat mata memang tidak nampak, tapi bila anda teliti dan lebih kritis maka jelaslah bahwa Pemira merupakan pentas memanipulasi rakyat. Dalam pentas ini semua kebaikan akan dibicarakan, semua rencana akan diatur, semua janji akan diumbar, tapi semua itu untuk dilanggar. Kebaikan untuk dijadikan sebuah pembobrokan, rencana dijadikan ajang penghabis uang semenatra janji hanya akan menjadi puisi basi yang akan kita muntahkan sendiri.

Inilah Pemira, saran saya lebih baik diganti nama saja, sayang lho bila event tahunan ini hanya untuk ajang membodohi dan memanipulasi. Mending dijadikan pesta demokrasi, semua bisa bicara, semua bisa naik calon, semua bisa mendapatkan apa maunya tanpa ada istilah “Hak Kami diPolitisasi”. Selain itu, coba lihat, pemira kali ini sesuai jadwal atau tidak sih? Kalau saya sih merasa pemira ini adalah nasi basi yang sedang diperebutkan. Selain waktunya yang  molor lagi-lagi pemira kali ini sama sekali tidak bijak. Wajarlah bila calon politisi akan siap mengeluarkan money, duduk di warung kopi yang katanya demi suksesi. Padahal ini merupakan bentuk sogokan secara tidak langsung. Nggak percaya? Coba keluarin duit anda setelah minum maka dengan segera calon yang ingin anda memilihnya menahan tangan anda lalu berkata, “Nggak apa, biar saya saja.” Ha ha ha, padahal kalau hari biasa anda akan sama-sama mengeluarkan uang dengan jumlah yang sama sesuai dengan pesanan anda.

Nama komisinya saja sudah diubah, yang dulunya Komisi Independen Pemilihan Raya kini independen itu dihapus, terlepas dari sebuuah kepentingan, yang jelas hal ini perlu dipertanyakan. Inilah pemira, pemilihan raya sebenarnya hanya kedok belaka, demokrasi hanya momokan sebenarnya, karena yang bukan merupakan teman/komplotan/komunitas dan seterusnya tidak akan bisa mendapatkan kursi no. 1 di kampus ini. Ini fakta lho teman! Lihat saja buktinya. Atau mungkin anda ingin buktikan, boleh, silahkan bila anda tak mau belajar dari sejarah, maka saya menyuruh anda belajar dari masa depan. Saya jamin, gubernur kedepan adalah orang yang dulunya sekwan, sepermainan atau merupakan satu komunitas tertentu dengan gubernur sebelumnya. Terkecuali anda melakukan revolusi, layaknya seperti ketika dulu para mahasiswa menjatuhkan Soeharto.

Maaf bila menyinggung karena tiada maksud untuk itu. Ini hanya celoteh saya saja, tapi perlu juga lho untuk dibaca. Selamat beraktifitas kembali dan teruslah tersenyum karena senyuman adalah air pemadam api kemarahan. Kepada seluruh pembaca saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

 Wassalam…….

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Jinayah wa Siyasah, juga merupakan mantan Sekum HMJ SJS. Pernah aktif di organisasi intra dan ekstra kampus.
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.