Langsung ke konten utama

Haji dan Rasa Peduli


Oleh|Khairil Akbar
Edisi Jum'at 21 Oktober 2011, Gema Baiturrahman

Haji merupakan ibadah suci yang juga merupakan pondasi ke-lima dalam Islam. Karena posisinya yang terakhir bukan berarti haji tidak penting. Justru sebaliknya, haji sangatlah istimewa, sehingga mereka yang melakukan haji mestilah man istatha’a ilaihi sabila (orang-orang yang mampu). Ada pun mampu yang dimaksud meliputi segala sendi kehidupan seperti kesehatan (jasmani dan rohani), ekonomi dan keamanan. Karena syarat yang sangat berat ini maka penempatan haji di urutan terakhir dalam rukun Islam sangatlah tepat. Untuk mencapainya terlebih dahulu ummat Islam harus melewati beberapa rukun sebelumnya.

Namun, ada suatu fenomena yang sering terlupa oleh kita, yaitu terkait esensi ibadah haji yang harus benar-benar kita perhatikan. Terutama yang berhubungan dengan dimensi sosial haji. Realilta berhaji sekarang hanyalah untuk sebuah ajang wisata tour ke Mekkah, sebuah gelar dengan titel Haji di depan namanya, hingga sebuah ajang gengsi-gengsian. Dengan demikian tidak heran bila mereka sering menggunakan alasan “karena merasa terpanggil, rindu dsb” hanya untuk pergi haji berkali-kali. Sementara dia tidak begitu peka terhdap kondisi sekitar, seperti tetangga yang lapar hingga memperpanjang antrian bagi calon jama’ah haji lainnya.

Bila merujuk pada sirah perjalan haji nabi, maka kita hanya medapatkan bahwa nabi berhaji sekali saja. Menurut KH Imam Ghazali Said MA dalam disertasi bertajuk Manasik Haji Rasulullah SAW, sirah nabawiyah hendaknya dijadikan landasan hukum. Beliau menyarakan kepada kita untuk tidak langsung menggunakan metode fiqh karena akan banyak timbul perbedaan nantinya. “Dalam masalah haji sebenarnya sangat mudah, karena nabi hanya berhaji sekali saja.” (Republika: Jumat, 07 Oktober 2011). Malah akan menjadi aneh bila kita seolah ingin melebihi nabi, berhaji berkali-kali padahal kepentingan umum mestilah diutamakan ketimbang masalah privasi diri.

Kepedulian sosial ini juga selayaknya dijadikan tolak ukur bagi pemerintah untuk mengambil sikap bagi mereka yang berhaji berkali-kali. Bayangkan saja bila setiap kabupaten ada 3 orang saja yang hajinya mencapai dua kali, maka dalam 1 provinsi yang memiliki 23 kabupaten ini ada 69 orang, maka dalam setahun akan terkumpul dana berkisar USD 226.665 atau Rp 1.971.985.500. Dengan jumlah sebesar ini berapa faqir yang tertolong? Berapa miskin yang terselamati? Berapa yatim yang kembali bersekolah?

Kesimpulannya, bila disuruh pilih antara dermawan dan haji tentulah dermawan jauh lebih berarti. Karena kualitas haji itu sendiri sangat tergantung pada amalan-amalan sebelumnya. Dengan demikian orang yang berhaji sementara zakatnya?karena berkaitan langsung dengan kepedulian sosial?masih sebatas kewajiban, tentulah hajinya tidak maksimal walaupun dilakukan berulang kali. Dan Allah sangat memperhatikan kualitas amalan kita dan bukan kuantitas amalan kita.

Inilah pesan terpenting dari haji, sehingga dalam hari haji kita mengenal dengan istilah adanya qurban sebagai bentuk pendekatan diri kepada sang Qarib (yang maha Dekat). Kepedulian sosial, menurut penulis, harus lebih dikedepankan dari pada haji karena esensi dari haji itu sendiri seolah menyuruh kepada kita untuk meninggikan kualitas amalan-amalan lain terlebih dahulu baru melaksanakan haji. Untuk apa haji berkali-kali kalau hanya sekedar gengsi? Untuk apa berhaji sementara tetangga lapar kita tak peduli? Setidaknya tulisan ini berpesan kepada kita untuk mempertimbangkan kembali haji kita terutama yang ingin berangkat dua bahkan tiga kali.

Komentar

  1. betul juga, suka heran saat ada yg pergi haji untuk kesekian kali. tapi jika mengingat2 kembali itu terserah pada niat beliau-beliau.. alangkah baiknya menyisihkan rezeki untuk yg kurang mampu. semoga kita benar2 niat karena Allah untuk beribadah haji :)

    BalasHapus
  2. Thank's dah mau mampir.
    Iya, itu mah tergantung niat, tapi kebijakan mesti diambil oleh pemerintah untuk menangkal terjadi a hal-hal semacam ini. Dan satu lagi yang tidak ane setuju yaitu adanya jatah bagi pemerintah untuk berj=haji tanpa harus mengantri, padahal Allah tak melihat jabatnnya apa, siapa dia, anak siapa dsb. Benar ngggak?

    BalasHapus
  3. Setuju dg Khairil apalagi di Aceh ya antriannya sampai lima tahun lebih...ck..ck... tapi ingin jg suatu saat menunaikan ibadah haji. Salam kenal. Nice Blog...

    BalasHapus
  4. Wa'alaikissalamah . . . . .
    Tinggal di Aceh juga? DI mananya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Kalau sudah baca, mohon dikomentari ya. Terima kasih.