Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Qishash


TAFSIR AHKAM JINAYAH TENTANG QISHAS 

TERJEMAH DALIL
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih (178). Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa (179). 
B. ARTI PERKATA
Kutiba artinya wajib atau mesti dilakukan.
Al-qishash seumpama atau mengikuti dari apa yang telah diperbuat.
Al-hurru berarti budak.
‘Ufiya berasal dari kata ‘ậfa maksudnya adalah memaafkan dalam bentuk majhul berarti dimaafkan.
Uli al-bậb yaitu orang-orang yang berfikir.
‘Itada berpaling atau mengingkari hukum.
Takhfif maknanya adalah  keringanan.


D.    ASBAB AN-NUZUL
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id ibnuz-Zubair, dia berkata, “Pada masa jahiliyyah, penduduk dua perkampungan Arab pernah berperang karena sesuatu yang sepele. Dan diantara mereka banyak yang mati terluka. Namun ketika mereka membunuh budak-budak dan para wanita, mereka tidak mempermasalahkannya hingga mereka masuk Islam. Ketika itu salah satu perkampungan mempunyai persenjataan dan harta yang lebih banyak dibanding dengan kapung lain. Mereka bersumpah bahwa apabila budak mereka terbunuh, mereka akan menganggap impas jika mereka telah membunuh orang merdeka dari pihak pembunuh. Maka turunlah firman Allah pada mereka yang menyatakan bahwa orang merdeka dihukum dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita.”[1].

E.     HUKUM YANG TERKANDUNG
Kandungan hukum ayat yang berbicara tentang qishash ini dapat kita rincikan dalam poin beikut:
·         Diwajibkan qishash dalam perkara pembunuhan bukan pada masalah lain
·         Adanya kesetaraan dalam pemberlakuan qishash
·         Qishash bisa tidak dilaksanakan bila pembunuh mendapat pemaafan dari ahli/wali yang terbunuh
·         Wajib mengikuti proses secara baik
·         Azab Allah akan dikenakan bila adanya pengingkaran dari pembunuh setelah dimaafkan
·         Adanya jaminan keniscayaan keberlangsungan  hidup dalam pemberlakuan qishash.
F.     PENJELASAN
KETENTUAN HUKUM
Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.
Dalam hadits kata qishash kadang-kadang disebut dengan kata qawad yang maksudnya adlaah semisal. Abdul Qadir Audah memberi defenisi bahwa “Qishash adalah keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya”[2]. Defenisi inilah yang kiranya dimaksudkan syara’ sebagai hukum yang terbaik karena mencerminkan keadilan. Dengan demikian pelaku akan mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatan yang telah dilakukannya kepada orang lain.
Qishash merupakan hukuman pokok bagi perbuatan pidana dengan objek (sasaran) jiwa atau anggota badan yang dilakukan dengan sengaja, seperti membunuh, melukai, menghilangkan anggota badan dengan sengaja[3]. Tetapi kalau keluarga teraniaya ingin memaafkan dengan menggugurkan sanksi itu, dan menggantinya dengan tebusan, maka itu dapat dibenarkan[4]. Di sini terlihat bahwa agama tidak memaksakan pemaafan, hal ini karena sifat pemaksaan sebenarnya akan menimbulkan dampak buruk. Sementara pemaafan itu sendiri bisa dibenarkan bahkan terpuji.
Pemberlakuan qishash antara lain adalah bertujuan untuk memelihara jiwa dan ini merupakan tujuan yang sinkron atau memiliki munasabah yang erat kaitannya dengan HAM. Dengan demikian sebagai hukum yang baik hukum Islam sudah terlebih dahulu melakukan tindakan prefentif atau antisipasi dengan berlakunya larangan pembunuhan (QS. 17: 33) agar manusia dapat mempertahankan kemaslahatan hidupnya. Hal ini terlihat dari uangkapan M. Daud Ali “Pemeliharaan jiwa merupakan tujuan kedua ─setelah agama─ hukum Islam”[5].
Kemudian, setelah perintah qishash diperintahkan sebagai upayapemeliharaan jiwa lanjutan ayat ini membawa kita kepada pemahaman bahwa semua semua manusia itu sama dimata hukum. Dan bila kita kembali pada defenisi qishash maka kita akan menemukan makna qishash  antara lain adalah persamaan. Namun bukan berarti pernyataan ini didukung oleh semua kalangan ulama. Dalam hal ini minimal para ulama terpecah dalam dua kelompok. Kelompok itu terlihat jelas dalam tulisan Jabbar Sabil dkk  berikut “Secara umum, kelompok pertama terdiri dari kebanyakan ulama kalangan Mậlikiyyah, Syậfi’iyyah dan Hanbaliyyah yang mensyaratkan adanya kesetaraan dalam keberlakuan qishash. Kelompok kedua adalah ulama kalangan Hadafiyyah yang melihatt kesetaraan dalam konteks kemanusiaan sehingga tidak mensyaratkan kesetaraan dalam hal agama dan kemerdekaan”[6].
Adapun mengenai kesetaraan yang dimaksud dapat dirincikan menjadi empat pengelompokan, yaitu:
1.      Kesetaraan antara muslim dan nonmuslim
Hal ini dapat dijumpai pada HR. Bukhari yang menjelaskan bahwa tidak adanya ketentuan dalam al-Qur’an tentang “tidak diqishashnya seorang muslim karena membunuh seorang kafir”[7]. Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa adanya kesetaraan yang mengharuskan qishash juga diberlakukan kepada muslim yang membunuh kafir.
2.      Kesetaraan orang merdeka dengan budak
Kalangan Syậfi’iyyah memandang kesetaraan ini berbeda dan kurang tepat karena kesetaraan itu justru membedakan antara seorang merdeka dengan budak. Al-hurruu bi al-hurri yang mereka syaratkan sebagai kesetaraan dalam pemberlakuan qishash  membawa pengertian bahwa seorang merdeka tidak diqishash karena membunuh budak. Ketidakadilan ini ditentang oleh Hanafiyyah dan kini menjadi patokan ulama modern seperti  ‘Ali al-Shậbuni yang memberi dukungannya dengan pernyataan bahwa pendapat hanafiyyah dapat diterima dan sesuai dengan hadits nabi Saw. “Man qatala ‘abdah, qatalnậ.” Bila pemahaman kita terfokus pada pertentangan ini, maka pendapat Hanafiyah akan terkalahkan karena Qur’an merupakan supremasi hukum tertinggi. Di sinilah salah satu letak urgensitas ‘ilmu munasab fi ‘ulum al-Qur’an wa al-Hadits yang akan memberi solusi dan titik terang bahwa Qur’an dan Sunnah itu sejalan dan tidak bertentangan.
3.      Kesetaraan antara laki-laki dengan wanita
Anehnya, bila pada masalah antara budak dengan orang yang merdeka kalangan Syafi’iyyah memegang ayat diatas, mengapa pada kasus kali ini mesti sepaham dengan ulama dari kalangan Hanafiyyah? Tidak hanya antara dua ulama kharismatik ini, kiranya semua ulama sependapat pada kesetaraan antara laki-laki dengan wanita namun mereka akan berbeda pada masalah diyật. Al-Jassas berpendapat bahwa qishash adalah  ketetapan Allah yang tidak boleh ditambah  secara bersamaan dengan diyật sementara yang lain dari kalangan yang berbeda lebih cendrung memberlakukan diyật dalam kasus ini dan diyật perempuan adalah setengah  dari diyật laki-laki.
4.      Kesetaraan antara dari segi jumlah
Al-Qudậmah berpendapat bahwa sekelompok orang yang membunuh satu orang dikenakan qishash. Kecuali yang berbeda sikap dalam hal ini adalah Dawq dan pengikut Zậhiri. Ada pula pendapat yang meriwayatkan bahwa pendapat yang sama jugga dipegang oleh Jậbir[8].
Selalnjutnya, pengingkaran terhadap ketentuan ini akan mendapat azab yang pedih dari Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa yang mengingkari setelah itu ─setelah proses diqishash atau tidak, atau proses diyật bila dimaafkan yang mengharuskan kita untuk mengikutinya dengan cara yang baik─ maka bagi ─si pengingkar─ azab yang pedih. Namun proses hukum dunia tetap diupayakan semaksimal mungkin tanpa menyerahkan bulat-bulat urusan ini pada pengadilan akhirat.
HIKMAH PEMBERLAKUAN QISHASH
Memang pada penjelesan sebelumnya sudah  disinggung sedikit banyaknya tentang hikmah qishash ditegakkan. Pada diskursus ini penulis hanya ingin memperjelas dari kemujmalan penjelasan diatas terhadap hikmah pemberlakuan qishash ini. Banyak yang  berbicara tentang ini. Alangkah baiknya bila banyaknya pendapat itu penulis satukan dalam poin ini sebagai walau kurang memadai untuk dijadikan bahan untuk memperluas wawasan, namun mungkin akan memberi kepada kita sedikit pemahaman tentang hikmah dari hukuman qishash.
Adapun hikmah di balik pemberlakuan qishash yang berupa hukuman mati adalah untuk menegakkan keadilan diantara manusia. Supaya suatu pembalasan sesuai dengan amal perbuatan. Apabila seorang pembunuh tidak dibunuh, maka akan menyulut api kedengkian dalam diri keluarga orang yang terbunuh atau waali terbunuh. Sebab darah orang yang dibunuh adalah hak dari keluarganya atau walinya[9]. Jenis hukuman ini juga merupakan solusi yang didalamnya ─qishash─ terdapat upaya untuk menengahi masalah.
Syari’at qishash merupakan tindakan antisipasi dalam menghindari tindak pidana pembunuhan sebab orang akan berfikir dua kali untuk melakukan pembunuhan apabila dia ingat konsekuensi yang akan dideritanya[10]. Dengan demikian terjagalah jiwa/nyawa seseorang dari ancaman yang menghilangkan salah satu dari hak-hak dasar (HAM) sebagaimana firman Allah:
öNä3s9ur Îû ÄÉ$|ÁÉ)ø9$# ×o4quŠym Í<'ré'¯»tƒ É=»t6ø9F{$# öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÐÒÈ
Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa (QS. 1: 179).
Ayat ini memberi jawaban kongkrit dan logis. Menurut penulis sangat memenuhi syarat ilmiah yang pembuktian bisa dipastikan tidak akan melenceng dari teori sebab akibat. Pemberlakuan qishash memang bukan jalan satu-satunya hukum dalam perkara pembunuhan. Bahkan disebutkan bahwa pemaafan itu jauh lebih mulia seperti yang diisyaratkan Quraish Shihab yang  memuji perbuatan ini pada kitab tafsir karangannya. Memang benar, tetapi penulis cendrung bila hukuman qishash tidak ditegakkan maka keniscayaan adanya jaminan kelangsungan hidup menjadi harapan dan hukum Islam jauh dari sifat pengharapan.
Quraish Shihab mengatakan “Bisa jadi hikmah tidak dipahami oleh  semua orang tetapi mereka yang memiliki akal yang jernih dan menggunakannya, pasti akan tahu”[11]. Pernyataan ini seiring dengan seruan Allah pada ujung ayat ini. Dari panjang lebar penjelasan ini, dapat kita pahami bahwa qishash bukan sekedar aturan, tetapi qishash memberi seseorang bahkan semua manusia akan haknya untuk kelayakan hidup di bumi Allah Swt. Semoga kita berfikir.
  1. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa qishash dari segi bahasa adalah semisal/serupa. Adapun menurut syara’ qishash adalah keseimbangan atau pembalasan terhadap si pelaku tindak pidana dengan sesuatu yang seimbang dari apa yang telah diperbuatnya. Hukuman qishash  ini wajib hukumnya terkecuali si pembunuh mendapat pemaafan dari ahli/wali siterbunuh dan pembbunuh wajib mengikutinya dengan baik tanpa adanya pembangkangan atau sikap tidak mengindahkan ketentuan/hukum.
Qishash harus mengandung empat unsur berikut:
1.      Kesetaraan antara muslim dan nonmuslim
2.      Kesetaraan orang merdeka dengan budak
3.      Kesetaraan antara laki-laki dengan wanita
4.      Kesetaraan antara dari segi jumlah
Demikianlah dari pemakalah, lebih dan kurang kami mohon diperbanyak maaf. Dan kami sangat mengaharapkan adanya masukan dari semuanya untuk kesempurnaan pemahaman dan penulisan makalah dikemudian. Wassalam.

END NOTES/CATATAN AKHIR


[1] Jalaluddin as-Suyuthi, Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an, (terj), Tim Abdul Hayyie, dari judul asli, Lubaabun Nuquul Fii Asbaabin Nuzul, (Jakarta: Gema Insasni, 2008), hlm.67
[2] Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm.125
[3] Ibid
[4] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera hati, 2007), vol 1, hlm.393
[5] M. Daud Ali, Hukum Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm.63
[6] Jabbar Sabil, Syari’at Islam di Aceh, (Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam, 2009), hlm.14
[7] Ibid, hlm.15
[8] Ibid, hlm.21-22
[9] Syeikh Ali Ahmad al-Jarjawi, Indahnya Syari’at Islam, (terj.) Faisal Saleh, dkk, dari judul asli, Hikmah  at-Tasyri’ wa Falsafatuh, (Jakarta: Gema Insan, 2006), cet. 1.hlm.621
[10] Taufiq Rahman, Hadis-Hadis Hukum, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), hlm.149
[11] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera hati, 2007), vol 1, hlm.394
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.