Langsung ke konten utama

TUHAN ITU DEKAT, SANGAT DEKAT


Ada sebuah pernyataan Arvan Pradiansyah yang menarik untuk diuji. Dalam bukunya “You are not a lone” beliau berkata bahwa banyak yang meyakini adanya Tuhan, tapi yang mereka yakini adalah Tuhan yang jauh. Benarkah demikian? Mari kita simak cerita yang juga saya ambil dari buku beliau tapi dengan bahasa saya sendiri.

Suatu hari, seorang pelacur yang dalam karirnya selalu berhasil menaklukkan pria mana saja yang dijumpainya mendapat tawaran yang sangat tinggi. Bila ia berhasil menaklukkan seorang pria yang dimaksud oleh  pembayar maka bayarannya pun akan dinaikkan sampai tiga kali lipat. Dengan rasa percaya diri si pelacur yang elok rupawan pergi menghampiri si pria yang dimaksud.

Sang pria adalah pemuda tampan yang alim lagi bijaksana. Di dalam rumahnya sang pemuda terkejut melihat penampilan yang kurang mengenakkan berada di depan pintu kamarnya. Tanpa basa basi, hampir saja si wanita itu memeluk sang pria. Namun usahanya gagal, lalu pria itu berkata:

“Datanglah esok hari, aku akan melayanimu,” ujar pemuda dengan  sopan.

“Baiklah, aku akan datang,” jawab wanita singkat.

Hari yang dinanti pun tiba. Pria yang gagah dan tampan sudah siap dengan  penampilannya, tapi bagi pelacur yang sedari tadi menunggu terasa ada kejanggalan. Spontan si wanita bertanya:

“Kemana kita akan pergi?”

“Ke tempat yang indah, dank au akan tahu,”

Tak lama dalam perjalanan mereka sampai di rumah Allah, di ka’bah yang mulia. Keheranan semakin menghantui wanita pelacur tersebut.

“Bukalah pakaianmu,” perintah si pemuda.

“Gila, apa kau tidak  malu di lihat banyak orang?”

“Bukankah ditempat sepi Allah juga melihat kita?” timmpal si pemuda. Dengan rasa bersalah dan malu, wanita itu sadar dan tak disangka air mata penyesalan pun membasahi tubuhnya.

Apa yang dapat kita ambil ibrahnya dari cerita ini? Bukankah hal demikian sering kali terjadi pada kita? Saat pejabat kita korupsi, bukankah dia yakin bahwa Tuhan itu ada? Tapi sayangnya yang diyakininya adalah Tuhan yang jauh, Tuhan yang tidak akan melihat tingkah lakunya. Hal serupa juga pernah terjadi di masa Umar. Ketika itu Umar ingin membeli domba si pengembala yang jumlahnya tidak mungkin diketahui oleh tuan atau pemilik domba itu sendiri. tawar menawarpun dimulai.

“Aku akan membayarmu berapapun, lagian tuanmu tidak akan tahu kalau satu dombanya ku beli dan uangnya kau ambil,” tawar Umar.

“Maaf tuan, pemilik domba ini memang tidak tahu, tapi pemilik Alam ini maha  tahu, dan Dia selalu  terjaga menyaksikan hambaNya.”

Mendengar jawaban itu Umar dengan segera memerdekakan si pengembala yang ketika itu adalah seorang hamba sahaya dari pemilik domba tersebut.

Sobat, Allah itu dekat, sangat dekat, lebih dekat dari urat nadi. Lalu bila demikian, mengapa kita masih berani bertingkah amoral di hadapanNya? Sobat, tidakkah kau renungkan syair Hamzah Fansuri dalam memahami kedekatan Tuhan? Yuk simak potongan bait puisi beliau:

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah,
mencari Tuhan di Bait Al-Ka’bah,
Dari Barus ke Qudus terlalu payah,
akhirnya dijumpa di dalam Rumah.

Bukan mengaku sebagai Tuhan, tapi jauh dari prasanka kita sebenarnya beliau sangat mengenali Tuhannya. Beliau menemukan Tuhan di dalam rumah maksudnya adalah beliau menemukan Tuhan di dalam diri sendiri. Nabi juga berkata “Kenali dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu.” Teman, aneh rasanya bila kita sendiri malah menjauh dari fithrah kita dalam mencari kebahagiaan dan kebenaran. Kesadaranlah yang perlu kita  bangun menurut penulis. Untuk itu nasihat dalam bait sya’ir ini sangat cocok untuk di renungkan:

Hapuskan akal dan rasamu,
lenyapkan badan dan nyawamu.
Pejamkan hendak kedua matamu,
di sana kaulihat permai rupamu

Mengutip kata-kata Ahmad Yulden Erwin, menurut penulis beliau sangat tepat dalam menjelaskan inti penjelasan dari potongna sya’ir ini. Yuk kita simak:

“Syeikh Hamzah Fansuri dengan sangat jelas menyatakan bahwa setiap tafakur atau metode latihan sufi apa pun harus dimulai dengan “hapuskan akal dan rasamu”, yang berarti suatu cara untuk menuju kepada kondisi “No-Mind”, kondisi berada dalam Kesadaran Murni atau Kesadaran Ilahi. Untuk mencapai kondisi “No-Mind” tersebut, maka seorang sufi harus “lenyapkan badan dan nyawamu”, yang berarti melepaskan keterikatan terhadap tubuh dan berbagai pemikiran atau nafsu (nyawa). Setelah itu, barulah sang sufi memejamkan kedua mata inderawinya, untuk mengaktifkan “mata-ruhaninya”, guna melihat rupa dari Jati Dirinya yang senantiasa berada dalam kondisi permai, kondisi “bahagia yang abadi”. Inilah sesungguhnya inti dari tafakur atau meditasi menurut Syeikh Hamzah Fansuri.”

Bila hal ini sudah tertanam dalam kesadaran kita, menurut penulis kita akan dengan segera mencapai tingkatan teringgi, yaitu menjadi orang yang baik, beriman dan bertaqwa. Semoga bermanfa’at, dan sekali lagi penulis ingatkan bahwa Tuhan itu sangat dekat. Allah is near. Saat hendak berbuat jahat, ecamkan dalam-dalam bahwa manusia mungkin tak melihat tapi Allah selalu dekat, melihat dan tidak mungkin lali dari kemahatelitianNya. See U My Friend, and thank's for read this.

Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy

Komentar