Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

SEMUA DEMI MEREKA


Oleh: Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy
Banda Aceh, 05 Juli 2011

Aku tidak mengerti. Semua insan tersedu dalam isak tangis tiada henti, apalagi mama yang sangat terpukul ketika melihat kondisi tak berdaya terbaring lesu hampir tak bernyawa. Hingga akhirnya aku sadar bahwa aku  sedang koma, benturan keras yang terjadi 2 hari belakangan ini mengharuskan mama yang tidak pernah menjengukku  akhhirnya datang walau dengan uang yang mengutang.

“Maaf, saya harus mencabut nyawamu,” pinta sesosok yang mengaku sebagai Malaikat pencabut nyawa.

“Apa kau rela melihat ibu, ayah dan adik-adikku larut dalam derita? Terus mengapa harus sekarang? Apa tidak ada waktu lain, ya setidaknya sampai aku bisa meminta maaf pada ibu dan semua orang yang ku cinta?”  jawabku yang masih tidak  yakin keberadaannya.

“Tapi ajal itu tidak bisa ditunda walau sedetik, dan aku juga tidak mempercepatnya,”

“Oh ya, bukankah hanya Tuhan yang mengetahui itu? Dan aku belum sempat memberi lembaran itu, bahkan aku belum sempat mengatakan kepada ibu kalau selama ini aku membohonginya,”

Malaikat bingung, bagaimana dia bisa merasakan sesuatu yang  sama sekali tidak dimilikinya? Ya, malaikat memang tidak punya hati, mereka hanya bertugas dan menjalankannya tanpa pertimbangan, apalagi mencoba untuk membangkang, mereka tak pernah  berpikir tentang itu. Bukan itu yang penting bagiku, tapi membahagiakan orang tuaku adalah cita-cita terbesarku. Tapi mengapa hadirku dalam hidup membuatnya sering khawatir, nafiku dalam kondisi koma juga malah membuatnya seperti disambar petir.

“Ini tugasku, jangan halangi aku dengan pertanyaan yang malah membingungkan bagiku,” pinta Izrail ─nama itu yang ku tahu  dari guru mengajiku ketika SD, tapi sampai sekarang aku tidak pernah mendengar nama itu tertuang  dalam Qur’an dan Hadits yang shahih─ kedua kalinya. Bukan tak dengar, tapi aku malah larut dengan bayang-bayang yang tak jelas, memikirkan sesuatu yang akan terjadi bilaku mati, dan hal-hal aneh lainnya.

“Please, mengapa membisu?” Tanya sang malaikat.

“Aku mohon, beri aku  kesempatan, lima menit saja, otak dan jantungku juga masih aktif, aku masih koma,” kali ini aku  yang harus memohon. Aku memang tidak ingin mati dulu sebelum melihat ibu tersenyum, ayah bangga, dan adikku-adikku kuat tanpa aku. Ya memang semuanya sudah tertulis dalam buku harianku, tapi buku itu hanya ada padaku dan tak seorangpun yang tahu.

“Ma, tangan abang bergerak,” ucap Rina yang dari tadi menempelkan pipinya di lengan tanganku yang dingin.

“Dokter, dokter,” Ibu memanggil dokter kegirangan dan terlihat secercah harap di ujung senyumnya. Tapi aku tak melihat ekspresi apa-apa dari ayah. Apa karena ayah tahu kondisiku sebenarnya? Ah, buat apa aku berprasanka yang bukan-bukan kepada orang yang menghidupkanku dengan tetes keringatnya.

“Ma, nggak usah dipanggil, abang nggak apa-apa kok,” pintaku.

“Ma, maafkan abang ya, selama ini abang sering membohongi mama, tapi nggak bermaksud menyakiti ma,”

“Nggak, abang nggak perlu ucapin itu, bagi mama abang adalah anak pertama yang patut dibanggakan,” potong mama.

“Bukan itu masalahnya ma, mama sering tanya ‘apa abang udah makan, masih ada uang, bahkan mama sering tanya dari mana uang makan abang selama di Banda Acehkan?,’ abang selalu berbohong ma, maaf ya ma, ayah juga, abang nggak pernah bisa membanggakan ayah dengan harap yang ayah pinta, abang juga berbohong ketika abang mengatakan bahwa abang diterima kerja di salah satu perusahaan di kota Banda,” terputus.

“Maksud abang apa?” tanya ayah yang mulai angkat bicara. Ku lihat mimik wajahnya yang jauh berbeda, yang dulu tak pernah mendengarkan inginku, kini bagaikan penyidik yang serius demi informasi yang akan ku beri.

“Bisa ambil pulpen Rin,”

“Di mana bang, sebentar, ini dia,” begitulah adikku yang satu ini, setiap disuruh pasti dia bertanya walau pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban sama sekali karena dia sendiri lebih tahu apa yang ditanyanya.

“Jln. Peurada Utama, Lr.  Kenari, No. 04, apa ini nak?” tanya mama setelah aku menuliskan alamat kosku.

“Di rumah itu tersimpan semua pesan dan kejujuran, abang ingin ibu dan semuanya pergi ke sana tapi sebelumnya harus berjanji, tersenyumlah untuk yang terakhir kali,” jelasku dan mereka menuruti.Pelan tapi pasti, mataku perlahan menyipit, gelap dan sepi. Itulah waktu yang ditentukan, ajalku telah datang.

“Thank’s a lot of u, syukran telah memberiku waktu,” ucapku pada malaikat yang sedari tadi menungguku, menanti waktu yang pasti.

“Aku tak pernah mempercepatnya, lemahnya otak dan pompa jantungmu memang masih bertahan lima menit, dan itu sesuai dengan inginmu,” balasnya, aku tak mengerti, dan itu bagiku memang urusaan Ilahi, tiada yang tahu detik berapa aku mati.

Dear: my lovely, mama ayah dan Rina adikku

Semua untuk mu ibu, demi harap ayah dan karena adikku. Ijazah di di lipatan baju itu adalah hasil dari kelulusanku dari IAIN, memang tidak sempurna, tapi nilainya lumayan dan termasuk kategori lulusan terbaik. Mama, ayah, setelah tamat dari SMA di daerah pegunungan, memang aneh bila seorang murid sekolah pelosok berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri, apalagi dengan konidisi ekonomi kita. Putra, Dedek, dan teman abang  lainnya adalah korban kemiskinan structural yang dibuat oleh pemerintah, tapi mereka tidak sadar bahwa niat dan tekad adalah kunci dari segalanya. Abang sekarang adalah orang yang dulu diremehkan, bahkan mama kerap kali meminta abang pulang karena tidak yakin dengan semangat yang berapi dan tekad yang bulat, karena itulah abang menipu. Abang hanya makan sehari sekali, dua kali kalau ada kenduri di rumah-rumah penduduk sekeliling.

Ma, ayah, abang memang kerja di perusahaan, kerja membersihkan toilet, menyapu lantai dan mengepelnya setiap hari. Semua itu adalah jalan yang diberi Tuhan dan ibu tidak  perlu menyalahi nasib ini dengan menuduh Tuhan yang bukan-bukan. Oh ya, abang hampir lupa, selain skripsi yang abang simpan, abang juga punya buku yang  bakal abang serahkan kepada penduduk desa. Judulnya sederhana, sesederhana kehidupan kita di sana. Judulnya adalah “Agama Itu Kebutuhan.” Semoga kita tidak  lagi salah dalam memahami agama yang selama ini membuat kita sering menyalahkan Penciptanya.

Ma, ayah, semua ini untuk kalian, dan kepada Rina, tolong jaga Lara dan dik Bungsu ya, jangan bertengkar karena bombon tangkai lagi ya. Untuk Rina abang juga menulis buku semoga membuat Rina tetap semangat, acuhkan kata-kata teman yang membuat Rina mundur dari cita-cita. Rina ingin jadi doterkan? Nanti Rina harus obati Mama dan Ayah ya kalau mereka sudah mulai sakit, jaga mereka, dan jangan katakana ‘ah’ pada mereka di setiap perintah mulia mereka. Rina tau jdul bukunya? Judulnya sangat akrab dengan kebiasaan kita yaitu “Pendaki Leuser,” abang harap Rina mau membacanya.

Hampir lupa, satu hal lagi yang tak pernah abang cerita, ma, ayah dan Rina, setahun belakangan ini abang terkena penyakit encephalitis/radang otak, abang juga nggak tau mengapa hal ini terjadi, tapi kata dokter ini karena infeksi virus dan itu memang benar. Ma, ayah setelah buku harian ini dibaca, harapan terbesar abang adalah maafkanlah anakmu ini.

Wassalam
Banda Aceh, 01 April 2011
Anakmu: Sulaiman

Tentang matiku kenapa, memang sudah ajalnya, tapi penyebabnya adalah karena penyakitku. Penyakit radang otak memang bisa membuat penderitanya mati. Di tambah lagi benturan di kepalaku yang menghabiskan banyak darah. Nggak tahu pasti sih, tapi sebelum aku mati aku sempat melihat beberapa kantong darah yang sudah habis terpakai.


5 Tahun Kemudian

Duduk manis gadis jelita dengan lesung pipit di kanan kiri pipinya. Senyumnya tak asing bagiku, walau aku hanya bisa melihatnya dari dunia lain, tapi aku seolah terlahir kembali. Apa yang dia lakukan? Aku penasaran dengan senyum adikku yang sedang menulis sesuatu. Ku coba membacanya:

Surat Untuk Abang di Syurga

Bang, Rina sudah besar, Rina juga kuliah dan sekarang sudah semester empat di fakultas kedokteran UNSYIAH. Tapi Rina mau seperti abang, walau tidak kuliah di jurusan yang abang pilih tempo lalu. Rina juga kuliah di jurusan sastra Indonesia, karena Rina mau nulis tentang abang. Rina menemukan Tuhan pada diri abang, Kasih, Sayang, dan semua perjuangan abang kini membuat Rina tak mampu membalasnya.

Bang, abang tahu nggak, buku Pendaki Leuser terjual laris, dulu Rina pikir buku itu Cuma karangan abang yang abang koleksi sendiri. Namun penerbit buku datang ke rumah dan meminta izin agar buku abang  diterbitkan sebanyak mungkin. Dan sekarang buku itu bestseller lho bang. Dan buku abang yang satu lagi ternyata membuat penduduk kampong kita ta’at beribadah. Dan Rina tahu pesan besar yang abang maksud adalah Islam itu kebutuhankan bang? Islam akan melaparkan kita ketika sholat tidak kita laksanakan, sedekah tidak kita amalkan dan Rina sadar bang bahwa Islam memang bukan agama paksaan.

Abang, apa kabar? Kabar abang baikkan? Kami juga baik di sini bang, Lara sekarang bersekolah di Pesantre Modern yang abang sarankan dalam buku harian abang. Sudah ya bang, surat ini Rina titipkan pada Tuhan agar Tuhan memberinya langsung pada abang. Tapi di mana tempat mengirimnya? Rina sedih jadinya bang, Rina takut kalau surat ini tidak sampai ke tangan abang. Tapi, ya, Rina ingat, dalam buku Pendaki Leuser abang juga berpesan bahwa setiap harap mesti dititipkan kepada Tuhan, Tuhan punya rumah. Baiklah bang, Rina mau ke Mesjid dan berdo’a dulu ya bang. Salam cinta adikmu.

Leuser, 17 April 2013, Rina.

Jauh, lari kecilnya semakin cepat dan hilang tertelan jarak. Oh Rina, tanpa ke Mesjid Tuhan sudah tahu. Allah itu maha mendengar, bahkan sesuatu yang masih terbisik oleh  hati. Tapi kau memang adik abang, abang juga bangga padamu Rina. Waktunya pergi dan istirahat, aku beranjak kembali ke sisi-Nya. Wassalam.

Album:
Mendaki Leuser
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.