Langsung ke konten utama

SEKILAS POLITIK

Paradigma orang terhadap politik adalah pandangan realistis mereka terhadap apa yang nampak dimata. Tidak lagi melihat politik yang idealis itu bagaimana? Tentu faktor pendidikan menentukannya dan sebab ulah Politisi juga yang lebih mendominasi pola pikir mereka. Hingga poltik selalu berkonotasi pada negatif.

Harusnya para politisi mampu merubahnya dan mengembalikan makna sebenarnya agar realita itu terbukti tidak sebenarnya benar. Karena dari yang nyata tentu ada yang tersembunyi(ghaib atau apalah namanya). Namun apa Politisi mau melakukannya? Seorang mahasiswa Politik asal Aceh yang menempuh pendidikannya di Malaysia pernah mengatakan pada saya bahwa Politisi tidak akan pernah mau menjadi Negarawan (Presiden dan semisalnya). Kebingungan itu sampai sekarang belum terjawab dibenak saya. Lantas yang menjadi Negarawan sekarang bukankah mereka Politisi? Aristoteles mengatakan bahwa Manusia adalah Hewan yang berpolitik. Kayaknya maksud dari bang Azhar (yaitu seorang mahasiswa yang saya sebut diatas) memiliki kolerasi dari apa yang dikatakan oleh Aristoteles. Betapa tidak? Kata kata bang Azhar (bisa benar bisa saja tidak sesuai dengan maksud saya) yang dimaksud Politisi bukanlah mereka yang tergolong dalam statman Aristoteles. Bukan berarti Aristoteles salah, hewan juga digunakan Nabi dalam artian manusia, manusia adalah hewan berakal. Jadi perlu digaris bawahi bahwa hewan yang di maksud tentulah dari sifatnya, tidak dari segi lainnya. Lantas apa maksud saya tadi? Saya mengambil kesimpulan bahwa Politisi yang dimaksud adalah Politisi seutuhnya manusia, bukan hewan. Sementara sekarang Politisi yang kita anggap sebagai Politisi adalah hewan yang berpololitik. Teman pembaca tentu tahu bagaimana sifat hewan. Begitupun ulah Politisi dilapangan.

Nah, mengenai paradigma orang tentang makna politik itu sendiri saya justru mengatakan meraka tidak salah namun mereka jauh dari kebenaran, tidak salah karena ini fakta jauh dari kebenaran karena mereka tidak memahaminya secara utuh. Dalam satu status saya juga pernah menyebutkan bahwa Berpolitik tidak berarti anda boleh berbuat picik dan licik. Seoalh saya sudah memahami politik seutuhnya. Tidak juga benar, hanyasaja sampai disini proses kesempurnaan yang sudah saya tempuh sementara kesempurnaan itu jauh dan bahkan sampai mati saya belum menemukannya.

Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy
Peminat dan pembenci Poilitik (tentu ada makna filosofinya)

Komentar