Langsung ke konten utama

RENUNGAN

Diri yang bersahaja terlihat lebih indah dibanding dengan jiwa yang kaya dan berlebihan, mereka itu akan binasa karena tidak bisa mensyukuri apa yang menjadi miliknya. Sementara pribadi yang sederhana akan bersikap mengindahkan titah Tuhannya, keyakinannya bahwa dibawah bumi ada lapisan bumi lagi membuatnya suka mengasihani dan memberi, dan dia tahu diatas langit ada langit yang membuatnya tidak sombong dan berbangga diri.

Ingatkah kita pada kisah Qarun? Hartanya melimpah, sehingga sesuatu yang di peroleh dari tanah, gua (ataupun sesuatu yang tidak terduga) sering di sebut dengan harta Qarun. Memang benar, kekayaannya yang membuatnya sombong kini malah menenggelamkan dirinya dan hartanya ke dalam tanah. Lantas, bila ada orang yang seperti ini di zaman modern, dan dia mengatakan beginilah hidup di era ini. Maka saya pastikan dirinya adalah orang yang ketinggalan zaman. BUkankah hal demikian sudah ada di zaman Qarun?

Kemana arah tulisan ini? Saya tidak terfokus pada permasalahan, hanya sekedar renungan dan penambah wawasan spiritual kita. Teman sekalian, memiliki mobil banyak, rumah mewah dan harta melimpah tiada larangan dalam Islam. Namun sombong akan sesuatu yang dimiliki itu membuat Tuhan murka kepada kita, bahkan perbuatan ini sama sekali tidak layak bagi kita.

"Wa Laa Tusrifuu" dan janganlah kamu berlebih-lebihan, tentu kita semua paham apa makna potongan ayat ini. Sikap ini seharusnya tertanam dalam jiwa spiritual kita, sebagai bukti bahwa kita memang cerdas dalam masalah ini. Memang banyak orang yang meyakini adanya Tuhan, tapi larangan-larangan itu bagi mereka seolah suruhan yang mewajibkan. Arvan Pradiasyah mengatakan orang-orang seperti ini memang meyakini Tuhan, namun Tuhan yang jauh. Padahal kedekatan Tuhan melebihi dekatnya urat nadi kita, lantas pantaskah kita sombong?

Remeh, sepele, padahal bila kita jujur, beginilah kondisi sosial masyarakat kita, angkuh, sombong, dsb. Semua serba berlebih-lebihan. Salah satu golongan ini adalah kelompok orang yang mengedepankan rasnya masing-masing. Tanpa mereka sadari mereka sebenarnya adalah orang yang menghina sukunya sendiri karena kemuliaan itu bukan dari hebatnya suatu suku yang angkuh. Melainkan kemuliaan itu justru berada pada suatu suku yang rendah namun qana'ah. Mereka sering mengalah untuk hal-hal yang benar dibanding mempertahankan sesuatu demi kedudukan.

Tidak hanya persoalan suku, tapi pemahaman ini seharusnya ada pada setiap individu. Sehingga tiada yang menghebatkan dirinya melainkan temannya mengakui kehebatannya. Demikian sepintas dari saya. Wassalam.

Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy

Komentar