Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

SYURGA YANG HILANG

Pagi yang cerah, dan ku harap hari ini bisa menjadi hari yang indah dan menyenangkan.

"Sayang, nggak pulang nak?" tanya mama ketika telepon yang sudah lama berdering itu ku angkat pada deringan yang ke-enam. Maklum, tadi aku sedang mandi dan mau  pergi ke kantor.

"Belum tau  ma, masih banyak kerja di sini,"

"O o, ya nggak apa-apa,  sepertinya kesibukan membakar semua rasa rindumu  ya sayang, mama maklumi, bahkan saat mama mati jawabanmu tetap sama, mama tetap sayang kamu."

Telepon terputus. Ucapan terakhir dari mama membuatku terpukul keras, seolah sebuah tamparan mendarat di pipi dan membawa setumpuk buku dosa yang harus ku baca. Memang  sudah 2 tahun aku tak pulang kampung, padahal jarak dari Banda Aceh ke kampungku tidak terlalu lama. Bukannya tidak memiliki hati, rasa rindu seorang anak tetap ada dalam jiwaku. Aku ingin pulang, dan itu sudah ku jadwalkan menjelang Idul fithri mendatang. Untuk keberangkatan ke kampung halaman aku  sudah mempersiapkan tiket pesawat jauh-jauh hari. Tapi, tetap saja rasa bersalah melanda diriku. Kekeringan kini harus bermusim di hati yang telah lupa pada mama tercinta. Aku  harus menggali sumur yang dalam untuk menemukan air, ya setidaknya aku harus berubah dan segera meminta maaf pada mama yang setiap seminggu sekali menelepon walau selalu mendapat jawaban yang sama.

Hari-hari menjelang pulang kian merapat menghampiriku, merayu dan membujuk hingga kesabaranku hampir habis hanya untuk bertahan dua hari lagi di kursi kerjaku. Seorang bos yang merupakan direktur perusahaanku datang, wajahnya  berseri dan aku yakin kali ini ia akan memberi berita gembira padaku.

"Selamat pagi anak muda, semakin gagah dan percaya diri saja kamu, saya suka dengan gayamu," aneh, seorang direktur malah memuji karyawannya dengan hangat.

"Iya pak, Insyaa Allah saya terus menigkatkan kepercayaan diri saya agar selalu tampil performa seperti saran bapak," jawabku.

"Wow, I  Like ur self, so, aku sudah berunding dengan dewan penasihat dan sepakat, kau akan mendapat posisi sebagai sekretaris di kantor ini, kamu suka?"

"Mau pak, suka banget, wah Allah memang maha Kasih ya pak."

"Ups, tapi dengan satu syarat, kamu harus mengikuti training terlebih dahulu, dengan demikian kamu baru bisa libur, berarti kamu baru bisa pulang ketika megang, bagaimana, kamu siap?"

Aku seperti tercekik, semua harus bersyarat, semakin lama aku semakin benci dengan pekerjaanku. Setiap kali naik jabatan pasti harus dilatih terlebih dahulu. Katanya agar setiap orang yang diposisikan tahu benar tugasnya itu seperti apa dan lebih mapan nantinya ketika pelatihan itu selesai dijalaninya. Peraturan memang mengikat, bahkan sampai terfikir di benakku  bahwa hidup tanpa aturan akan lebih menyenangkan karena setiap kita bisa bebas dari tuntutan apapun.

"Halo, kok diam, kamu siap tidak?" direktur menegur.

"Iya pak, saya siap."

"Nah gitu dong, baru namanya anak muda, ingat! Orang besar adalah orang yang memikul beban yang besar pula."

Akhirnya, langkah  pak direktur melenyapkan dirinya sendri dari pandanganku. Sebentar deh, apa keputusanku benar, menerima tawaran dan membatalkan rencana? Oh tidak, aku bingung, teman bantu aku. Allah beri malaikatMu untuk menyelesaikan masalahku. Di selah waktu kosong, ku baca sepotong ayat  yang artinya "Sesunggahnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sampai mereka merubah keadaan mereka sendiri." Apa ini pertanda bahwa malaikat Tuhan tidak akan turun? Dan aku juga teringat bahwa Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. Allah, bukankah ini terlalu berat? Bila salah keputusanku apa ini salahku?

Memang Tuhan tidak akan salah, dan tidak akan pernah salah. Aku jadi bingung dengan konsep takdir. Ada yang bilang bahwa takdir meruapakan salah  satu rukun  iman, hal ini tertuang dalam hadits bahkan. Tapi di saat yang bersamaan dikatakan pula bahwa takdir itu adalah ketetapan Tuhan yang sudah ada sebelum manusia lahir. Jika tertulis sebagai pencuri, maka akan menjadi pencuri. Ini malah semakin membingungkanku. Bukankah ini bertentangan dengan hukum  alam? Bagaimana bila ada seseorang yang ingin menjadi baik, apakah  ia akan tetap jahat karena takdir? Aku tidak akan percaya pada seseorang yang berkata tentang  takdir. Karena bagiku  itu adalah hak Allah, yang ku yakini adalah orang yang rajin akan menjadi pintar, kaya dan seterusnya. Orang yang malas akan menjadi bodoh, miskin dan seterusnya. Dan ini adalah ketetapan.

Ah, ngapain coba ngurusin perdebatan ahli kalam? Sebagai sarjana ekonomi aku lebih baik focus bila permasalahan terkait dengan untung rugi. Kenapa ya, di moment-moment yang sangat mendebarkan, waktu itu mulai melambat? Terasa lama berjalan, sementara rinduku untuk bersua kian membara. Mama dan adikku pasti akan lebih lengkap bila aku berada di sana. Kalau papa, sudah lama pergi ke sisi pemilik jagat raya ini. Dulu mama bilang bahwa papa sedang bersama Tuhan di syurga. Kebenarannya aku juga tak tahu, tapi dalam sebuah surat yang pernah ku baca, orang yang ingan bertemu dengan Tuhannya mestilah ber’amal shalih dan tidak mensyirikkan Allah.

Hari jum’at, dan sebelum shalat jum’at  training atau pelatihan akan selesai. Dalam tiket  yang sempat ku tunda tertulis bahwa pesawat menuju Kuta Cane akan terbang pada pukul 06.00  esok pagi. Ada sedikit kelegaan di hatiku, dan itu karena esok aku  akan bertemu mama dan adik-adikku. Ku putuskan untuk istirahat seusai jum’at di Mesjid raya Baiturrahman yang penuh sejarah itu. Ku putar seuntai lagu indah Nike Ardila, tak terasa air mata  meleleh dan memecahkan bendungan kelopakku walau kini aku  telah tertidur. Terbawa mimpi diiringi lagu tembang menghantarku pada alam yang aku sendiri tidak tahu.

Darah Bening di Rumahku

“Ada apa ini? Mengapa ada tahlilan?” aku kaget luar biasa, hal yang paling tidak ku suka karena tahlilan sudah disalah  arti oleh masyarakat. Mereka berbondong untuk ta’ziah tapi kosong ketika shalat jama’ah. Tapi kebencian itu bukan lagi karena masalah tahlilan atau apalah namanya, aku justru benci pada semuanya; tetangga, bahkan adikku sendiri. Ku  tarik lengan Aldi ke dalam kamar berukuran 3 x 4 meter, dan itu adalah kamar kenangan ku sendiri. Di kamar itu aku melukis cita-cita, bahkan di atapnya masih ada coretan vocab yang setiap menjelang tidur ku hafal karena inginnya aku pergi ke Negeri samurai (Jepang).

“Kenapa nggak ditelepon ke Hp abang? Mama mana? Siapa yang pergi?” Tanyaku sambil marah pada Aldi. Aldi tiba-tiba berubah, ia malah membentakku.

“Iya, aku yang salah, aku  yang bunuh mama, salahkan aku, bunuh sekalian, mama meminta abang pulang jauh-jauh hari karena ia ingin menyampaikan sesuatu. Apa abang datang?”

“Aldi, abang sibuk,”

“Cuma itukan jawaban abang yang didengar mama? Tapi apa abang tahu, mama memarahiku hanya karena mengatakan bahwa abang  memang sudah lupa pada keluarga biadab ini.”

“Lancang kamu Aldi, jaga sikap kamu,”

“Jaga sikap? Bukankah abang sendiri yang mengatakan bahwa mama sudah pasti masuk Neraka karena pergi begitu saja meninggalkan ayah dan lalu  ayah meninggal terkena serangan jantung. Lalu keluarga apa kalau bukan keluarga biadab namanya?”

“Aldi….” Aku membentak, warga desa memahami masalah  kami, dengan segera mereka meninggalkan rumah yang dulunya mereka sendiri sebearnya berjanji tidak akan sudi mendo’akan mama bila mati karena kepergian mama meninggalkan ayah mereka anggap sama halnya dengan meludahi kampung ini.

“Apa? Pukul aku bang, bunuh, aku benci dengan hidup, aku mau sama mama.” Aldi menangis dan terjatuh tepat di depanku. Ku ulurkan kedua tanganku lalu  memegang  bahu adik kebanggaanku. Sentuhan lembutku mampu  dipahaminya, Aldi pun berdiri.

Dua insan kerdil itu  kini saling merasakan kehangatan, cinta sang  abang dan adik kian berpadu dalam pelukan kasih sayang. Oh ya aku lupa, ku tatap si kecil yang menyaksikan kami dengan lugunya di depan pintu kamar mungilku.

“Kemari Ahmad, ini bang Rijal, dulu Ahmad belum bisa ngomong ketika abang  Rijal ke Banda,” aku mencoba membujuk Ahmad adik sulungku yang ketika ku tinggalkan  masih sangat kecil dan memang tidak bisa ngomong. Umurnya sekarang berkisar empat tahun. Dia mirip dengan Aldi dan aku yakin dia juga akan secerdas Aldi yang selalu rangking satu.

Rumahku telah banjir. Bukan banjir bandang yang turun dari gunung, tapi ini banjir air mata yang tak lagi mampu terbendung. Layaknya luka ini adalah darah yang tertumpah, tapi lebih pedih dari itu, luka ini masalah hati yang di tinggal pergi. Walau tidak merah, rumahku sembab dengan isak tangis yang mengiris. Darah bening di rumahku, ya, karena seharusnya luka adalah darah, maka air mata adalah darah yang beining menurutku, lebih pedih, lebih sakit dan perih rasanya.

Syurga yang Hilang

Di hari yang bahagia, tak satupun anak-anak yang terlihat menyendiri, semua bermain tembak-tembakan bersama dengan teman-teman mereka. Kecuali Ahmad adikku, dia hanya sibuk mengeja Iqrak 1 dan berharap itu juga akan mendatangkan pahala layaknya bacaan Qur’an yang merupakan ibadah. Di hari yang indah, anak remaja asyik bertemu dengan rekan sekolahnya, berkunjung ke rumah guru dan sebagainya. Tapi Aldi tidak  pergi, ku lihat  dia juga punya kegiatan sendiri; memotong bambu yang akan dijadikan menjadi tembak dengan peluru kertas atau jambu yang masih berbentuk bunga. Dan aku, aku hanya abang yang tidak berarti bagi mereka. Ini adalah hari kedua lebaran, dan ibu meninggal pada tujuh hari yang lalu. Awalnya aku berharap kedatanganku mendatangkan kelengkapan,  tapi malah jauh dari kesempurnaan. Mama dan ayah telah tiada. Lagi-lagi aku tak tahan dengan keadaan ini, terlebih Ahmad menurutku. Aku tak bisa membayangkan betapa terluka nasib adikku Ahmad ketika berumur 1 tahun harus kepergian ayah yang selalu menggendongnya ketika mama juga tidak di sana, lalu ayah meninggal dan mama pulang. Tiga tahun berjalan, padahal kasih sayang belum sempat ia rasakan seutuhnya tapi mama juga pergi.

“Ahmad, ke sini dek, ini tembakmu sudah jadi,” Aldi memanggil si kecil. Allah, apa yang harus ku beri pada mereka? Uangku sudah habis membayar hutang mama, gajiku baru di kasih bulan depan, andai waktu bisa terulang, aku berjanji akan selalu menyisakan gajiku dank u kirim untuk mama. Nasib baik memang tidak akan berpihak pada keluarga berantakan seperti keluarga kami. Dulu rasa benciku pada mama karena ulahnya membuatku harus menelan kembali ludah yang sudah keluar. Bagaimanapun akulah yang salah, aku juga ego bila selalu menyalahkan mama. Dan ketika sadar bahwa syurga ada di talapak kakinya, rasa kehilangan semakin terasa menyakitkan. Mama adalah syurga yang tak sempat ku cium, mama adalah syurga yang hilang.

“Bang, ini ada titipan dari mama sebelum mama pergi,” Aldi menyodorkan sebuah benda yang mengejutkan. Benda itu sanagat  akrab denganku, sebuah pesawat kecil yang di beli beberapa tahun yang lalu. Ketika mama dan ayah merupakan pasangan yang serasi, bahagia dan harmonis. Tapi semuanya berubah begitu saja hanya karena masalah kecil yang sampai sekarang aku juga tidak tahu alasannya. Sebentar, ada suratnya juga.
“Surat apa ini Aldi?”

“Jangan di buka sebelum abang datang, hanya itu pesan mama,” aku semakin penasaran, pertama mama masih ingat dengan mainan kesukaanku, dan kedua mama menitip sepucuk surat. Aku tak sabar untuk membukanya, ku sobek amplop surat tapi tanggal yang tertera tepat sebulan ketika mama meninggalkan ayah.

Kepada: Suami dan Anakku
Bang, Mira minta maaf kalau baru kasih  kabar. Mira di sini baik-baik  saja, abang dan anak kita bagaimana? Bukannya Mira meninggalkan abang, tapi Mira merasa ini saat yang tepat untuk memberi alasan Mira pergi. Ketika itu, ibu Mira menelepon dan katanya papa akan terkena serangan jantung sudah lama, sejak kita menikah. Lalu Mira di suruh pulang ke Jakarta tapi Mira di bohongi, lalu Mira tidak diperkenankan balik ke Aceh hingga akhirnya Mira nulis surat ini agar abang tidak kecewa pada Mira.

Oh ya, anak kita Rijal bagaimana bang? Ini ada pesawat kecil untuknya, dulu Mira teringat dengan cita-cita anak kita yang ingin terbang  ke Jepang  dan belajar di sana, makanya Mira beli pesawat ini. Mira terus berusaha keluar bang dari rumah, tapi Mira selalu ditahan. Mira sedih bang, tolong Mira bang. Mira janji, Mira akan kembali untuk abang, untuk anak-anak kita.
Dari
Istrimu, Mira

Betapa terpukulnya hatiku, semua tuduhanku ke mama salah besar. Mama yang ku sangka adalah istri durhaka, rupanya sangat mencintai anak dan suaminya. Mama yang ku tuding sebagai ahli neraka rupanya penghuni syurga di bawah naungan cintaNya. Aku mengerti mengapa Aldi ingin ikuut mama, itu karena mungkin Aldi tau sebenarnya mama sangat mencintai anaknya. Sementara aku sibuk di kota Banda dengan pekerjaan dan karir yang menghilangkan syurga dari dunia. Aku hanya sempat pulang ketika ayah meninggal dan pada dua tahun yang lewat, itupun karena kebetulan aku juga punya kunjungan kerja di kota asalku.
“Bang, aku rindu mama,” Aldi menyadarkan lamunanku setelah surat yang ku baca juga di baca olehnya.
“Abang tau nggak mama mau bilang apa sebelum beliau tiada? Mama ingin di sholati oleh  abang,  tapi beliau hanya sempat berkata pada telepon yang sudah terputus, Aldi nggak sengaja mendengar percakapan abang sama mama,”

“Aldi, maafin abang ya, andai abang tahu, abang tidak akan menyibukkan diri, abang telah salah menilai mama, walaupun tetap mencintainya, tapi dulu  abang pikir dengan mengacuhkan keiinginannya rasa sakit hati abang dulu bisa terobati. Rupanya mama tidak seperti pikiran abang,  mama sangat  sayang, bahkan benar kata orang, kalau ada orang yang rela mati demi cinta, itu adalah mama, hanya mama yang mau melakukannya,” Ku peluk  erat Aldi dan di susul oleh Ahmad dengan tembak-tembakan yang dibuat Aldi tadi. O iya, mengenai surat ini, kata Aldi suratnya tidak sampai ke rumah karena juga ditahan oleh nenek dan mama berhasil balik ke Aceh karena melarikan diri. Surat yang tak sempat terkirim itu ditemukan mama di tong sampah dan mama membawanya surat itu sebagai bukti kalau mama memang benar cinta keluarga ini.

“Bang Aldi, gagang tembaknya patah, buatin lagi ya,” ucapnya manis.

“Iya, ntar abang buatin lagi, ke sini dekat abang,” Aldi begitu akrab dengan si bungsu, ia pun memeluk Ahmad dan kami bertiga berada dalam satu pelukan, satu ikatan, satu harapan dan satu kepedihan yang bernama cinta.

Mama, maafkan Rijal yang tak sempat mencium kakimu, yang selalu beralasan dengan sebuah kesibukan sampai-sampai tidak sempat berbakti padamu. Ma, andai waktu bisa terulang, takkan ku biarkan syurga itu hilang. Ma, mungkinkah anak sepertiku bisa membuka pintu syurga yang dulu aku sendiri yang menutupnya? Bagaimanapun mama adalah syurga, dan kini mama adalah syurga yang hilang, takkan terganti, dan tak tahu diriku mencari.



Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.