Langsung ke konten utama

KELIRU

Suatu ketika, azan 'ashar berkumandang. Ada seruan yang menyuruh kami diam dengan alasan azan sedang dilantunkan. Sekilas ini adalah hal yang biasa, namun bila kita mampu mencermati tentu kita akan menemukan sesuatu yang keliru dalam hidup kita. Awalnya kekeliruan itu saya pikir cuma ada dua dimensi, tapi setelah menerawang lebih dalam ada satu lagi bentuk kekeliruan kita selama ini. Penjelasannya sederhana, kekeliruan yang saya maksud adalah keliru dalam niat (berbicara hati), keliru dalam memahami (pola pikir) dan yang ketiga adalah keliru dalam menyikapi (terkait dengan tingkah laku).

Coba renungkan kisah ini. Seorang dermawan yang selalu menyedekahkan harta kerap kali hadir pada event-event penting yang menghadirkan beberapa dermawan lain dari penjuru kota. Suatu ketika ia marah karena nama yang tertera bukanlah namanya yang padahal uang sumbangan itu adalah miliknya dan benar-benar dia yang memberi secara langsung. Di saat yang bersamaan terlihat pula seorang dermawan namun tidak pernah hadir namanya dalam daftar penyumbang santunan anak yatim, korban tsunami atau untuk panti jompo sekalipun. Apa yang dapat anda bayangkan dari cerita di atas? Tentu kita sepakat bahwa si-dermawan pertama telah salah dalam berniat, dia bersedekah karena ingin dikenal sebagai seorang tajir yang suka memberi dan sebagainya. Inilah bentuk kekeliruan pertama yang saya maksud. Berbeda halnya dengan si-dermawan yang kedua, baginya yang penting adalah kebaikan itu tersebar bukan namanya yang terkenal.

Kedua, salah dalam memahami, atau dalam bahasa yang lebih luas adalah salah dalam menafsirakan. Saya katakana demikian karena menafsirkan itu sendiri bukanlah hal yang mudah, perlu pemikiran yang kritis dalam hal ini. Namun apa yang terjadi? Sifat ketergesaan kita sering kali membuat kita terlalu mudah mengambil satu keputusan yang sering tak bertanggung jawab. Dalam memahami agama misalnya, bukankah para tokoh agama memperkenalkannya sebagai sebuah kewajiban (menggunakan pendekatan yuridis)? Pemahaman seperti ini bukannya salah, namun sedikit kurang  tepat karena agama ssebenarnya adalah kebutuhan, dengan demikian sebuah pernyataan “tidak ada paksaan dalam agama” akan sejalan dengan ini. Orang akan melakukan sholat karena ia butuh akan sholat. Seorang akan bersedekah karena ia butuh dengan sedekah, ia akan memberi karena memberi itu sendiri akan mendatangkan rezeki. Atau dalam memahami Tuhan. Bukankah sebuah pernyataan “Tuhan telah marah” tidak asing lagi di telinga kita? Yang padahal marah itu jauh dari sifat Tuhan Yang Maha Kasih. Bukankah bencana itu juga bentuk kaish sayang Tuhan kepada kita? Analogi sederhana dalam memahami Kasih Tuhan adalah seorang ibu yang memukul anaknya, bukankah itu bentuk sayang ibu pada si-anak agar anaknya tidak  nakal dan sebagainya?

Adapun kisah di awal tulisan ini sebagai contoh kekeliruan kita dalam menyikapi. Menghormati azan sebagai seruan untuk menyembah Tuhan adalah dengan bergegas ke rumahNya. Bukan berdiam dan setelah azan berlalu kita melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Di sinilah letak kekeliruan dalam menyikapi. Anehnya, dalam pelajaran akhlaq tasauf seorang guru menjelaskan tentang hormat itu lebih baik ketimbang ta’at. Mungkin bukan kaedahnya yang salah, tapi yang pasti saya dengan serta merta terheran dengan contoh yang di beri oleh sang guru. Dalam contohnya sang-guru mengatakan bahwa bila seorang guru menyuruh kita untuk membangunkannya pada waktu sholat tiba, dan ketika waktu itu benar-benar tiba maka kita lebih baik tidak membangunkannya karena menghormatinya. Teman sekalian bisa bayangkan kalau sikap seperti ini dianggap benar. Bisa jadi guru akan murka terhadap kita (pertama). Kedua kita bukanlah murid yang ta’at terhadap perintahnya. Ketiga kita telah salah karena melanggar perintah Tuhan karena teori yang disikapi dengan salah ini. Dan masih banyak lagi hal buruk lainnya dikemudian hari.

Singkatnya, bentuk kekeliruan di atas mau tidak mau kita harus mengaku bahwa hal itu ada dan fakta. Adapun kisah di atas juga saya ambil dari kisah nyata yang saya alami sendiri. Di sini setidaknya kita tahu dan kemudian mampu meluruskan sesuatu yang saya anggap keliru. Ya pada tataran berikutnya kita tidak boleh terjatuh ke lubang yang sama dalam kesalahan yang sama. Saya juga keliru karena berkata seolah seorang ulama, memberi nasihat belagak penasehat, dan pembaca tentu sendiri tahu bahwa saya sebenarnya tidak pantas menyampaikan ini.

Tiga bentuk kekeliruan ini saya harap tidak bertambah lagi dikemudian hari. Saya, anda dan kita semua adalah sama dan sama-sama dalam mengajak, menegur dan sebagainya, agar kita selalu dalam rahmat kasihNya, bernaung di bawah perlindunganNya dan saya tutup tulisan ini dengan ribuan permohonan maaf kepada semuanya.

Wassalam

Komentar

Posting Komentar

Kalau sudah baca, mohon dikomentari ya. Terima kasih.