Langsung ke konten utama

Focuslah Pada Proses

Kita sering kali salah, termasuk salah dalam memahami tujuan hidup. Berangkat dari kesalahan ini saya mencoba memberi penyadaran bagi kita yang ingin sadar. Alkisah, dua orang mahasiswa belajar pada jurusan yang sama. Sebut saja nama mereka adalah Aan dan Jefri. Aan sering bermain pada malam yang menegangkan, pada malam di mana teman-teman pada focus untuk ujian esok hari. Berbeda dengan Jefri, Jefri justru sibuk membolak-balik buku, ibarat makan obat kiranya Jefri sudah over dosis. Proses terus berjalan hingga akhirnya hasil di umumkan.

Yang terjadi adalah hal yang tidak diduga. Jefri memang mendapat nilai yang bagus, dan wajar karena semalaman iya bersama bahkan tidur dengan memeluk kekasihnya yaitu buku. Tapi yang terjadi dengan Aan sangat mengejutkan teman-teman dan mengundang banyak prasanka dari banyak orang. Aan mendapat nilai sempurna, A semua 4,0 IPK-nya.

Apa yang dapat kita ambil? Apakaah kita juga ikut untuk berprasanka? Atau merenung dan terus bertanya? Pertanyaan yang sering muncul dari kita adalah kecurigaan yang membuat penyakit hati ini semakin besar. "Apa Aan menyontek, atau menyogok, pasti ada yang gak beres" kata hati yang kotor. Tidak, inilah kesalahan yang sering kita lakukan. Dan ini meruapakan penyakit kedua setelah ketidakikhlasan hidup (Khairil Akbar/2011).

Teman, setidaknya kita bisa mengambil ibrah berupa pelajaran yang sangat berharga dari Aan. Baginya hidup bahagia itu sekarang bukan penantian. Dengan demikian ia hanya terfokus pada proses bukan hasil yang akan datang. Kita belajar hanya sekedar, di malam yang esok harinya adalah ujian kita sering mengejar, materi yang tertinggal, bahkan mengulang sesuatu yang sudah diajar untuk di hafal. Salahkah?

Bukan itu yang menjadi pertanyaannya, pertanyaan itu justru terarah pada kita, mengapa kita tidak bahagia? Karena bagi kita bahagia itu adalah hasil perjuangan sehingga kita akan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Konsekuensinya adalah kita hanya akan terfokus pada ujian bukan proses pembelajaran. Aan berbeda, karena ia memahami, bukan menghafal, karena ia belajar bukan diwaktu ujian. Lancar kaji karena diulang bukan kata yang tepat baginya. Dia menemukan pepatah baru yang membuatnya cerdas dan siap kapan saja. Kata-kata yang menyihir itu adalah "Ada ilmu karena dipaham, bukan lancar kaji karena diulang". Dengan demikian kita sebenarnya sudah menghemat waktu dan mempercepat kesuksesan. Begini penjelasannya:

Memahami adalah mengerti apa yang diberi, mencari bila tak menemui dan rendah hati bila sesuatu itu sudah diketahui. Memahami juga berarti bahwa kita tidak perlu lagi membuang energi untuk menghafal, karena memahami sudah pasti pelajaran itu terhafal. Beda bila kita menghafal, menghafal berarti memindahkan data dari objek yang dibaca kedalam memori otak kita. Dengan demikian akan terjadi kemungkinan bahwa kita tidak memahami dan tidak akan bisa memberi jawaban bila pertanyaan itu di bolak balik karena kita tidak mengerti.

Metode lama memang efektif, tapi itu di zamannya. Di zaman yang serba cepat kita akan tertinggal bila masih menempatkan pola pikir kita di zaman purba. Dan lagi-lagi sikap akan menentukan kualitas diri kita. Fokuslah pada proses teman, bukan hasil ujian. Dengan demikian kau sudah menghemat dan menghebatkan diri menjadi pribadi yang siap kapan saja.

Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy

Komentar