Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

ISLAM RADIKAL; KEKELIRUAN DAN SOLUSINYA

Jauhi sikap radikal...
Gunakanlah rasional akal...
Bukankah radikalisme...
menyulitkanmu menemukan idealisme...

Assalamu'alaikum, salam sejahtera, dan rahmat beserta barokahNya semoga tercurah pada kita semua...
Sebelum melangkah lebih jauh, saya sengaja mletakkan arti dari salah satu ayat al-Qur'an yaitu "Dan demikian pula Kami menjadikan kamu ummat penengah (moderat/pilihan), agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia." (al-Baqarah: 143). Ayat ini sebenarnya telah menjawab pertanyaan mengapa saya menulis tentang Islam Radikal, ya, itu karena bagi saya Islam radikal memang tidak pantas mendapatkan tempat di hati pemeluk agama Islam. Karena sikap moderat (wasathiyah) merupakan salah satu karakteristik umum Islam, yaitu karakteristik mendasar yang digunakan Allah untuk membedakannya dari ummat lain.

Tulisan ini mungkin mendapat cercaan dari berbagai kalangan, tentunya dengan berbagai dalih, dan radikallah saya bila memaksa mereka harus mengikuti saya. Namun saya mencoba sedikit bersikap adil (walau belum adil) dalam memberi penilaian terhadap masalah ini. Pembaca baru mungkin akan bertanya apa itu radikal? Secara bahasa, radikal berarti berdiri di ujung, jauh dari pertengahan. Bisa juga diartikan berlebihan dalam sesuatu. Oleh karenanya radikalisme dekat dengan kebinasaan dan bahaya, sikap keras yang tidak menentu ini juga membuat orang akan memicingkan matanya bila radikalisme ini menjadi sesuatu yang kita agung-agungkan. Radikal dalam bahasa syari'at tidak hanya  terdapat satu istilah bahasa saja, melainkan banyak istilah  lain yang bermakna sama. Sebut saja berlebihan (al-ghuluw), melampui batas (tanathu''), dan keras atau mempersulit (tasydid).

Sangat banyak nash-nash yang menerangkan kedangkalan pemahaman kita, ayat maupun hadits itu akan membuka mata yang tadinya tertidur dengan cinta buta kita terhadap Islam. Diantaranya:
  1. Jauhilah sikap berlebihan ghuluw. Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu binasa (hancur) karena sikap berlebihan dalam agama (H.R. Imam Ahmad).
  2. Hai ahli kitab janganlah berlebih-lebihan tanathu' dalam agamamu diluar kebenaran (al-Maidah: 77)
  3. Sungguh binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan (H.R. Muslim). Nabi mengucapkannya tiga kali.
  4. Jangan kalian bersikap keras tasydid terhadap diri sendiri, sehingga ditetapkan ketentuan yang keras bagi kalian (al-Hadid: 27). Dan masih banyak lagi dalil-dalil lain menjelaskan ini.
Bila keterangan diatas masih belum juga terang bagi kita, maka saya harus melogikakannya, agar lebih dekat penafsirannya saya mencoba memberi contoh: Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, ada seorang teman mengajak kita harus begini, bahkan dia mewajibkan kita mengikutinya, apakah kita akan mengikutinya padahal kita tidak melakukan sesuatu kesalahan apapun? Bukankah sikapnya malah membuat orang membencinya? Fanatiknya akan membuktikan hal ini, orang seperti ini tidak bisa menerima perbedaan, Islam yang benar adalah Islam yang dia terapkan.
Lantas bagaimana dengan jihad? Bukankah dalam peperangan kita tidak bisa berlemah lembut? Bila ini pertanyaannya, maka saya bertanya lagi pada anda. Jihad seperti apa yang anda maksud? Saya sedikit memahami pertanyaan diatas, ya indikasinya pasti pada bentuk perlawanan terhadap non-Islam. Bila konsep jihad itu tidak disalah arti, maka saya membenarkan bolehnya bersikap radikal. Dan ini memang termaktub dalam al-Qur'an surat at-Taubah ayat 123 yang artinya:
"Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitar kamu dan hendaklah mereka merasakan kekerasan darimu".

Ayat ini terkesan bahwa Islam itu radikal, padahal tuduhan ini tidak benar sama sekali. Memerangi orang kafir tanpa sebab bukanlah ajaran Islam, ada ketentuan yang membolehkan memerangi orang kafir seperti dilarangnya Islam berdakwah di territorial  kafir padahal Islam tidak memaksa mereka untuk ikut masuk ke dalam agama Islam. Keadaan ini membolehkan jihad terhadap mereka dan bersikap radikal kepadanya, namun di dalamnya juga terdapat etika-etika perang yang tidak boleh dilanggar. Berarti sikap radikal bukan larangan muthlaq, benar, namun bukan sebagai dalih bolehnya radikalisme. Hanya dua tempat sikap ini yang di pernolehkan:
  • Di tengah peperangan menghadapi musuh.
  • Ketika melaksanakan hukuman syari'at.
 Untuk poin kedua Allah juga pernah berkata "Dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah." Sementara di medan dakwah ruang kekerasan tidak ada sama sekali, selain hadits Qur'an juga mengisyaratkan "Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya."

Namun sangat disayangkan, kecendrungan ini pula yang sudah merasuki jiwa manusia dan muslim khususnya. Mereka dengan lantang mendengungkan ini dan itu, suara orang lain nafi di telinga mereka. Dan sikap berlebihan itu pulalah yang membuat mereka lupa pada sifat Rahmannya Allah. Lathif juga secara tidak langsung mereka anggap tiada, hingga timbullah anggapan-anggapan keliru terhadap Islam. Anggapan itu bahkan sangat berlebihan hanya karena penyebab itu juga berlebih-lebihan. Realita ini sangat sulit ditangkis karena ummat Islam sendiri juga sebagian mengakui tindakan ini merupakan ajaran Islam, mereka tidak bisa menempatkan antara ketegasan dan kekerasan.

Kekeliruan ini tentu memilikia faktor, secara konprehensive, penyebab itu bisa di bagikan kepada:
  • Lemahnya pengetahuan tentang hakikat agama
  • Memahami nash secara tekstual
  • Mengedepankan Persoalan lateral hingga mengesampingkan persoalan besar
  • Berlebihan dalam mengharamkan
  • Kerancuan konsep dan sebagainya.

Apa solusi yang harus dilakukan sekarang, agar fenomenan radikalisme terhadap agama bisa teratasi? Pertanyaan ini secara tidak langsung sudah terjawab, ya dengan mengikis faktor penyebab maka pohon subur sekalipun tidak akan hidup tanpa akar. Ya, begitulah kiranya radikalisme yang seolah sudah mengakra kuat di masyarakat kita. Masyarakat memiliki andil yang strategis dan tepat, karena mereka juga mempunyai kewajiban untuk melakukan terapi terhadap fenomena ini. Selain itu, Penguasa Muslim juga harus kembali kepada syari'at Allah Swt yang dengan demikian berarti pemerintah harus berupaya membuka jendela jendela kebebasan, perlakukanlah orang lain dengan jiwa kebapakan dan semangat persaudaraan, tidak berlebihan dalam melukiskan radikalisme dan lain sebagainya.

Bila radikalisme sudah tidak ada, maka kita akan merasakan indahnya bersaudara, dan kita juga akan memahami mengapa kita berbeda. Rasa cinta antara sesama itu pula yang mengantar kita ke syurga karena salah satu bahagian iman kita sudah terlengkapi.  "La tu'minu hatta tahabbu."

Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy

Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.