Langsung ke konten utama

NIAT DAN TEKAD

(Dalam Mengalahkan Ombak Kehidupan)

Syarat pengambilan ijazah adalah harus lunas uang SPP seluruhnya, itu yang selalu terngiang di kepalaku, belum lagi aku harus membayar uang SPP dan pembangunan pada IAIN Ar-Raniry yang jumlahnya lebih dari Rp 1.000.000,-. Kemana aku mencari uang yang tidak sedikit ini? Mencari kemiri d kebun paling sehari hanya dapat Rp 10.000,-, sedangkan waktu batas daftar ulang sudah dekat. “Bar, bagaimana kalau kita besok malam berangkat ke Langsa ambil ijazah?” Tanya Muttaqin teman akrabku melalui handphone, “Lihat nanti ya Qin, nanti biar ku telepon lagi kalau jadi, sudah ya, Assalamu’alaikum.” ku tutup telepon dari temanku itu. Aku masih bingung harus berbuat apa, uang tidak ada, tapi teman sudah ngajak aku balik ke Langsa yang jaraknya dari rumahku 1 hari (12 jam) perjalanan.

“Mak, Abang mau ke Langsa besok malam.” membuka pembicaraan di saat mama dan adik-adikku menonton TV. “Yah, kini mule (Yah kesini dulu).” dengan menggunakan bahasa gayo mamakku memanggil ayahku. Aku mengerti maksud mamak. “Ini, si Akbar mau ke Langsa sama Taqin besok malam,” jelas mamakku pada ayah yang sangat kukagumi ini. “Ooo, tapi Ayah gak ada uang bagaimana?” balas ayahku, balasan yang tidak kuharapkan, tapi keadaan yang membuat aku harus menerimanya. Mamaku pergi keluar rumah, sempat membuatku heran, pembicaraan berhenti sebentar. Sepuluh menit kemudian mamakku datang lagi dengan membawa uang, pikiranku bertanya-tanya. “Uang siapa, Mak?” tanyaku heran, “Mamak pinjam bentar sama Bu Manta, cukup Rp 300.000,- kan?” tanya mamak balik. Aku merunduk, wajahku masih cemberut seperti semula, tapi dengan uang yang hanya cukup untuk ongkos akupun berangkat keesokan harinya bersama Taqin.

Taqin pergi bersama ibunya. Nah, dari ibunyalah aku dipenjami uang yang boleh kuganti kapan saja, dua hari di Langsa akhirnya aku kembali dengan selamat di Desa Lawe Loning Aman tercinta. Entah kemudahan apalagi yang akan kuterima setelah orang yang bagaikan malaikat ini menolongku, siapa lagi kalau bukan keluarga temanku yang kini menempuh studinya di Fakultas Kedokteran Hewan IPB dengan beasiswa full dari Pemerintah Aceh. Allah Maha Kaya dan oleh karena itulah Allah tidak pernah celit kepada hamba-Nya, uang masuk pertama ke IAIN Ar-raniry tepatnya di Fakultas Syari’ah jurusan Pidana dan Politik Islam mampu kubayar. Uang saku yang diberi Pemerintah Aceh Tenggara ketika aku mewakili kabupaten tempat aku tinggal ini dalam ajang MTQ di Takengon tidak sia-sia walau ini adalah yang ke sekian kalinya aku tidak meraih juara di tingkat Provinsi Aceh. Yang pasti aku kini sudah belajar dan sedang dalam proses belajar agar cita-cita yang kuidamkan-idamkan bisa kuraih walau air mata menjadi darah, aku tidak akan menyerah. Inilah niat dan tekadku, dan sudah menjadi kebiasaanku untuk tidak mundur dari keputusan bulat yang telah kutentukan.

Tentu saja tidak sampai disini, sebulan aku hidup di Banda Aceh, uang kiriman perbulan sudah mogok, orang tuaku lagi-lagi ditimpa musibah, musibah seakan tertawa melihat derita yang kami alami. Dan aku justru sangat geli melihat tawa bodohnya yang mengira kalau aku akan menyerah, itulah syaithan yang selalu menggoda manusia yang dipicu dari perdebatan sengit antara Sang Pencipta dengannya ketika proses disuruhnya semua makhluk sujud pada Adam (al-Baqarah: 34).

Kini aku harus bekerja, dan langsung saja ku terima tawaran teman (Apa Cut) ku yang mengajakku untuk menjual jus di belakang Fisip Unsyiah. Awalnya grogi, lama kelamaan terbiasa, kata-kata itu yang kuingat darinya dan kujadikan motivasi hidup dan bekerja. Melihat prospek yang kecil, sepertinya hasil dari menjual jus tidak seimbang dengan kebutuhan, kulamar pekerjaan sebagai guru ngaji di TPA Al-Badar Lampineung dan aku diterima. Itu juga tidak cukup, karena waktu yang hanya 1 jam setengah per harinya yang berarti perbulan gajiku lebih banyak ketika menjual jus. Tapi kujalani sambil terus mencari pekerjaan yang lain. Akhirnya kerja itu kudapat juga, dan aku terus bisa kuliah dengan IP yang memuaskan, niat dan tekad itu penting bahkan lebih penting dari seorang kekasih.

“Bar, tolonglah cariin aku kerja.” pinta temanku dengan wajah begonya, “Hahaha, ko kira aku siapa?” tawaku padanya. Sambil meninggalkannya, aku terus tersenyum, seorang Office Boy ternyata masih dicinta dan dibutuhkan oleh teman-temannya. Aku berjalan tidak peduli suasana, terserah kata mereka, yang penting aku sekarang sudah bekerja, walau mereka lebih kaya, tapi itu kekayaan orang tuanya. Sementara aku sudah punya penghasilan walau harus menyapu di kantor tempatku sekarang bekerja. Niat dan tekad, mengahancurkan segala penghambat, walau musibah itu kian berat, bukankah Tuhan pernah menyurat “Lā yukallifullāhu nafsan illa wus‘ahā”. Tidak sia-sia ilmu yang kudapat dari Ma'had Bustanul Ulum, pemahamanku tentang Islamlah yang menambah semangat hidup ini.




Komentar

Posting Komentar

Kalau sudah baca, mohon dikomentari ya. Terima kasih.