Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

MEMBENTUK POLA PIKIR

Pola pikir harus dibentuk sedemikian rupa, hingga ilmu yang ada akan terarah pada jalurnya. Banyak orang yang menghiraukannya sampai pemikirannya sangat berbelit-belit dan melilit. Independensi diri sangat menentukan perkembangan kecerdasan. Seperti halnya subjektivitas yang akan menyempitkan ruang gerak otak yang perlu kebebasan

Inilah realtia yang terjadi baik di kalangan Pelajar maupun Pengajar itu sendiri, yaitu pola piker yang tidak terbentuk sama sekali membuat Pelajar maupun Pengajar sering ngaur dalam proses pembelajaran. Sering hal ini dihiraukan, sehingga dalam ujian kesulitan memahami teks soal saja membutuhkan waktu rentang yang lama, lembaran jawaban belum terisi dalam waktu setengah jam lantaran soal saja belum mampu di pahamai. Di sinilah letak pentingnya pembentukan pola piker hingga sesuatu itu mudah dan tergambar dalam pikiran kita. Bagaimana caranya? Pertanyaan ini tentu muncul dalam benak kita, yang mau tidak mau saya terpaksa menjelasknnya semampu saya.

Dalam perkuliahan, saya sering di tantang dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar, tentu ilmu yang ada akan memudahkan saya dalam menjawabnya. Nah begitupun sebaliknya, kebanyakan rekan bahkan ada sebagian dosen yang ketika saya lontarkan pertanyaan tidak mampu menguraikannya dengan jelas sesuia dengan maksud pertanyaan saya. Ada apa dengan mereka, terutama Dosen saya sendiri? Bila dikaitkan dengan ilmu yang ada tentu dibanding syaa ilmu mereka jauh lebih memadai. Lagi-lagi pola pikir menjadi titik rumitnya, permasalahan yang mudah akan terasa sangat berat lantaran pola yang tidak tepat. Nah apakah saya sudah berpola? Tidak juga, saaya juga sering mengambang di awing-awang, namun permasalahannya bukan karena pola, tetapi karena ketidaktahuan saya yang kurang membaca menjadi factor penyebabnya.

Ada sedikit tawaran dari saya, sesuai dengan ilmu yang saya punya, membentuk pola piker manusia itu sangatlah mudah. Karena secara ototmatis sebenarnya pemikiran akan berjalan sesuai dengan bergulirnya usia, dari kekanak-kanakan menjadi remaja hingga berpikir dewasa nantinya. Namun kedewasaan itu terkadang sangat lambat datangnya, sementara usia semakin cepat mengejar tua. Agar memudahkan pembaca dan juga saya sebagai penulis sendiri, mari kita tela’ah sedikit solusi dari apa yang saya pikirkan.

Sebenarnya secara sadar maupun tidak pola itu sudah kita bentuk, namun sikap apatis malah sering mengahantar kita pada keterlambatan informasi yang kini semakin pesat. Dalam membuat makalah misalnya, kita memulainya dengan pendahuluan yang di dalamnya ada latar belakang, tujuan dan sebagainya. Saya tidak akan memaksakan kita harus membentunya sesuai dengan susunan kerangka makalah atau karya ilmiah lainnya. Lima w (when, why, who, what, where) dan sati h (how) sangat sudah tepat bagi saya, ya hanya dengan menguasai peetanyaan ini maka semua oilmu yang kita punya akan mengcover permasalahan layaknya makalah yang sudah rampung dan siap disajikan.



 Namun untuk langkah awal saya menempatkan kata “apa”, karena dengan mengetahui jawaban ini akan mendorong kita pada langkah berikutnya. Bukankah dalam setiap permasalahan definisi di urutkan pada bagian isi pertama? Misalnya saja, ada satu peristiwa pembunuhan yang di lakukan oleh pihak kedokteran dengan cara medis dan bagus (euthanasia). Tanpa mengetahui apa itu euthanasia mungkinkah kita bertanya siapa tanpa mempertanyakan apa yang terjadi sebelumnya? Nah dengan mengetahui apa objek permasalahan maka akan menggiring kita untuk terus bertanya dengan pertanyaan lanjuta. Misalnya siapa yang di euthanasia? Dimana? Kapan? Mengapa harus di euthanasia? Bagaimana dokter melakukannya? Pasifkah atau aktif karena kedua cara ini akan berbeda pula hukumnya.Setelah pembentukan pola itu, apakah cukup bagi kita untuk memahami permasalahan? Ya, sangat cukup, tapi dari segi pola yang mengarahkan kita agar tidak lari dari jalur permasalan. Berarti ada hal lain yang harus kita miliki demi kecerdasan berpikir? Tentu, salah satu adalah prinsip atau sifat kita dalam memberi penilaian. Karena pandangan objektif jauh lebih mempercepat kepintaran itu di banding dengan berpikir secara subjektif. Bukankah indepedensi diri sangat menentukan perkembangan kecerdasan, seperti halnya subjektivitas yang akan menyempitkan ruang gerak otak yang perlu kebebasan? Masih adakah hal lain yang harus kita milik? Tentu, namun dalam kesempatan kali ini saya hanya membatasi sampai disini, Karena bagi saya bila ini mampu teraplikasi tentulah nilai maksimal atau mendekati maksimal akan kita raih. Bahkan bisa jadi nilai standart yang di berikan dalam menguasai materi akan terkuasai oleh diri yang berpola dan independen dalam berpikir, tidak hanya itu, kita akan mampu melebihi standart yang di beri karena doktrin doktrin itu bukan lagi patokan kita melainkan kita akan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan kita dalam bersikap sebaggai orang yang bijak.

Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.