Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

IMAN

Iman merupakan permasalahan yang besar, apalagi dalam ilmu kalam yang menjadikan iman sebagai prioritas kajian dalam menggapai tujuan yaitu taqwa kepada Allah yang Esa. Namun konsep mengenai iman itu sendiri tidak mendapat kesepakatan dari setiap golongan atau aliran aliran theologi Islam. Ketidak sepahaman ini tentu memiliki alasan alasan yang kuat dari tiap tiap yang berargumen. Pada dasarnya konsep iman ini sejalan karena tidak ada yang saling mencari kepentingan didalamnya. Berawal dari pergolakan masalah politis, yaitu meninggalnya Rasul sebagai pemimpin atau presiden negara Islam ketika itu yang harus digantikan posisinya demi menjalankan dua tugas besar dan mendasar. Dua tugas itu meliputi hirasatu al-din (menjaga agama) dan siyasatu al-dunya (mengatur dunia).
Mengapa saya katakan pergolakan awal adalah masalah politis? Jelas bahwa dimana mana permasalahan yang paling mendasar sering terjadi karena ketidaksepahaman atau ketidaksepakatan satu sama yang lainnya yang mengakibatkan terjadinya perdebatan. Dalam perdebatan siapa yang akan menggantikan rasul dalam ilmu politik dikatakan sebagai lobi politik yang menentukan kebijakan besar dalam penerapan sistem kehidupan kedepan.
Pergolakan demi pergolakan terus terjadi dan para ahli mengatakan pergolakan besar terjadi pertama kali ketika kelompok 'Aisyah melawan kelompok 'Ali. Sementara perselisihan kecil sudah terjadi sebelumnya, nah dari sinilah awal mula perpecahan yang tidak diinginkan terjadi. Padahal secara konsep nabi sangat tepat ketika beliau tidak menentukan siapa penggantinya. Karena beliau menginginkan Islam harus disenangi oleh seluruh pemeluknya hingga Islam harus mengikuti sistem pemerintahan yang sangat populer saat ini yaitu demokrasi. Ada sedikit perbedaan antara demokrasi yang dimaksud dalam Islam dengan konsep barat. Namun dalam kajian kali ini masalah itu tidak kita angkat mengingat akan jauhnya pembicaraan nantinya dari topik awal.
Berbagai masalah terus bermunculan, sampai akhirnya mereka terpecah dalam beberapa golongan, yang dalam hadits dikatakan mereka terpecah dalam 73 golongan namun hasil penelitian dikatakan ummat Islam sekarang mencapai 200 golongan lebih. Apakah hadits nabi yang meramal masalah ini salah atau keliru? Perlu dikaji ulang sebelum kita mengambil kesimpulan yang nantinya akan menimbulkan penyesalan. Karena golongan berbeda tentu konsep mereka juga berbeda, karena bila sama mereka akan berada dalam satu golongan dan ini logikanya. Semula konsep iman yang diagungkan oleh ahlu as-sunnah tertumpu pada hati, hati menajdi penentu seseorang itu beriman atau tidak. Lamban laun konsep itu berganti dengan sendirinya, ntah karena konsep awal salah atau ada penyebab lainnya. Kita bandingkan dengan Mu'tazilah sebagai ayah dari ahlu-as-sunnah (tegur saya bila salah). Mu'tazilah lebih mengedepankan perbuatan sebagai patokan seseorang itu beriman atau tidak. Saya sangat setuju dengan ini, bagaimana dengan aliran yang kita emban sekarang? Ketika itu saya justru melihatnya mu'tazilahlah yang lebih benar bahkan hingga sekarang saya kagum dengan konsep konsep mereka. Bukan menyalahkan namun ini sebagai perbandingan kita, ahlu as-sunnah kini sudah tidak lagi pada pemikiran awal, kelompok ini kini sudah mengadopsi berbagai pemahaman yang dianggap benar. Maka dalam hal ini golongan ini tidak memiliki konsep apsti dan tindakan ini juga tidak salah. Justru dengan mempertahankan pemikiran (fanatik) membuat kita akan kaku dan mati dengan sendirinya karena orang tidak akan menerima kita karena zaman terus mengalami perubahan sementara pola pikir kita tetap sama. Kini iman dibagi menjadi tiga unsur penting yaitu:
1. Hati, kita harus yakin seyakin yakinnya dengan membenarkannya dalam hati
2. Ucapan, keyakinan itu harus kita ucap dengan lisan, bagaimana dengan yang bisu? tentu yang kedua ini masih perlu dipertanyakan, apakah harus atau sifatnya relativ?
3. Perbuatan, kita harus mengimplementasikannya dengan segenap anggota tubuh lewat amalan amalan shalih
Terlihat jelas bahwa tetap saja konsep ahlu as-sunnah masih mempertahankan konsep lamanya denagn menenmpatkan unsur yang diadopsi mendapat posisi terakhir. Bila dikaji lebih dalam maka mau tidak mau walupun kita mengatakan bahwa kita ahlu as-sunnah akan meninggalkan pemikiran yang kurang pro terhadap terjaminnya rahmat bagi seluruh alam. Mengapa demikian? Pernah tidak kita mempertanyakan mengapa Depag selalu menjadi lembaga yang menjadi sorotan dan mendapat gelar sebagai departemen paling korupsi di Indonesia? Apa kita tahu bahwa semuanya ini ada kaitannya dengan keyakinan? Saya dulu sering berbuat jahat dengan mempertimbangkan efek kedepannya. Namun ada satu keyakinan yang membuat saya tetap melakukan kejahatan itu yaitu ujung ujungnya saya akan masuk syurga juga. Demikianlah ahlu as-sunnah mengatakan atau berargument mengenai dosa besar apalagi dosa kecil. Kita kaitkan dengan tindak pidana yang efeknya sampai pada kemiskinan publik yaitu korupsi. Keyakinan mereka harus diubah dengan menggunakan pemikiran mu'tazilah atau tidak membawa aliran aliran dalam maslah ini, yaitu keimanan harus dipriorotaskan pada elemen ke-tiga yaitu 'amalu bi al-arkan. Implementasi perbuatan harus menjadi patokan pertama dalam menentukan seseorang itu beriman atau tidak, atau menentukan iman seseorang itu kuat atau lemah karena ahlu as-sunnah mengatakan bahwa iman seseorang kadang naik kadang turun, tentu berbeda dengan mu'tazilah. Kita sambung masalah ini dalam tulisan berikutnya.
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.