Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

DUA SEPEDA BUTUT


Oleh: Khairil Akbarr Ibn Syarif el-Induniesy
Darussalam kian panas, debu proyek pembangunan beberapa gedung kampus jantung rakyat Aceh ini berterbangan. Sebenarnya aku tak tahan dengan kondisi fisikku yang sangat lemah ini, tapi kondisi membuatku harus bertahan dalam derasnya badai kehidupan. Begitu bodoh pula aku menyalahkan Tuhan yang menciptakan takdir, aku justru diserang karena keluhan itu. “Tahu apa anda tentang takdir? Nabi saja tidak tahu kapan meninggalnya seseorang.” Pertanyaan itu akan menyerangku  bila aku harus mengeluh dengan keadaan. Tuhan telah menciptakan dua pilihan kepada kita, tergantung pada kita mau memilih yang mana. Tapi ingat, segala apa yang kita perbuat pasti ada pula pertanggungjawabannya.
“Mir mengapa berhenti?” Tanya temanku, sebut saja namanya Andre, seorang Mahasiswa yang tak kenal rasa lelah ini memotivasiku untuk merubah segala cara dan gaya hidupku yang agak sedikit berlebihan. “Ah enggak, aku cuma sedikit lelah Ndre.” Jawabku sedikit terengah yang ditambah hiruk pikuk Darussalam sekarang ini. “Ayolah, kita telat nanti, belum lagi nanti kita mati matian dayung sepeda pada tanjakan titi Lamnyoeng.” Keluh Andre yang tidak ingin telat datang ke kampus. Sebenarnya kampus kami di Darussalam, tapi karena kini dalam tahab renovasi yang janjinya sekitar bulan 12 tahun ini selesai, ya kami tak bisa menolak keputusan Rektor yang memindahkan kami ke kampus yang lumayan sih, tapi jaraknya dari kosanku sangat jauh, setengah jam perjalanan dengan menggunakan sepeda.
Perjalanan yang melelahkan, karena kami masuknya siang hari, mau mandi sebersih apapun kami harus mandi lagi sesampainya dikampus. Tapi itu tidak pernah kami lakukan, kami lebih mau memilih kursi depan agar angin mengeringkan keringat di badan. “Mau ngapain kalian?” Tanya Dosen yang sudah setengah jam mengajar dan kami tau maksudnya. Kami keluar ruangan lalu mencari kursi yang nganngur didepan ruangan, hitung hitung menghilangkan lelah pikir kami. Dosen yang satu ini terkenal dengan kedisiplinannya, jadi apapun alasan itu beliau tidak bakal menerimanya. Karena itu pula kami tidak berkomentar saat dilontarkan pertanyaan yang bermakna larangan untuk masuk dan mengikuti kuliah pada hari itu. Belum juga lelah hilang kami harus memikul beban pikiran, apa kata orang tua kami jika tahu kami tidak masuk kuliah. Bisa bisa kami disuruh pulang, Andre ke Aceh Singkil sementara aku ke Aceh tenggara. Aku tidak tahu jadi apa Andre nantinya bila tidak bisa kuliah, sementara nasibku sudah barang pasti disuruh cari upahan agar menghasilkan uang.  “Mir.” Andre memulai pembicaraan, “Iya Ndre.” Jawabku. “Sia sia kita datang ya, akhirnya terlambat juga.” Andre menyesal. Ini dia kesempatanku yang tak boleh hilang setelah Andre beberapa kali menolongku saat aku sedang gundah.
Beginilah kami yang  saling tolong menolong satu sama lain, susah bersama, senang juga bersama. Ku ajak Andre ke perpustakaan, mana tahu ada buku yang asyik dibaca, benar saja, Andre terlihat asyik mencicipi buku asas asas hukum pidana karangan Moeljatno. Kayaknya tekadnya untuk menjadi seorang pengacara sangat kuat, tapi apa kepentingannya dalam hal ini? Masa bodoh, semua orang pergi kuliah pasti ujung ujungnya mencari kerja, menafkahi keluarga dan hidup bahagia. “Mir, apa kau tahu mengapa aku ingin jadi pengacara?” Tanya Andre seolah tahu akan keherananku. “Nggak, emang kenapa Ndre?” Tanyaku balik. “Kau tahu daerah kita merupakan daerah tertinggal diantara kabupaten/kota provinsi Aceh. Apa kau tidak pernah berfikir untuk memajukannya? Atau setidaknya membuatnya sama dengan kabupaten/kota lainnya” Andre berhenti sebentar, lalu “Itulah sebabnya aku harus giat belajar meski menggali tanah sepulang dari kuliah, aku sudah tidak tahan dengan pemerintah Aceh yang selalu mengedepankan daerah Timur Utara, yang padahal bila dikaji sejarah, Singkil seharusnya lebih maju disbanding mereka” Andre berhenti lagi. Ku pahami maksud pembicaraan Andre, memang begitulah faktanya. Pemerintah provinsi Aceh memang terlihat tidak adil dengan kabupaten yang masuk dalam wilayah ALA (Aceh Leuser Antara). Buktinya bisa dilihat dimana mana, dalam dunia pendidikan misalnya, Singkil maupun Kuta Cane jarang sekali memenangkan ajang perlombaan ini. Atau bila kita lihat kesejahteraan rakyat, Singkil dan Kuta Cane jelas sangat tertinggal dibanding dengan kabupaten/kota lainnya.
“Mir, kok bengong.” Andre menepis lamunanku, “Ah nggak kok Ndre, aku sedikit terharu saja” tangkisku berusaha mengelak dari tuduhannya tadi. “Aku pingin jadi seperti Abdurrauf as-Singkili, Hamzah al-Fansuri” ujar Andre. “Menghayal ya Ndre?” Tanya ku tak yakin dengan cita citanya. “Semua berawal dari mimpi” jawabnya balik. “Sepeda botot kita ini juga berawal dari mimpi, dan kita harus bemimpi menjadikannya sepeda motor, lalu menjadi mobil.” Sambung Andre. Dengan menjadi pengacara Andre akan lebih mudah dalam melakukan upaya pengadvokasian demi membela yang lemah, sungguh niat yang mulia. Padahal pemerintah Singkil sendiri tidak begitu peduli dengan keadaannya, tidak hanya dia, aku juga bernasib sama. Ya hanya saja aku tidak bisa kerja keras sepertinya karena fisikku memang lemah, tapi aku punya kerja lain, jual jus misalnya. Selain itu aku juga menerima ketikan makalah teman, ya lumayanlah satu makalah aku dapat upah dua puluh ribuan gitu.
Siang menjelang sore ini kami juga belajar di LDC atau sebuah lembaga bahasa dikampus IAIN, yang juga berarti kami harus balik ke Darussalam pukul 3.00 WIB. Lelah tadi juga belum hilang tapi kami harus mendayung lagi sepeda kami yang terlihat sedikit butut, ya kalau dijual palingan jual kiloanlah. Aku dan Andre akhirnya memutuskan untuk pergi ke LDC setelah setengah jam dalam gudang buku, teman teman juga sudah keluar dari ruang. Waktu Cuma berkisar 15 menit lagi dari STIES (Lamgugop) ke Darusslam menggunakan sepeda. Siang yang sangat melelahkan, andai sepeda ini bisa bicara dia akan mencaci maki aku karena memaksanya terus berjalan walau aku juga capek mendayungnya.
Akhirnya tiba juga, “Andre, sepedamu disamping sepedaku saja parkirnya.” Pintaku. “Belagak kau Mir, semacam mau parkir mobil saja, dimanapun jadilah.” Balasnya menolak. “Ya sudah, yuk masuk, teman teman sudah pada masuk semuanya, kita selalu terlambat ya?” ajakku sambil bertanya dengan intonasi mengeluh. “Sudah, kita mesti shabar Mir.” Andre mencoba menenangkanku. Hari ini kami belajar tentang paralism, yaitu kalimat yang parallel, lebih kurangnya kami harus bisa mengubah yang sebelumnya tidak parallel menjadi parallel. Satu jam berakhir, dosen belum juga pulang, teman dibelakangku sudah gelisah sementara Andre focus memperhatikan penjelasan dosen. Salut buat Andre, aku harus bisa sepertinya tekadku dalam hati.
“Mana sepedaku? Mana sepedaku?” Tanya Andre gelisah yang disaksikan oleh banyak mahasiswa. Jelas saja, aku juga ikut kecarian, sepeda kami hilang, lalu tiba tiba “Mir, Andre, sepeda kalian dicampak ke semak semak, itu coba lihat” perintah seorang temanku. Kami tersangak oleh tingkah laku orang yang mencampak sepeda butut kami ini. “Kurang ajar, siapa yang mencampak sepeda kami?” Tanyaku pada sipemberi informasi. “Kalau tidak salah bapak Dekan, aku gak tahu dekan fakultas apa, itu mobilnya” jawab temanku ini sambil menunjuk mobil orang yang tidak berhati ini. Sepeda kami dicampak dengan alasan kami sudah mengambil areal parkir mobilnya, tidak beralasan bagiku. Secara hukum tidak ada penjelasan sama sekali bahwa parkiran itu khusus buat roda empat. Ini pasti karena cuaca yang panas hingga sore ini makanya Dekan yang tidak berhati ini mencampak sepeda kami karena ia takut cat mobilnya rusak terkena panas, sudah kayak ok pelit ya?
Malang nian nasib dua sepeda butut ini, ia ku tumpangi tapi aku tak memberi tuntutan kepada orang yang kasar padanya. Hatiku cuma berkata “Dasar orang tidak punya hati, dia kira mobilnya itu yang membuat dirinya lebih mulia.” Aku sedih dan hampir saja menagis dengan kejadian itu, lalu dengan wajah yang tenang Andre menepuk pundakku seraya “Sudah lah Mir, walaupun begini sepeda ini juga sudah pernah parkir diparkiran kantor Gubernur, iyakan?” Andre mengambil sepedanya yang sudah tertidur ditanah dan aku mengikutinya. Kami pulang, teman teman hanya menyaksikan tragedi penghinaan ini, sepeda butut yang tidak bersalah harus menanggung derita dua anak kampung yang mengadu nasib di kota Banda.
Dayungan sepeda kami seolah menginspirasiku untuk bernyanyi diatasnya, musik alam itu sangat menggugah hatiku yang tadi sempat panas. Sepintas aku dapat lirik lagu yang cocok untuk saat ini dan aku bernyanyi:
“Berakit rakit kita kehulu, berenang renang ke tengah, bersakit sakit kita dahulu, bersenang senang tidak pernah.” Sepontan Andre tertawa, aku juga, lalu ku ulang ulang lagu itu seraya mengencangkan laju sepedaku. “Sepeda bututku, kau tidak akan ku ganti dengan Jazz yang tadi menghinamu.” Ujarku dalam hati.
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.