Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

DOLUS


BAB I
KESENGAJAAN (DOLUS)
Oleh: Khairil Akbar
  1. PENGERTIAN
Dalam pergaulan hidup di masyarakat sehari-hari, sering seseorang melanggar peraturan yang mengakibatkan suatu kerusakan. Untuk menghindarkan dirinya dari celaan masyarakat, hampir selalu dikatakannya “tidak saya sengaja.” Dan biasanya, apabila kerusakan itu tidak begitu berarti, perbuatan yang tidak dengan sengaja itu dimaafkan oleh pihak yang menderita kerugian; tidak dikenakan hukuman apapun. Kesengajaan harus mengenai ketiga unsur dari tindak pidana, yaitu satu, perbuatan yang dilarang. Kedua, akibat yang menjadi pokok alasan diadakan larangan itu, dan ketiga bahwa perbuatan itu melanggar hukum. Hal yang dimaksud kesengajaan ada tiga macam. Yang pertama, kesengajaan yang bersifat suatu tujuan untuk mencapai sesuatu. Kedua, kesengajaan yang bukan mengandung suatu tujuan, melainkan disertai keinsafan, bahwa suatu akibat pasti akan terjadi. Ketiga, kesengajaan yang disertai keinsafan hanya ada kemungkinan, bahwa suatu akibat akan terjadi (atau kesengajaan secara keinsafan kemungkinan)[1]. Untuk lebih terarahnya, kami akan mencoba menyajikan beberapa pengertian mengenai kesengajaan (dolus) berikut ini.
Ditinjau dari segi bahasa, kesengajan merupakan suatu tindakan yang dilakukan atas dasar niat (adanya kehendak) dan tahu akan perbuatan tersebut termasuk tahu efek dari tindakan tersebut. Namun tentang apakah arti kesengajaan, tidak ada keterangan sama sekali dalam KUHP. Lain dengan KUHP Swiss dimana dalam pasal 18 dengan tegas ditentukan : Barangsiapa melakukan perbuatan dengan mengetahui dan menghendakinya, maka dia melakukan perbuatan itu dengan sengaja[2]. Dan ini sesuai dengan pengertian kesengajaan yang kami utarakan diatas.
Kesengajaan adalah merupakan bagian dari kesalahan (schuld). Kesengajaan pelaku mempunyai hubungan kejiwaan yang lebih erat terhadap suatu tindakan (terlarang/ keharusan) dibanding dengan culpa. Karnanya ancaman pidana pada suatu delik jauh lebih berat, apabila dengan kealpaan. Bahkan ada beberapa tindakan tertentu, jika dilakukan dengan kealpaan, tidak merupakan tindakan pidana, yang pada hal jika dilakukan dengan sengaja, ia merupakan suatu kejahatan seperti misalnya penggelapan (pasal 372 KUHP). Merusak barang-barang ( pasal 406 KUHP ) dan lain sebagainya[3]. Soalnya sekarang ialah, apakah arti dikehendaki dan diketahui itu ? Dalam teori tentang hal ini ada dua aliran, yaitu :
1.      Teori kehendak (wilstheorie) yaitu yang paling tua dan pada masa timbulnya teori yang lain mendapat pembelaan kuat dari von Hippel guru besar di Gottingen, Jerman. Di negeri Belanda antara lain dianut oleh Simons.
2.      Teori pengetahuan (voorstellingstheore) yang kira kira tahun 1910 diajarkan oleh Frank, guru besar di Tubingen, Jerman, dan mendapat sokongan kuat dari von listiz. Di negeri Belanda penganutnya antara lain adalah von Hamel[4].
Menurut teori kehendak kesengajaan ialah kehendak yang yang diarahkan pada terwujudnya perbuatan. Sedangkan menurut yang lain kesengajaan adalah kehendak untuk berbuat dengan mengetahuiu unsur unsur yang diperlukan menurut rumusan wet[5].
Kesemua defenisi ini, dalam Memorie van Toelicting Swb. ada pula : “Pidana pada umumnya hendaknya dijatuhkan hanya pada barangsiapa melakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui[6].
Dalam kebanyakan rumusan tindak pidana, unsur kesengajaan atau yang disebut dengan opzet merupakan salah satu unsur yang terpenting. Dalam kaitannya dengan unsur kesengajaan ini, maka apabila didalam suatu rumusan tindak pidana terdapat perbuatan dengan sengaja atau biasa disebut dengan opzettelijk, maka unsur dengan sengaja ini menguasai atau meliputi semua unsur lain yang ditempatkan dibelakangnya dan harus dibuktikan.
Sengaja berarti juga adanya ‘kehendak yang disadari yang ditujukan untuk melakukan kejahatan tertentu’. Maka berkaitan dengan pembuktian bahwa perbuatan yang dilakukannya itu dilakukan dengan sengaja, terkandung pengertian ‘menghendaki dan mengetahui’ atau biasa disebut dengan ‘willens en wetens’. Yang dimaksudkan disini adalah seseorang yang
melakukan suatu perbuatan dengan sengaja itu haruslah memenuhi rumusan willens atau haruslah ‘menghendaki apa yang ia perbuat’ dan memenuhi unsur wettens atau haruslah ‘mengetahui akibat dari apa yang ia perbuat’[7].
Bentuk kesengajaan (dolus) yang disaratkan oleh pasal 56 KUHP, tidaklah dapat disimpulkan dari keharusan tertuduh untuk menduga atau mencurigai bahwa akan dilakukannya delik yang dituduhkan, yang lebih berbentuk kealpaan (culpa). Ini juga menjerumus dari apa yang dimaksudkan pasal 18 KUHP Swis, Kesengajaan (dolus) dalam doktrin hukum pidana, dikenal ada tiga bentuk kesengajaan yaitu :
a. kesengajaan sebagai maksud atau tujuan (opzet als oogmerk)
b. kesengajaan sebagai kepastian (opzet bij zekerheidsbewustzijn)
c. kesengajaan sebagai kemungkinan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn) disebut juga dengan dolus eventualis[8].
Ulasan-ulasan mengenai kesengajaan ( opset) dapat dilakukan dari berbaagai sudut atau pandangan. Dengan demikian dalam uraian-uraian pada nomor-nomor berikutnya akan diutarakan dari berbagai sudut, yaitu dari sudut memori penjelasan dan dari sudut terbentuknya.

A.1. Kesengajaan (opset) menurut memori penjelasan
Menurut memori penjelasan ( memorie van Toelichting), yang dimaksudkan dengen kesengajaan adalah “menghendaki dan menginsyafi” terjadinya suatu tindakan beserta akibatnya, ( willens en wetens veroorzaken vaneen gevolg). Artinya, seseorang yang melakukan suatu tindakan dengan sengaja, harus menghendaki serta menginsafi tindakan tersebut dan/atau akibatnya. Dari seseorang yang melakukan suatu tindakan karena ia dipaksa (ditodong), tidak dapat dikatakan bahwa ia melakukan perbuatan itu karena kehendakanya sendiri. Demikian pula seseorang yang gila yang lari dengan telanjang di muka umum, atau seseorang anak yang mempertunjukan gambar-gambar porno, tidak dapat dikatakan bahwa ia  menghandaki dan menginsyafi perbuatan merusak kesulitan di muka umum.
A.2. Kesengajaan (opset) dari sudut terbentuknya
Manusia yang sehat mempunyai bermacam keinginan. Adakalanya keinginan itu menjurus kepada tindakan yang  dilarang dan diancam dengan pidana oleh perundang-undang. Misalnya untuk memiliki sebuah benda berharga yang dibutuhkan, tetapi ia tidak sanggup untuk membelinya. Bilamana ia sangat bernafsu memiliki benda tersebut, pada suatu ketika dapat terjadi bahwa ia akan melakukan tindakan apapun, demi untuk memiliki benda tersebut, kendati dilarang oleh perundang-undangan. Nafsu untuk benda tersebut adalah merupakan perangsang atau motif dari kelakuanya selajutnya. Jika ia selajutnya merencanakan cara-cara yang akan dilakukannya untuk memiliki benda tersebut, maka padanya telah ada kehendak. Untuk terjadinnya suatu tindak pidana, maka kemudian ia melaksanakan tindakan yang dikehendakinya itu. Singkatnya, dalam rangka mewujudkan kehendak itu, ada tiga tingkatan/stadia yang dilaluinya yaitu:
a.      Adanya perangsang
b.      Adanya kehendak
c.      Adanya tindakan
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan bahwa kesengajaan (opset) adalah suatu kehendak (keinginan) untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu. Dengan perkataan lain kesengajaan itu ditunjukan terhadap suatu tindakan. Jelas bahwa proses kejiwaan yang mendahului pengembailan ketetapan untuk melakukan tindakn yang terlarang, memainkan peranan yang penting. Penyebab dari proses itu adalah motif dari pelaku, walaupun untuk tindakan pidana, motif itu tidak mempunyai kepentingan. Hanya dlam hal pemidanaanya persoalan motif mempunyai kepentingan. Sehubungan dengan motif ini, dibentuklah alam pemikiran atau gagasan untuk memenuhi nafsu tersebut. Setelah mengambil ketetapan maka proses kejiwaan itu telah selesai. Kemudian diikuti oleh tingkah laku untuk mewujudkan kehendak tersebut, dari tingkah laku mana dengan sengaja atau tidak. Karenanya dalam banyak hal, kesengajaan itu dapat disimpulkan dari sikap pelaku, sebelum, selama, dan/atau setelah tingkah laku/ tindakan yang terlarang itu.
Sehubungan dengan pembukitan kesengajaan (opset), memang kita terbentur pada kesulitan-kesulitan, terutama bilamana pelakunya memungkirinya, bahakan sering tidak dapat dibuktikan. Seiring dalam usaha yang telah terjadi. Dengan perkataan lain pembuktian mengenai adanya kesengajaan, seiring dinilai dari perbuatn-perbuatan yang telah dilakukan oleh pelaku beserta akibat-akibatnya[9].

      B. CORAK KESENGAJAAN
  • Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) untuk mencapai suatu tujuan (yang dekat); dolus directus
  • Kesengajaan dengan sadar kepastian (opzet met zekerheidsbewuszijn atau noodzakelijkheidbewustzijn)
  • Kesengajaan dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis atau voorwaardelijk opzet).
Untuk memudahkan pemahaman kita pada Kesengajaan ( opset/ dolus ) saya memiliki contoh tindakannya, seperti:
A.    A menghendaki matinya B dengan kekuatan tanganya sendiri. A mencekik leher B dan B mati.
B.     D mengarahkan bedilnya kepada kelompok manusia, yang dia anggap sebagai lawan-lawannya. Tanpa mengunakan alat bidik, ditembakannya dan menghendaki matinya salah seseorang dari mereka itu. Jadi sembarang saja, siapa saja pokoknya ada yang mati.
C.     X melempar bom ke dalam gedung bioskop (theatre) yang penuh sesak dengan penonton. Matinya beberapa orang yang ditimbulkan pecahan-pecahan bom itulah yang di kehendaki X[10].
Bila dilihat dari bentuknya maka dolus juga bisa dibagi menjadi dua bentuk:
  1. Dolus directus (niat langsung) hadir ketika tindakan tertentu atau hasil yang dimaksudkan. Sebagai contoh, jika A poin dan kebakaran revolver di B, musuh, ia dikatakan telah directus dolus mengenai kematian B.
  2. Dolus eventualis (niat tidak langsung) ada saat kemungkinan konsekuensi tertentu atau keadaan yang diramalkan, tetapi ada ceroboh mengabaikan, apakah itu terjadi kemudian atau tidak. Sebagai contoh, jika A drive di sisi jalan yang salah di sebuah jalan sibuk mengetahui bahwa ia mungkin berbenturan dengan lalu lintas lainnya, tetapi tidak peduli apakah dia atau tidak. Atau, jika B kebakaran revolver ke dalam kegelapan di malam hari hanya untuk kesenangan, baik mungkin bahwa ia tidak bermaksud membunuh siapa pun. Namun, jika ia meramalkan seseorang yang mungkin akan dibunuh jika ia menarik pelatuk, ia mungkin telah eventualis dolus jika seseorang tidak mati.
    Dalam kedua bentuk niat orang tahu bahwa tindakan - atau consequen-ces tindakan - salah.
Aesop, Fables 530 (dari Phaedrus Lampiran 5) (trans. Gibbs) (Yunani fabel C6th SM):
"Prometheus, bahwa potter yang memberi bentuk ke generasi baru kami, memutuskan satu hari untuk mengukir bentuk Veritas [Aletheia] (Kebenaran), menggunakan semua keahliannya sehingga ia akan dapat mengatur perilaku orang. Saat ia sedang bekerja, sebuah panggilan tak terduga dari besar Jupiter [Zeus] disebut dia pergi. Prometheus kiri dolus licik (Tipuan) yang membawahi bengkel, dolus baru-baru ini menjadi salah satu murid sang dewa. Dipecat oleh ambisi, dolus (Tipuan) digunakan waktu di pembuangan untuk fashion dengan jari licik nya seorang tokoh dengan ukuran yang sama dan tampilan seperti Veritas [Aletheia] (Kebenaran) dengan fitur identik Ketika ia hampir selesai lembaran, yang benar-benar luar biasa, ia berlari dari tanah liat digunakan untuk kakinya. The master kembali, sehingga dolus (Tipuan) dengan cepat duduk di kursinya, gemetar ketakutan Prometheus kagum pada kesamaan dari dua patung dan ingin untuk tampak seolah-olah semua kredit adalah karena keahlian sendiri.. Karena itu, ia meletakkan baik patung di kiln dan ketika mereka telah benar-benar dipanggang, ia diresapi mereka berdua dengan kehidupan: suci Veritas (Kebenaran) berjalan dengan langkah-langkah terukur, sedangkan kembar yang belum selesai dia berdiri terjebak di trek nya itu pemalsuan, bahwa produk dari dalih, sehingga diperoleh. nama Mendacium Pseudologos (Kebohongan), dan aku langsung setuju dengan orang-orang yang mengatakan bahwa dia tidak punya kaki: setiap sekali dalam sesuatu sementara yang palsu bisa mulai sukses, namun dengan waktu Veritas (Kebenaran) ini yakin akan menang . "
BAB II
PENUTUP

  1. KESIMPULAN
ü  Kesengajaan (opset) adalah suatu kehendak (keinginan) untuk melaksanakan suatu tindakan yang didorong oleh pemenuhan nafsu. Dengan perkataan lain kesengajaan itu ditunjukan terhadap suatu tindakan.
ü  KUHP Swiss dimana dalam pasal 18 dengan tegas ditentukan : Barangsiapa melakukan perbuatan dengan mengetahui dan menghendakinya, maka dia melakukan perbuatan itu dengan sengaja.
ü  Kesengajaan (dolus) dalam doktrin hukum pidana, dikenal ada tiga bentuk kesengajaan yaitu: a. kesengajaan sebagai maksud atau tujuan (opzet als oogmerk), b. kesengajaan sebagai kepastian (opzet bij zekerheidsbewustzijn), c. kesengajaan sebagai kemungkinan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn) disebut juga dengan dolus eventualis
ü  Bila dilihat dari bentuknya maka dolus terbagi dua:
1.      Dolus directus (niat langsung) hadir ketika tindakan tertentu atau hasil yang dimaksudkan
2.      Dolus eventualis (niat tidak langsung) ada saat kemungkinan konsekuensi tertentu atau keadaan yang diramalkan, tetapi ada ceroboh mengabaikan, apakah itu terjadi kemudian atau tidak
B. SARAN
            Demi sempurnanya makalah ini maka kami sangat membutuhkan kritik maupun saran yang bersifat membangun agar pembelajaran ini tidak sia sia dan berguna natinya dalam kehidupan khususnya dalam tahapan kuliah kami kedepan. Demikianlah makalah ini kami perbuat sebagai penutup kami ucapkan wassalamu’alaikum wa rahmatuLlahi wa barakatuHu.
Pemakalah :
Banda Aceh 15 januari 2011
DAFTAR PUSTAKA
Chazawi, Adami, Pelajaran Hukum Pidana Bagian Tiga, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002
Tongat, Hukum Pidana Materil, Jakarta: Djambatan, 2003
Moeljatno, Asas Asas Hukum Pidana, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002





[1]http://panglimaw1.blogspot.com/2010/12/geen-straf-zonder-schuld-dalam-arti.html
[2] Moeljatno, (Asas Asas Hukum Pidana, 2002), ­hlm 171
[3] http://sitharesmi.multiply.com/journal/item/14
[4] Moeljatno, (Asas Asas Hukum Pidana, 2002), ­hlm 171
[5]Ibid
[6] Moeljatno, (Asas Asas Hukum Pidana, 2002), ­hlm 171
[7] http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/message/22312
[8] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18160/4/Chapter%20I.pdf
[9] http://sitharesmi.multiply.com/journal/item/14
[10]Ibid
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.