Langsung ke konten utama

ACEH, ALAS DAN GAYO

ALA menurut saya adalah gerakan politik masyarakat yang didasari oleh ketidak adilan pemerintah Provinsi terhadap kabupaten yang tergolong ketinggalan ini, ya kabupaten yang menggolongkan diri dalam gobrakan ingin dilakukannya pemekaran Provinsi baru yang dinamai dengan Aceh Leuser Antara. Di Kuta Cane misalnya, berbagai aksi sudah banyak dilakukan bahkan sampai pada tataran seni ikut melakukan advokasinya dengan menampilkan lagu lagu yang beraroma dukungan terhadap derakan ini. Sebagai contoh adalah Bines (tarian gayo) yang dibawakan oleh benen-benen (wanita) suku Gayo. Sangat menarik ketika kita melihat langsung aksi itu, namun ketika itu saya lebih condong melihat gerakan yang dilakoni lewat seni ini telah dipolitisasi. Betapa tidak, eks-Bupati Armen Desky hadir ketika itu yang bila orang cerdas menanggapinya ini adalah kampanye dirinya yang bila terbentuknya Provinsi ALA ini beliau akan mencalonkan diri sebagai Gubernurnya. Keserakahan itu malah mambawanya ke Penjara karena terlibat kasus korupsi, baimana ketika beliau jadi Gubernur? Moral anak bangsa tentu terancam bila rezim kekuasaan seperti ini terus bertahan.


Disisi lain, budaya dan lingkungan juga mempengaruhi hal ini, Alas dan Gayo memiliki banyak kesamaan. Secara geografis misalnya, penduduk Alas dan gayo berada didataran tinggi alias pegunungan dan mereka kebanyakannya berada dalam satu komunitas namu berbeda suku. Di Kuta Cane bahkan ada singkatan yang memberi kesan bahwa Alas dan Gayo ini memang saudara karib (terserah bagaimana bahasanya) yaitu dengan adanya satu nama yang disingkat dan sangat populer yaitu Alga (Alas Gayo). sementara perpaduan antara Aceh dan Gayo atau Alas dan Aceh masih diragukan akan kekompakan suku ini.


Kembali pada permasalahan awal, dengan sangat berbeda Alas, Gayo dengan satu suku besar di Aceh (nama provinsi) yaitu suku Aceh. Jelaslah bahwa kehidupan mereka juga tentu akan sulit menemukan satu kesepakatan. Lihat saja realita yang ada, Apakah Pemerintah provinsi pernah meletakkan perhatian lebih terhadap dua daerah terbelakang ini? Jangankan bersikap lebih untuk sama saja mereka enggan melakukannya. Sifat kesukuan sulit dihilangkan. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa unsur politis sangat mendominasi faktor perpecahan ini.


Saya sendiri yang tidak berada dalam salah satu kubu yang ketika itu terjadi sedikit perselisihan, melihat bahwa keluhan masyarakat Alas dan Gayo (terlepas dari unsur politis) adalah keluhan yang wajar dan logis. Pemikiran realisitis tentu mendukung statman saya diatas, namun bila sedikit apatis bagaimana kita menemukan fenomena sebenarnya? Langsung bicara tanpa dasar kita malah akan mudah dipatahkan walah lidah bersilat setajam silet.


Apa ada solusi dari masalah ini? Tentu ada, Kembalikan semangat religius mereka dengan iming iming bahwa kita saudara, tentuk sebagai ummat Islam mereka akan menerimanya. Tapi ingat bila kecurangn itu dilakukan lagi jangan harap kepercayaan datang setelah kebohongan. Saudara ku sekalian, bila melihat dengan jernih, kita tentu akan sedih bila kesolidan kita terpecah hanya karena kepentingan segelintir orang. Disini  kita perlu mempertimbangkan dengan matang keputusan yang akan kita ambil. Sama ketika GAM memperjuangkan Aceh dulunya, hingga mata ummat Islam Aceh hampir buta dengan menghardik siapa saja yang bersuku Jawa. Aku berlindung dari kekejian ini.

Aceh, Alas dan Gayo adalah suku yang berbeda namun bukan untuk dibeda bedakan, satu sama lain saling memberi dukungan bukan saling mengahancurkan. Lihatlah sejarah, hingga kita ingat bahwa dulu Aceh, Alas dan Gayo merupakan sekutu yang membela nilai nilai persatuan hingga kita tidak terjatuhkan. Lihat pula masa depan, hingga kita juga tidak bercerai demi cucu dan anak bangsa. Bagaikan lidi, sebelum diambil mereka kuat karena bersatu dengan pohon atau dahannya. Ketika diambil mereka lemah namun mereka berkumpul menjadi satu ikatan lalu mereka bersihkan sampah sampah kebiadaban.
Khairil Akbar Ibn Syarif el-Induniesy

Komentar