Langsung ke konten utama

Postingan

Dialog Cinta #2

Dia gadis berpendidikan. Sejak lulus SMA, dia memang tidak akan langsung menikah. Dia lelah dengan realita, baik dalam keluarga maupun masyarakat di desanya. Tapi bukan berarti dia anti sosial. Dia sadar betapa manusia bukan hewan ataupun dewa. Manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Pernyataan ini cukup masuk akal menurutnya. Diapun telah membuktikannya. Di rumah, sehari saja tidak ada orang, papa dan mamanya pergi ke luar kota misalnya, ia pasti akan menghubungi kawan atau tetangganya untuk kemudian memintanya menginap di rumah. Sempat berpikir menghubungi beberapa pria yang ditaksirnya di sekolah. Tapi, dia tidak mau diarak keliling kampung atau dicambuk di depan umum. Itu tentu membuat papa dan mamanya murka semurka-murkanya. Jangankan tidur serumah dengan pria, diantar pulang oleh seorang pria saja nyaris tidak pernah. Sekali ia dibonceng oleh pria, itupun tidak lain adalah sepupunya sendiri. Memang, pernah terlintas pula dipikirannya untuk memacari sepupunya itu. Tapi, me…
Postingan terbaru

Dialog Cinta #1

Setelah lama berteman, kau merasa cocok dan layak menjadi kekasihnya. Menurutmu, dia juga merasakan hal yang sama. Di pagi Minggu, tepat pukul 9.00 kau bertemu dia. Sebenarnya, itu adalah momen rutin kalian. Kau berniat melamarnya. Meski sering berdua, kau belum dan tidak berniat mengajaknya pacaran. Hubungan itu, katamu, jika bukan diikat oleh pertemanan dan persaudaraan, maka ia diikat oleh suatu pernikahan. Tidak ada kata pacaran. Pertemuan itu terjadi. Tapi, dia datang berdua. Pria yang bersamanya nyaris sama denganmu; ganteng, tinggi, sudah bekerja, dan rapi. Sedikit berbeda darimu adalah sisi kerapiannya yang agak formal dan kaku. "Hai!" sapa gadis yang kau kagumi kecerdasannya itu. Sambil mengambil kursi dari meja lain, gadis itu menyilakan pria yang diajaknya duduk, persis di sampingnya atau di depanmu. Jadilah dia, pria yang datang bersamanya, dan tentunya kamu di meja yang sesungguhnya hanya untuk berdua. "Aku suka pojok ini. Lagian, untuk sekadar ngopi, meja keci…

Serdadu Majene: Rina Anggraeni Safia

Sebelum memulai apapun tentangnya,terlebih dahulu aku minta maaf atas dua hal: 1. Keterlambatanku menulis tentang dirinya yang mungkin sudah basi di mata sebagian orang, 2. Terkait isi tulisan ini yang sedikit banyaknya mengandung banyak bully dan fitnah tentang dirinya. Tapi satu hal yang selalu kupastikan ada dalam tulisan ini, yaitu rasa cinta dan sayangku sebagai adik. Ya, terus terang, dia memang lebih tua dariku. Tidak mungkin aku menganggapnya adik, kan? Dialah yang sepantasnya menganggapku adik dan aku menganggapnya sebagai kakak. Mau tidak mau, yang lebih tua harus jadi kakak. Atau tinggal milih, mau jadi ibu, bibi, wawak, atau nenek?
Baiklah, sekarang akan kucerikatan tentang dirinya sejauh ingatanku. Perlu kusampaikan bahwa aku sangat pelupa. Bahkan besok hari apa, aku bisa lupa. Untungnya di HP selalu tertera hari dan tanggal. Kalau tidak, bisa kacau rencana hidupku. Bisa-bisa, ketika usiaku sudah tidak lagi muda, aku malah masih sibuk dengan dunia yang fana. Kenapa malah n…

Islam "Hatta" Pancasila

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah rentetan penolakan terhadap pendudukan yang dilakukan oleh Belanda dan Jepang. Belanda menjajah lebih lama sekalipun Jepang dikatakan lebih kejam. Perang demi perang telah menewaskan sekian banyak pejuang dan penjajah itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi dari perjuangan itu adalah semangat dan tokoh yang menggerakkannya. Tidak dapat dipungkiri di sini adalah Islam sebagai nafas perjuangan dan sosok Ulama atau sekurangnya pemimpin religius sebagai faktor yang menggalang kekuatan untuk mengusir penjajah kembali ke kampung halamannya. Beberapa tokoh yang masyhur di telinga kita adalah Tgk. Cik Ditiro, Panglima Polem, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Pangeran Diponegoro, Antasari, dan masih banyak tokoh-tokoh pahlawan kemerdekaan lainnya. Fakta sejarah ini akan sangat terang ketika kita berkaca kepada Aceh. Keistimewaan Aceh diberikan Indonesia tidak lain karena semangat juang masyarak…

Pa'bandangan: Sebuah Tradisi Masyarakat Mandar

Pa'bandangan manu-manuk (pemandangan burung-burung) merupakan tradisi Mandar yang diadakan biasanya 3 tahun sekali. Namun, kali ini pelaksanaan itu sudah sejak 2008 tidak pernah dilakukan lagi.

Pada tradisi ini, masyarakat yang memiliki asal usul yang sama (keturunan) berkumpul dan membuat sapo-sapo (rumah-rumah/gubuk) tempat bermalam, serta membawa hiasan burung yang diukir dari kayu. Pada jam tertentu mereka akan berkeliling beberapa putaran. Rute keliling mengikuti rumah-rumah yang mereka buat, berjejer dan melingkar.


Tidak terlalu jelas informasi yang saya dapat. Yang terkumpul dari hasil bertanya, mereka menyebut bahwa kegiatan bertujuan untuk menolak bala. Bala yang mereka maksud adalah banjir besar yang dulu pernah terjadi di daerah mereka. Kurang lebih begitu katanya. 

Mengapa harus hiasan burung? Nah, ketika itu hanya burung yang tersisa. Banjir menghabiskan segalanya, tapi ada satu pohon yang tersisa. Ketika banjir itu reda, mereka mendapatkan satu pohon yang hanya dihuni o…

Tidak Adalah Tidak

Ini tentang hikmah atau pelajaran yang dapat kuambil dari film India yang berjudul PINK. Film yang dibintangi oleh Amita Bachan itu sungguh menamparku sebagai lelaki. Film itu sangat layak bahkan harus ditonton oleh para lelaki yang kerap memandang perempuan sebagai objek dan manusia kelas dua. Setidaknya, ada kebenaran—yang dulu tabu untuk diakui sebagai kebenaran karena status perempuan yang kerap menjadi korban—yang diungkap dengan baik dan sangat dalam. Film itu bercerita tentang tiga perempuan yang harus menghadapi proses peradilan karena salah seorang dari mereka telah membenturkan botol minuman ke seorang pria yang baru mereka kenal. Perempuan biasa ini awalnya pesimis bisa menang di pengadilan. Tapi, berkat jasa seorang pengacara tua yang tidak meminta bayaran, mereka mulai punya harapan. Pasang surut usaha mereka tempuh dengan tangis, tapi berupaya terus jujur. Sampai pada puncak persidangan, film itu malah semakin menarik untuk terus disimak. 'Tidak' bukan sekadar kata…

Mencintai, Bukan Memiliki

Aku Mencintaimu, Bukan Memilikimu. Setelah kupertimbangkan, akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan bahwa kau bukan milikku. Rasanya terlalu mulia dirimu untuk sekadar dimiliki. Sebab kau lebih pantas untuk kucintai. "Memiliki" mungkin punya arti yang baik, namun tetap saja punya makna yang negatif. Kenetralannya justru menempatkanmu pada dua kemungkinan itu. Dan bagiku, kau harus pada tempat yang mulia, di sampingku; setara denganku. Tidak kubiarkan kemungkinan lain menghampirimu. Dan mencintai adalah kata yang tepat untuk maksud baikku. Berbeda halnya jika kau kumiliki. Ya, karena "memiliki" bisa saja membuatku berlaku kasar, semena-mena, dan tidak hormat padamu. "Memiliki" menempatkanmu layaknya barang. Saat kau kunikahi, kau seakan kubeli dari ayah dan ibumu. Mahar menjadi bayaran. Dan pada akhirnya, kau jadi milikku. Sepenuhnya kau harus taat padaku. Bahkan, segala keinginanmu, harus lewat izinku. Tapi, apa iya kau adalah barang? Apa benar kau kube…