PENDAKI LEUSER

Benar itu indah, benar itu adil, benar itu satu, maka, benar itu adalah Tuhan

Cinta dan Rasa Ingin Memiliki

Dalam cinta, rasa ingin memiliki terkadang muncul menjadi bagian darinya. Namun, cinta dan rasa ingin memiliki tetap saja dua hal yang berbeda. Sekalipun seseorang punya dua rasa itu secara bersamaan, tapi tidak lantas menganggapnya sama, terlebih bila ia merendahkan orang-orang yang mampu merelakan/melepaskan sebagai "orang tanpa cinta."
Bahkan, dalam tingkatan tertentu, merelakan bisa jadi lebih tinggi kadar cintanya dibanding rasa ingin memiliki dan tidak bisa melepaskan. Tuhan mengatakan bahwa orang-orang yang beriman itu senantiasa menyadari bahwa semuanya milik Allah dan akan kembali kepadaNya.
Kesadaran demikian adalah istilah lain dari merelakan, bahwa orang-orang yang beriman adalah mereka yang mampu mengikhlaskan apapun yang pergi darinya. Di pihak lain, ia juga meyakini bahwa keadaan demikian boleh jadi lebih baik baginya. Allah pun berkata bahwa apa-apa yang dihapus/diambilNya akan Ia ganti dengan yang lebih baik. Itu sebabnya mengapa keyakinan dan cinta terletak pada kekuatan merelakan, walau terkadang juga terwujud dalam usaha ingin memiliki.
Memiliki dan merelakan dengan begitu dapat kita sebut sebagai bagian dari rasa cinta yang begitu luas cakupannya. Sangkin luasnya, hukuman bisa menjadi bukti dari kecintaan itu. Namun, bagian-bagian itu bukan satu-satunya faktor, dan bukan pula faktor yang menegasikan faktor-faktor lainnya. Artinya, seseorang boleh jadi mencintai dengan merelakan, tapi, tanpa dipungkiri, ada pula yang cintanya justru terletak pada rasa ingin memiliki.
Dan cinta dalam bahasan ini sebenarnya masih bagian kecil dari hakikat cinta itu sendiri, yaitu hanya satu bagiannya saja. Cinta dalam status ini hanya sebatas cinta dua jenis yang berbeda, yaitu antara laki-laki dan wanita. Yang hendak disimpulkan di sini ialah, jangan gegabah menuduh orang lain sebagai manusia tanpa cinta. Sebab, cinta adalah fitrah yang kebetulan di moment idul fitri ini kita harap kembali ada.

Bukti Cinta

Bila kita ditanyai orang, apa bukti cinta itu? Atau pertanyaan spesifiknya, taruhlah seorang gadis yang menanyakan, apa bukti cintamu padaku wahai anak muda? Apa jawabannya? Tentu sulit kita menjawabnya.
Mungkin hanya saya yang kesulitan. Yang pasti, soal demikian berbeda dengan soal-soal dalam masailal yang diajarkan di pengajian-pengajian. Soal-soal masailal itu sudah ada jawabannya dan bisa dihafalkan. Sedangkan bukti cinta, bisakah tuan-tuan menjawabnya?
Dalam tulisan sebelumnya, ketika saya mengutip dan mengedit seperlunya surat Wis (Saman) kepada ayahnya, sedikit banyaknya saya setuju dengan keyakinan semacam itu. Sejauh ini, biarpun banyak orang menulisnya, cinta tetap tak terangkum sepenuhnya oleh kata-kata.
Karena itu, tentu akan semakin sulit menjawab pertanyaan semula; tentang bukti cinta. Sebab, cinta itu sendiri bukan konsep yang bisa dijelaskan begitu saja, justru harus dirasakan. Dan orang-orang yang merasakan cinta, biasanya sulit pula menerangkan perasaannya.
Mungkin, kita butuh seseorang yang pandai membuat tafsir, tentunya juga sedang dirundung gelora cinta. Tapi pertanyaan berikutnya, apakah bisa keadaan itu ada bersamaan? Dikatakan bahwa cinta membuat orang kehilangan logikanya, lantas bagaimana ia menjelaskan?
Maka dari itu, segala penjelasan tentang atau terkait dengan cinta tidak akan mewakili seluruh, tepatnya justru hanya sebagian kecil dari cinta. Dengan begitu, mendasarkan cinta pada satu penjelasan saja akan sangat lemah nilainya.
Pecinta lain akan dengan mudah membantah penjelasan seseorang tentang cinta sekalipun ia dapat pula untuk dibantah. Dari situlah mengapa cinta itu sendiri bukan untuk diklaim, apalagi klaim yang satu menegasikan klaim orang lain.
Cinta, sekalipun ia dekat dan senantiasa ada, tetap harus dicari dan dicapai. Posisi manusia, laki-laki dan perempuan, hanyalah seperti musafir yang berasal dari Cinta, pergi karena Cinta, dan pulang untuk Cinta. Semua gerak gerik mereka adalah dalam rangka mencintai.
Kembali ke persoalan awal, apa bukti cinta itu? Pertanyaan ini akan menjebakmu pada makna cinta itu sendiri. Maka, sebagai pecinta, kau harus mengenali cinta dan hal-hal yang serupa dengannya. Kau dapat bertanya balik, apa definisi cinta yang tuan maksud? Bila dia tidak dapat menjelaskan, maka kau akan punya dua pilihan:
Pertama, tidak menjawab pertanyaan itu. Kedua, menjelaskan definisinya dan menunjukkan bukti cinta padanya. Pilihan kedua tentu sangat berat, terlebih di hadapan wanita, atau wanita di hadapan lelaki. Pertama-tama yang mesti dipahami adalah cinta tidak mendasarkan dirinya pada hukum tertentu, sebagaimana perilaku mendasari dirinya pada hukum, atau bukti pada alat bukti, atau alat bukti pada UU.
Cinta bekerja tidak dengan logika semacam itu. Cinta adalah cinta. Maka apapun tentangnya, termasuk bukti cinta, haruslah berdasarkan cinta itu sendiri. Dengan begitu, kau akan mengutarakan bukti-bukti yang relevan dan diterima oleh cinta. Dan bukti pertama adalah pengakuan suka rela bahwa kau benar mencintai. Pengakuan di bawah paksaan tidak dapat diterima sekalipun ia relevan.
Kedua, kemauan yang diucapkan dengan mantap. Dalam konteks ini tentu adalah kemauan menikahinya. Lantas sebagian orang akan berkata, bukankah itu berarti cinta dikaitkan dengan hukum? Tidak. Sebab kemauan yang menjadi dasar, bukan nikah. Nikah hanya sarana yang dalam sistem kehidupan tentu akan selalu saling terkait satu dengan lainnya.
Ketiga, komitmen akan saling memberi rasa aman, kenyamanan, kasih dan sayang, serta pembagian peran--bukan kewajiban dan hak. Sekalipun kewajiban dan hak tidak dapat dinafikan, maka ia merupakan sudut lain, sedangkan ini adalah sudut tersendiri dari kehidupan, yaitu cinta.
Masih banyak bukti-bukti lain dari cinta itu. Bukti itu sangat terkait dengan konsep dan keadaan yang dialami si pecinta. Bicara diterima tidaknya, ia tergantung pada yang dituju. Tapi, bila saling mencintai, maka bukti yang satu dengan yang lainnya, sekalipun lemah dalam pandangan umum akan tetap diterima. Sebab mereka yang berhak atas cinta mereka.
Sebagian orang mungkin mengira, kiranya tuan mendasarkan beberapa bagian pada ayat-ayat al-Quran. Kita menjawab dugaan itu dengan jujur; ya, sebab al-Quran adalah Kalam Cinta dan bukti cinta Yang Maha Cinta kepada hamba yang dicintainya. Tapi kita menyadari bahwa ayat-ayatNya terbagi menjadi dua; qauliyah dan kauniyah.
Namun demikian, sekali lagi ditegaskan bahwa soal cinta, sekalipun al-Quran sebagai dasarnya, itu hanyalah upaya serius yang dilakukan oleh para pecinta untuk meneguhkan cintanya. Sedangkan penjelasan tentangnya, tetap saja bukan kebenaran (al-Quran) itu sendiri. Sedari awal bahkan sudah dikatakan, lemah kiranya pandangan ini dijadikan dasar.
_______________________________________________________________________________
#Love #BuktiCinta #Cinta #Mahabbah #Hakiki #Keyakinan #Kesejatin#KonsepCinta #KitabCinta #Manusia #Beautiful #Kopi #BacaanMalam#BacaanRingan

Mencari Kesalahan dengan Kesalahan

Bukan karena dia ulama lantas kesaksiannya harus dianggap jujur dan benar. Sebaliknya, karena kesaksiannya yang jujur dan benarlah maka keulamannya kita akui.

Maka, jika benar ia memberi kesaksian palsu, berarti ia sudah berbuat dhzalim dan melanggar syariat Allah. Sebab, Allah berkata, "Qulu qaulan sadida". Nabi pun bersabda, "Orang yang berbohong, bukan umatku".

Nilai di atas dipositifkan karena sifatnya yang universal. Disebut universal karena tanpa ada firman dan hadits di atas pun, berbohong tetap saja keburukan. Hukum kita menetapkan kesaksian palsu itu sebagai tindak pidana.

Artinya, jika benar Ma'ruf Amin memberi kesaksian palsu di persidangan, maka ia mesti diproses dan akhirnya dipidana. Tidak ada istilah karena dia dipandang ulama, maka ia tidak bisa dipidana.

Di samping itu, perlu ditanyakan pula, Ahok tahu dari mana Ma'ruf Amin berbohong? Ahok dan tim kuasa hukumnya tahu dari mana Ma'ruf Amin telponan dengan Susilo Bambang Yudhoyono?
Jika jawabannya adalah penyadapan, jelas Ahok juga bisa dipidana karena melakukannya secara illegal. Menyadap itu seperti mengintip orang lain di kamar mandi atau di ruang privasi lainnya.

Dalam perspektif HAM, jelas perbuatan tersebut melanggar hak privasi orang lain. Nah, tugas hukum (khususnya hukum pidana) melindungi hak tersebut dengan memberi sanksi berupa pidana tertentu terhadap pelanggarnya.

Bukan Menggugat Agama, Apa Lagi Tuhan.


Tulisan ini hanya sekadar mengungkap satu fenomena, dimana agama selalu dijadikan kambing hitam, tameng pelindung, dan topeng yang menutupi kepicikan. Sejak dulu, agama memang disalahgunakan oleh kebanyakan orang.

Penyalahgunaan agama itu kerap kali dilakukan oleh orang yang dipandang paham agama. Ketika suatu kebenaran dibicarakan (misalnya), orang itu malah selalu mengatakan, "Ini firman Tuhan. Beginilah menurut agama," dan ucapan sejenis lainnya.

Tujuannya tak lain agar pandangannya diterima. Agar orang lain tak dapat membantah. Ya, jika mereka membantah tentu akan dianggap membantah agama dan melawan Tuhan. Orang seperti ini mengklaim Tuhan selalu berada di pihaknya.

Sebenarnya bukan agama dan Tuhan yang dibelanya, melainkan dia membela dirinya sendiri dengan membawa-bawa agama dan Tuhan. Coba perhatikan, apakah orang yang berseberangan dengannya adalah orang yang tidak mempercayai agama dan Tuhan? Tidak. Mereka sama-sama beriman.

Untuk membenarkan sikap arogansinya, dalil-dalil agama selalu menjadi pembenar. Mereka berkata, "Nabi membolehkan. Agama mengizinkan". Itu sebabnya anak-anak dipukul, istri disiksa, dan orang lain disakiti hanya karena sedikit perbedaan.

Coba perhatikan. Apakah benar agama demikian? Jika sebegitu buruknya suatu ajaran agama, lantas mengapa masih banyak orang-orang yang mempertahankan agama? Tentu jawabannya tidak. Agama tidak demikian. Agama selalu dipahami sebagai ajaran kasih dan sayang. Agama itu suatu rahmat bagi seru sekalian alam.

Tidak hanya itu, agama terkadang menjadi ladang basah dimana kekayaan dengan mudah didapat. Suatu praktek diada-adakan agar orang mengeluarkan uang dengan tujuan yang mulia kelihatannya. Tapi coba perhatikan. Adakah seremoni-seremoni keagamaan itu tercapai tujuannya?

Tidakkah cukup bukti dimana esensi agama diabaikan padahal begitu banyak perayaan diciptakan? Bukankah saat ingin meningkatkan kecintaan, di situ pula sering terjadi pengkhianatan? Tidakkah kau perhatikan di setiap perayaan itu selalu ada kemubaziran, perintah Tuhan diabaikan, dan sunnah-sunnah Nabi malah dipandang ke-Arab-Araban?

Lantas saat kita protes, mereka menuduh kita sebagai orang yang tidak cinta, tidak suka dengan agama. Ketika suatu pandanan yang menyamakan semua orang kita tawarkan, malah dituduh liberal, feminis, dan dicap dengan label-label negatif lainnya. Pada akhirnya, mereka hanya ingin di atas dengan segala pembenaran.

Nawa el-Sadaawi berkata, "Justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya adalah kepatuhan yang sempurna."

Ini bukan agama menurut pandangannya. Ucapan itu merupakan pandangan seorang perempuan yang ia kisahkan dalam novelnya. Perempuan itu pun tidak memandang agama demikian. Ia hanya menjelaskan apa yang dialaminya. Paman yang paham agama, suaminya yang juga mengerti agama, selalu memperlakukannya demikian rendahnya.

Sekali lagi, ini bukan menggugat agama, apa lagi Tuhan. Hanya orang bodoh yang menggugat pemilik dirinya. Hanya orang gila pula yang menggugat agama; jalan yang memberinya cahaya cinta. Tulisan ini hanya menyoal perilaku dan pandangan orang-orang yang membawa-bawa agama.
Blog ini dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang hak cipta. Diberdayakan oleh Blogger.