Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Itu Investasi

Kali ini saya mencoba mengulas sedikit soal makna belajar sebagai investasi. Sepertinya, perkara ini penting juga disampaikan karena sering terdengar nada sumbang bahkan cibiran kepada orang-orang yang menempuh pendidikan tinggi padahal ekonominya lemah. Bukan hanya saya, beberapa kawan juga merupakan orang yang sederhana hidupnya tapi tinggi pendidikannya. Ada seorang teman yang lama sudah tidak berjumpa, ketika terdengar kabar tentangnya, ia sekarang bekerja sebagai penjual ikan padahal lulusan perguruan tinggi dengan IPK di atas 3. Apakah lantas ia menyesali pendidikannya? Tidak. Orang lain yang sering menyindirnya dengan berbagai sindiran. Emang kenapa jika memiliki pendidikan tinggi tapi menjual ikan? Salah sekiranya kuliah tinggi lalu jadi petani? Apakah harus yang kuliah tinggi bekerja di kantor yang kamu maksudkan? “Apa juga kuliah tinggi”, “Apa juga sarjana”, “Katanya belajar itu investasi”, dan banyak lagi sindiran-sindiran lainnya sering keluar dari mereka yang terlalu seder…
Postingan terbaru

Resmi Jadi Alumni UII

Ketika saya memutuskan melanjutkan studi S2 di Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (PPs FH UII), tentu banyak keraguan di sana. Berbagai pertanyaan bergejolak di kepala. Di antara pertanyaan itu adalah mengenai biaya, "dari mana biaya studi yang lumayan besar itu saya dapat?" Mungkin ada pula yang meragukan apakah saya benar-benar melanjutkan studi atau tidak. Jikapun benar saya melanjutkan studi, apa mungkin saya bisa menyelesaikannya dengan kapasitas dan keuangan yang kurang? Keraguan demi keraguan muncul dalam bentuk pertanyaan. Terus terang, pertanyaan itu justru melemahkan dan menghambat keinginan saya. Tapi, apakah pertanyaan bisa dihambat begitu saja? Tidak. Pertanyaan justru akan terus menghantui sampai jawaban membuatnya sirna. Tapi, jawaban atas pertanyaan tidak selalu hadir dalam bentuk penjelasan. Terkadang, jawaban justru hadir dalam bentuk pertanyaan. Dan pertanyaan yang membuat saya yakin adalah, “Kenapa saya harus ragu?” Ya, mengapa …

Dialog Cinta #2

Dia gadis berpendidikan. Sejak lulus SMA, dia memang tidak akan langsung menikah. Dia lelah dengan realita, baik dalam keluarga maupun masyarakat di desanya. Tapi bukan berarti dia anti sosial. Dia sadar betapa manusia bukan hewan ataupun dewa. Manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Pernyataan ini cukup masuk akal menurutnya. Diapun telah membuktikannya. Di rumah, sehari saja tidak ada orang, papa dan mamanya pergi ke luar kota misalnya, ia pasti akan menghubungi kawan atau tetangganya untuk kemudian memintanya menginap di rumah. Sempat berpikir menghubungi beberapa pria yang ditaksirnya di sekolah. Tapi, dia tidak mau diarak keliling kampung atau dicambuk di depan umum. Itu tentu membuat papa dan mamanya murka semurka-murkanya. Jangankan tidur serumah dengan pria, diantar pulang oleh seorang pria saja nyaris tidak pernah. Sekali ia dibonceng oleh pria, itupun tidak lain adalah sepupunya sendiri. Memang, pernah terlintas pula dipikirannya untuk memacari sepupunya itu. Tapi, me…

Dialog Cinta #1

Setelah lama berteman, kau merasa cocok dan layak menjadi kekasihnya. Menurutmu, dia juga merasakan hal yang sama. Di pagi Minggu, tepat pukul 9.00 kau bertemu dia. Sebenarnya, itu adalah momen rutin kalian. Kau berniat melamarnya. Meski sering berdua, kau belum dan tidak berniat mengajaknya pacaran. Hubungan itu, katamu, jika bukan diikat oleh pertemanan dan persaudaraan, maka ia diikat oleh suatu pernikahan. Tidak ada kata pacaran. Pertemuan itu terjadi. Tapi, dia datang berdua. Pria yang bersamanya nyaris sama denganmu; ganteng, tinggi, sudah bekerja, dan rapi. Sedikit berbeda darimu adalah sisi kerapiannya yang agak formal dan kaku. "Hai!" sapa gadis yang kau kagumi kecerdasannya itu. Sambil mengambil kursi dari meja lain, gadis itu menyilakan pria yang diajaknya duduk, persis di sampingnya atau di depanmu. Jadilah dia, pria yang datang bersamanya, dan tentunya kamu di meja yang sesungguhnya hanya untuk berdua. "Aku suka pojok ini. Lagian, untuk sekadar ngopi, meja keci…

Serdadu Majene: Rina Anggraeni Safia

Sebelum memulai apapun tentangnya,terlebih dahulu aku minta maaf atas dua hal: 1. Keterlambatanku menulis tentang dirinya yang mungkin sudah basi di mata sebagian orang, 2. Terkait isi tulisan ini yang sedikit banyaknya mengandung banyak bully dan fitnah tentang dirinya. Tapi satu hal yang selalu kupastikan ada dalam tulisan ini, yaitu rasa cinta dan sayangku sebagai adik. Ya, terus terang, dia memang lebih tua dariku. Tidak mungkin aku menganggapnya adik, kan? Dialah yang sepantasnya menganggapku adik dan aku menganggapnya sebagai kakak. Mau tidak mau, yang lebih tua harus jadi kakak. Atau tinggal milih, mau jadi ibu, bibi, wawak, atau nenek?
Baiklah, sekarang akan kucerikatan tentang dirinya sejauh ingatanku. Perlu kusampaikan bahwa aku sangat pelupa. Bahkan besok hari apa, aku bisa lupa. Untungnya di HP selalu tertera hari dan tanggal. Kalau tidak, bisa kacau rencana hidupku. Bisa-bisa, ketika usiaku sudah tidak lagi muda, aku malah masih sibuk dengan dunia yang fana. Kenapa malah n…

Islam "Hatta" Pancasila

Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah rentetan penolakan terhadap pendudukan yang dilakukan oleh Belanda dan Jepang. Belanda menjajah lebih lama sekalipun Jepang dikatakan lebih kejam. Perang demi perang telah menewaskan sekian banyak pejuang dan penjajah itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi dari perjuangan itu adalah semangat dan tokoh yang menggerakkannya. Tidak dapat dipungkiri di sini adalah Islam sebagai nafas perjuangan dan sosok Ulama atau sekurangnya pemimpin religius sebagai faktor yang menggalang kekuatan untuk mengusir penjajah kembali ke kampung halamannya. Beberapa tokoh yang masyhur di telinga kita adalah Tgk. Cik Ditiro, Panglima Polem, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, Pangeran Diponegoro, Antasari, dan masih banyak tokoh-tokoh pahlawan kemerdekaan lainnya. Fakta sejarah ini akan sangat terang ketika kita berkaca kepada Aceh. Keistimewaan Aceh diberikan Indonesia tidak lain karena semangat juang masyarak…

Pa'bandangan: Sebuah Tradisi Masyarakat Mandar

Pa'bandangan manu-manuk (pemandangan burung-burung) merupakan tradisi Mandar yang diadakan biasanya 3 tahun sekali. Namun, kali ini pelaksanaan itu sudah sejak 2008 tidak pernah dilakukan lagi.

Pada tradisi ini, masyarakat yang memiliki asal usul yang sama (keturunan) berkumpul dan membuat sapo-sapo (rumah-rumah/gubuk) tempat bermalam, serta membawa hiasan burung yang diukir dari kayu. Pada jam tertentu mereka akan berkeliling beberapa putaran. Rute keliling mengikuti rumah-rumah yang mereka buat, berjejer dan melingkar.


Tidak terlalu jelas informasi yang saya dapat. Yang terkumpul dari hasil bertanya, mereka menyebut bahwa kegiatan bertujuan untuk menolak bala. Bala yang mereka maksud adalah banjir besar yang dulu pernah terjadi di daerah mereka. Kurang lebih begitu katanya. 

Mengapa harus hiasan burung? Nah, ketika itu hanya burung yang tersisa. Banjir menghabiskan segalanya, tapi ada satu pohon yang tersisa. Ketika banjir itu reda, mereka mendapatkan satu pohon yang hanya dihuni o…